51动漫

51动漫 Official Website

Napak Tilas Budaya di Desa Kemloko

sumber: dokumentasi pribadi (kelompok 2)

Blitar, Jawa Timur – Mahasiswa S1 51动漫 (FIB UNAIR) yang tergabung dalam angkatan 2022 telah berhasil melaksanakan Praktik Kuliah Lapangan (PKL) yang berkesan di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, pada Jumat (24/05/2024) dan Sabtu (25/05/2024).

Desa Kemloko, yang dikenal sebagai desa model dengan fokus pada pengembangan pendidikan wisata dan ekowisata berbasis keunggulan lokal, menjadi lokasi yang sangat cocok bagi mahasiswa untuk mempelajari dan menghargai kekayaan budaya lokal seperti Reog Bulkiyo, Genjring, Jaranan, Jidor, Sawunggaling, dan Macapat. Selama Praktik Kuliah Lapangan (PKL), mahasiswa secara khusus meneliti folklor lisan, terutama dalam konteks Tembang Macapat yang terdapat dalam naskah Serat Ambiya yang memuat kisah-kisah nabi dalam budaya Jawa.

Pembacaan lengkap Serat Ambiya dilakukan selama 7 jam penuh, dimulai pukul 20.00 WIB hingga 03.00 WIB dini hari, melalui kesenian tradisional “nembang” Macapat. Sebelum pembacaan dimulai, mahasiswa dan warga desa bersama-sama berdoa, dipimpin oleh budayawan setempat, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Terdapat lima titik lokasi pembacaan Serat Ambiya. Setiap lokasi membaca halaman yang berbeda, sehingga dalam satu malam banyak halaman yang telah dibaca dan didokumentasikan.

Tradisi pembacaan Serat Ambiya ini memiliki sejarah panjang di Desa Kemloko, yang diduga bermula sejak desa ini didirikan oleh nenek moyang yang melarikan diri dari Perang Diponegoro (1825-1830). Pembacaan Serat Ambiya biasanya dilakukan pada acara 渏agong bayi untuk merayakan kelahiran bayi hingga usia tujuh hari. Hal ini bertujuan sebagai perayaan kelahiran bayi serta doa dan harapan untuk bayi yang baru lahir. Serat Ambiya juga dibacakan pada acara-acara khusus lainnya seperti hari jadi desa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tradisi ini memiliki fungsi spiritual dan sosial yang mendalam.

Tradisi pembacaan Serat Ambiya memiliki akar yang dalam dan beragam di Desa Kemloko, turun temurun sejak didirikannya desa pada masa Perang Diponegoro. Penutur seperti Sutrisno dan Nasrudin menerima pembelajaran dari sesama penutur atau guru-guru pada tahun 1980-an, menunjukkan dedikasi tinggi dalam pelestarian tradisi ini. Proses pelestarian Serat Ambiya di Desa Kemloko melibatkan kontribusi para penutur, komunitas seni, dan pemerintah desa. Pelatihan pembacaan Serat Ambiya dilakukan secara rutin, dengan beberapa penutur yang juga membuka rumah mereka untuk orang-orang yang ingin belajar tradisi ini. Pemerintah desa mendukung pelestarian budaya ini melalui alokasi dana untuk pelatihan kesenian dan upaya digitalisasi naskah-naskah kuno.

Kegiatan PKL ini tidak hanya memberikan wawasan tentang tradisi kolektif yang penuh dengan nilai spiritual dan sejarah bagi mahasiswa, tetapi juga mendapat respon positif dari masyarakat Desa Kemloko. Dengan pelestarian yang intensif, diharapkan Serat Ambiya dapat terus diwariskan kepada generasi muda, menjaga keberlangsungan warisan budaya yang kaya akan nilai-nilai moral dan religius.

AKSES CEPAT