Sumber: Dokumen Pribadi/Kelompok 2
Blitar 擬ahasiswa S1 , 51动漫 (FIB UNAIR) angkatan 2022 sukses melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur pada hari Jumat (24/05/2024) dan Sabtu (25/05/2024).
PKL mata kuliah folklor secara masif dilakukan setiap tahun oleh Departemen Prodi, upaya ini dilakukan dengan berbagai pertimbangan yang secara keseluruhan memiliki nilai bagi pihak terkait. Aspek budaya yang diangkat sebagai salah satu kearifan lokal Desa Kemloko adalah pembacaan Serat Anbiya, pembacaan serat dilakukan pada hari Jumat mulai pukul 20.00 WIB hingga sekitar pukul 03.00 WIB dengan objek yang dibagi sesuai kelompok menjadi lima bagian.
Adanya pembacaan Serat Anbiya tersebut masih terus dilakukan oleh warga Desa Kemloko. Menurut Ristriani, 淎nbiya tuh ada setiap bayi baru lahir, Anbiya itu tiga hari atau sampai seminggu tiap malem, disampaikan pula bahwa pembacaan tersebut diyakini masyarakat sebagai tanda bahwa terdapat bayi baru lahir yang kemudian harus 渄ijenguk.
Tradisi pembacaan Serat Anbiya merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat setempat yang telah berlangsung sejak lama. Melalui wawancara, Ristriani menyampaikan bahwa persentase pelaksanaan kearifan lokal ini sebesar 90%, hal tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat masih melakukan upaya dalam menjaga kelestarian kearifan lokal. Suci dalam wawancara mengatakan bahwa dalam menjaga kesepadanan, warga memiliki sifat yang 渆ntengan, sehingga sikap tanggap masyarakat menjadikan diskursus gotong royong yang bersifat positif.
Meski begitu, sangat disayangkan bahwa generasi muda di Desa Kemloko dinilai kurang dalam mengambil peran atas lokalitas budaya pembacaan Serat Anbiya yang seringkali dilantunkan oleh warga laki-laki berusia paruh baya.
Serat Anbiya berisikan tembang macapat yang menceritakan kisah para nabi. Pembacaan dipimpin oleh sesepuh desa, dikenal sebagai dalang yang memiliki suara merdu dan penuh penghayatan. Pembawaan mereka tentang kisah para nabi dikemas melalui cara yang menarik serta mudah dipahami adalah keunikan dari budaya lokal tersebut.
Pembacaan Serat Anbiya di Desa Kemloko merupakan salah satu contoh tradisi yang perlu dilestarikan, hal ini dikarenakan terdapat nilai-nilai luhur yang bisa membantu kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. Tradisi tersebut bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga wadah bertukar pikiran atau diskusi bagi masyarakat. Dengan demikian, selain sebagai warisan budaya yang berharga juga memperkuat rasa persatuan sekaligus kebersamaan.
Kesepadanan dalam bermasyarakat terlihat dari bagaimana warga turut bersuka cita menyambut mahasiswa PKL beserta dosen dan jajarannya. Lantunan doa dibacakan oleh sesepuh sebagai budaya yang dilakukan sebelum pelaksanaan pembacaan Serat Anbiya, juga menjadi kesepadanan atas apa yang disemogakan kepada seluruh elemen. Doa dihaturkan dengan bahasa Jawa Krama oleh sesepuh desa sebagai tanda dimulainya pembacaan serat.
Kesepadanan yang terbentuk beserta diskursus dinamika warga dalam masyarakat Desa Kemloko, seyogyanya tidak hanya terbentuk dengan kegiatan pembacaan Serat Anbiya. Namun, keselarasan maupun keharmonisan dari, dalam, dan oleh masyarakat yang kemudian turut berperan aktif menciptakan keseimbangan yang patut untuk dipertahankan hingga kearifan lokal tetap lestari.




