FIB NEWS Program Studi (Prodi) , 51 (FIB UNAIR) menyelenggarakan Seminar Nasional bertema Tradisi Lokal untuk Meningkatkan dan Menjaga Karakter Bangsa di Era Digital. Acara ini berlangsung pada Selasa (23/9/2025) di Ruang Majapahit Tower ASEEC dan dihadiri oleh akademisi, mahasiswa, serta praktisi.
Dalam kesempatan ini, salah satu narasumber, Dr. Puji Retno Hardiningtyas, S.S., M.Hum. dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, menyampaikan materi mengenai Kebijakan dan Regulasi untuk Pelestarian Tradisi Lokal di Era Digital. Ia menjelaskan peran penting Badan Bahasa dalam pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa serta sastra, sebagaimana diamanatkan Perpres Nomor 188 Tahun 2024 tentang Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Pemetaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Nusantara
Dr. Puji menekankan pentingnya penyusunan Peta Kebinekaan Bahasa dan Sastra. Pemetaan ini mencakup tiga aspek, yaitu bahasa, sastra, dan aksara Nusantara. Tujuannya tidak hanya untuk memverifikasi data bahasa daerah yang sebelumnya dipetakan pada tahun 1990-an, tetapi juga memperbarui informasi terkait bahasa baru di wilayah Indonesia Timur.
UNESCO mencatat hampir 200 bahasa daerah di dunia, termasuk Indonesia, telah punah dalam 30 tahun terakhir. Oleh karena itu, pemetaan sastra juga menjadi langkah penting untuk mengenalkan khazanah sastra daerah sekaligus menguatkan nilai-nilai budaya lokal. Selain itu, pemetaan aksara Nusantara diharapkan mampu memperkenalkan kembali keragaman aksara tradisional kepada generasi muda sebagai bagian dari pendidikan sejarah dan budaya.
Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI)
Seminar ini juga membahas penyelenggaraan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) di tingkat provinsi dan nasional. Kegiatan ini menjadi ajang apresiasi bagi peserta didik yang berkompetisi dalam bidang mendongeng, membaca puisi, menulis cerpen, hingga tembang tradisi. Pemenang festival bahkan mendapat apresiasi dalam Sistem Manajemen Talenta Nasional sejajar dengan prestasi di bidang olahraga, sains, dan seni.
Dukungan Pemerintah untuk Pelestarian Bahasa dan Sastra
Dr. Puji turut menyoroti peran komunitas pelestari bahasa dan sastra daerah. Pemerintah memberikan bantuan berupa fasilitasi kegiatan hingga Rp150 juta untuk komunitas, serta apresiasi sebesar Rp30 juta bagi individu yang berkomitmen tinggi terhadap pelestarian budaya lokal. Program ini bertujuan memperkuat kinerja komunitas sekaligus menjaga akuntabilitas publik.
Revitalisasi Tradisi Lisan dan Sastra Lisan
Tradisi lisan yang merupakan warisan budaya takbenda juga dibahas dalam seminar ini. Menurut Dr. Puji, tradisi lisan bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi peristiwa sosial budaya yang terus mengalami transformasi. Agar tetap relevan, tradisi lisan dan sastra lisan perlu diwariskan secara berkelanjutan kepada generasi muda melalui pendidikan, sanggar budaya, dan kerja sama antar lembaga.
Ia menambahkan bahwa pelestarian tradisi tidak berarti membekukan dalam bentuk lama, melainkan menyesuaikan dengan dinamika zaman. Salah satunya melalui pemodernan sastra dengan produk kreatif seperti 32 film animasi legenda Indonesia yang diproduksi Badan Bahasa bersama profesional di bidang animasi dan pendidikan vokasi.
Menjaga Karakter Bangsa di Era Digital
Melalui seminar ini, Prodi Magister Ilmu Linguistik FIB UNAIR berupaya mendorong kesadaran pentingnya pelestarian tradisi lokal. Tradisi, bahasa, dan sastra tidak hanya menjadi bagian dari identitas bangsa, tetapi juga modal berharga dalam membangun karakter bangsa di tengah tantangan globalisasi dan era digital.
Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.




