51

51 Official Website

Peran Bahasa sebagai Sumber Pengetahuan Lokal

FIB NEWS , 51 (FIB UNAIR) kembali menyelenggarakan Seminar Nasional pada Selasa (23/9/2025) di Ruang Majapahit Tower ASEEC. Seminar kali ini mengangkat tema Tradisi Lokal untuk Meningkatkan dan Menjaga Karakter Bangsa di Era Digital dengan menghadirkan sejumlah pakar di bidang linguistik dan budaya.

Salah satu pembicara utama, Prof. Dr. Suhandano, memaparkan materi berjudul Bahasa sebagai Sumber Data dalam Studi Pengetahuan Lokal. Ia menegaskan bahwa bahasa memiliki peran sentral dalam merekam, menyimpan, sekaligus mewariskan pengetahuan lokal yang lahir dari pengalaman kolektif masyarakat.

Linguistik dan Pengetahuan Lokal

Dalam paparannya, Prof. Suhandano menjelaskan bahwa linguistik merupakan studi ilmiah mengenai bahasa yang dapat dikaji dari berbagai cabang, mulai dari fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, hingga sosiolinguistik dan linguistik antropologis. Secara khusus, linguistik antropologis memandang bahasa dalam konteks sosial budaya penuturnya. Melalui bahasa, kita dapat mengungkap makna tersembunyi dari cara sebuah komunitas hidup, berpikir, dan berinteraksi dengan lingkungannya, jelasnya.

Pengetahuan lokal atau local knowledge menurutnya mencakup berbagai aspek, mulai dari lingkungan, tumbuhan, binatang, iklim, hingga pengobatan tradisional. Pengetahuan ini lahir dari adaptasi masyarakat terhadap lingkungannya dan diwariskan secara turun-temurun.

Bahasa Sebagai Cermin Kehidupan Masyarakat

Bahasa, menurut Prof. Suhandano, sangat erat kaitannya dengan cara masyarakat memahami realitas. Ia mencontohkan bagaimana masyarakat Jawa memiliki kosakata khusus untuk menjelaskan musim. Tidak hanya membedakan musim hujan (rendheng) dan musim kemarau (ketigo), masyarakat Jawa juga mengenal sistem pranata mangsa yang lebih rinci, seperti kasa, karo, hingga katelu, dengan deskripsi alam yang khas pada setiap musimnya.

Lebih jauh, bahasa juga merekam nilai-nilai kearifan lokal. Ungkapan seperti uwit angker dalam bahasa Jawa, misalnya, berfungsi menjaga kelestarian pohon tertentu karena dianggap sakral. Padahal secara ekologis, hal ini juga menjadi cara tradisional masyarakat untuk melestarikan keanekaragaman hayati.

Unit Analisis Pengetahuan Lokal

Prof. Suhandano menegaskan bahwa bahasa dapat dijadikan sumber data penelitian untuk mengungkap pengetahuan lokal melalui berbagai unit analisis seperti kata, istilah, ungkapan, hingga metafora tradisional. Jenis pengetahuan lokal yang dapat digali pun beragam, mulai dari etnobotani, etnozoologi, etnomedicine, etnoarsitektur, hingga etnofilosofi dan etnoekonomi.

Relevansi Pengetahuan Lokal di Era Digital

Menutup sesinya, Prof. Suhandano menekankan pentingnya menjaga relevansi pengetahuan lokal di tengah arus globalisasi. Meskipun masyarakat kini berorientasi pada sains modern, studi mengenai etnosains tetap penting. Paduan antara sains dan pengetahuan lokal diyakini mampu memberikan solusi yang lebih holistik terhadap berbagai permasalahan kehidupan.

Dengan adanya seminar ini, Prodi Magister Ilmu Linguistik FIB UNAIR diharapkan mampu memperkuat penelitian berbasis tradisi lokal dan mendorong mahasiswa untuk lebih peka terhadap kekayaan bahasa serta budaya Nusantara. Seminar ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.

AKSES CEPAT