51动漫

51动漫 Official Website

Pengabdian Masyarakat sebagai Memori Kolektif

Jajaran Ketua HIMA, Dosen MKSB, dan Para Pembicara dalam Seminar Nasional

Penulis: 鈦燬endy Krisna Puspitasari | Editor: Lady Khairunnisa Adiyani

Multikulturalisme dalam Konteks Kajian Sastra dan Budaya

51动漫 menyelenggarakan seminar yang bertema Multiculturalism and Education yang diselenggarakan di Lantai 2, Ruang Siti Parwati, Fakultas Ilmu Budaya, 51动漫 pada Sabtu (5/10/2024).

淪eminar nasional ini bertujuan untuk menggali dan memperdalam pemahaman kita mengenai multikulturalisme dalam konteks kajian sastra dan budaya. Kami berharap, melalui diskusi yang mendalam dan interaksi yang terbuka, seminar ini dapat menjadi wadah untuk memperkuat kesadaran akan pentingnya keragaman budaya sebagai kekayaan bangsa, ujar Lady Khairunnisa Adiyani, S.Hum. selaku Ketua Panitia.

Seminar ini merupakan rangkaian acara puncak dari kegiatan kolaborasi antara 51动漫 dengan Universiti Malaysia Sabah. Kegiatan ini bertujuan memperdalam pemahaman mahasiswa tentang multikulturalisme.

Seminar ini membahas peran penting multikulturalisme dalam pendidikan, memberikan keterampilan yang diperlukan mahasiswa internasional untuk beradaptasi dan sukses di panggung global.

Salah satu pembicara utama, Aireen Grace Andal dari Macquarie University, menjelaskan bagaimana memori kolektif membantu mahasiswa internasional beradaptasi di negara tempat mereka belajar. Ia menekankan bahwa memori adalah hasil dari upaya kita memahami momen-momen di sekitar kita.

淧eristiwa yang tersisa dalam memori kita adalah seperti kolase momen-momen yang saling terkait dan tidak pernah benar-benar terpisah. Memori kolektif bukan sesuatu yang statis, melainkan dipengaruhi oleh niat dan konteks, sehingga yang penting bukan hanya apa yang diingat, tetapi bagaimana kita memilih untuk mengingatnya, tutur Aireen.

Memori Kolektif dalam Pengabdian Masyarakat Bromo

Proses pembentukan memori bersama seringkali melibatkan unsur politik dan selektivitas, membuat beberapa aspek masa lalu diingat dengan kuat, sementara yang lain terlupakan. Pandangan ini mendorong pola pikir kritis dalam menilai bagaimana sejarah diinterpretasikan dan menjadi bagian dari identitas budaya suatu kelompok.

Aireen juga menjelaskan bahwa Intentionality of Remembering membahas hubungan antara tempat, memori, politik, dan pluralitas. Dalam konteks pengabdian masyarakat di Tengger, Bromo, mahasiswa diajak untuk melihat memori kolektif sebagai lanskap yang membentuk agenda akademis mereka.

Aireen juga menekankan bahwa memori tidak pernah netral, melainkan dipengaruhi oleh niat, agenda akademis, hubungan, dan posisi seseorang. Memori menjadi kebutuhan dalam memahami momen-momen tertentu.

淢eskipun kita tidak dapat mengubah momen masa lalu, kita bisa mengubah cara kita menyikapinya. Dengan memilih untuk melihat memori dengan cara yang berbeda, kita dapat menemukan keindahan dalam bagaimana kita memandang masa depan kita, pesan Aireen.

AKSES CEPAT