FIB NEWS , , 51 (FIB UNAIR) menyelenggarakan kuliah tamu dengan topik Difficult Ethnography pada Jumat, 12 September 2025. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Chairil Anwar dengan menghadirkan dua narasumber internasional, yakni Hamzah Bin Muzaini dari National University of Singapore (NUS) serta Aireen Gracen Andal, fellow dari International Institute for Asian Studies (IIAS).
Kuliah tamu ini diselenggarakan sebagai bagian dari pengayaan wawasan akademik mahasiswa, khususnya terkait metodologi etnografi dalam penelitian ilmu humaniora. Tema Difficult Ethnography dipilih karena menyoroti tantangan yang kerap muncul saat peneliti berhadapan dengan isu-isu sensitif, termasuk fenomena yang dianggap tabu seperti cerita tentang hantu (ghosts).
Hantu dalam Perspektif Etnografi
Dalam pemaparannya, Hamzah Bin Muzaini menjelaskan bahwa hantu tidak selalu merujuk pada makhluk gaib dalam pengertian tradisional. Menurutnya, hantu juga bisa dimaknai sebagai metafora atas memori kolektif, pengalaman traumatis, atau peristiwa sulit yang masih membekas dalam masyarakat.
Hantu dapat menjadi cara untuk memahami fenomena sosial, bahkan bisa menjadi pintu masuk untuk membicarakan masa lalu yang sulit diungkap, jelas Hamzah. Ia menekankan bahwa peneliti tidak boleh serta-merta menolak atau mengabaikan cerita tentang hantu, karena hal tersebut bisa mengandung data etnografis yang berharga.
Hamzah juga menguraikan tiga modalitas dalam etnografi yang berkaitan dengan hantu, yaitu: meneliti hantu secara langsung di lokasi yang dianggap angker, mendengarkan cerita hantu dari narasumber, dan mengalami sendiri fenomena gaib ketika melakukan penelitian lapangan.
Tips Menghadapi Difficult Ethnographies
Lebih lanjut, Hamzah memberikan sejumlah panduan bagi peneliti yang berhadapan dengan fenomena semacam ini. Pertama, peneliti harus selalu berpikiran terbuka dan tidak menghakimi cerita yang disampaikan masyarakat. Kedua, penting untuk bersikap sensitif terhadap konteks budaya, politik, dan agama setempat karena tidak semua orang nyaman membicarakan kisah hantu.
Selain itu, ia menekankan pentingnya melakukan triangulasi data untuk memastikan keakuratan cerita, serta menjadikan kisah-kisah tersebut sebagai bahan refleksi dalam memahami dinamika masyarakat. Jangan panik ketika berhadapan dengan pengalaman gaib. Tidak semua hantu bersifat jahat tambahnya.
Hamzah juga mengingatkan agar peneliti tidak memasuki lokasi yang dianggap angker seorang diri. Kehati-hatian, kesadaran situasional, dan keterbukaan dialog dengan masyarakat lokal menjadi kunci keberhasilan penelitian etnografi yang melibatkan isu-isu sensitif.
Penutup
Kuliah tamu ini mendapat perhatian besar dari mahasiswa dan sivitas akademika FIB UNAIR. Diskusi seputar Difficult Ethnography membuka perspektif baru bahwa penelitian etnografi tidak hanya berkaitan dengan data empiris, tetapi juga menyangkut cara memahami pengalaman sosial, budaya, dan memori kolektif masyarakat.
Melalui kegiatan ini, FIB UNAIR terus berkomitmen menghadirkan ruang akademik yang mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, sensitif, serta adaptif terhadap tantangan penelitian di bidang humaniora, baik di tingkat nasional maupun internasional. Kegiatan ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.




