FIB NEWS “ (MKSB), , 51¶¯Âþ (FIB UNAIR) menyelenggarakan Workshop Narrative Cartography pada Senin, 8 September 2025. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Chairil Anwar dan menghadirkan pembicara tamu, Aireen Grace Andal, Ph.D., seorang fellow dari Airlangga Institute of Indian Ocean Crossroads (AIIOC).
Workshop ini mengajak peserta untuk memahami konsep narrative cartography atau pemetaan naratif dengan memanfaatkan teknologi ArcGIS dalam penelitian di bidang humaniora.
Kekuatan Cerita dalam Penelitian
Dalam pemaparannya, Aireen menekankan bahwa manusia pada dasarnya adalah pencerita. Cerita, menurutnya, muncul secara alami dari pikiran manusia, sebagaimana napas yang keluar dari bibir. œKita tidak harus menjadi jenius untuk bisa bercerita. Semua orang sudah melakukannya. Kuncinya adalah memahami bagaimana pikiran bekerja, sehingga kita bisa menyampaikan cerita dengan lebih baik, ungkapnya.
Ia juga menambahkan, melalui cerita, para peneliti di bidang humaniora dapat menjelaskan fenomena, pengalaman kolektif, maupun memori sosial dengan cara yang lebih mendalam.
Pemetaan, Data Spasial, dan ArcGIS
Aireen menjelaskan dasar-dasar Geographic Information System (GIS), yakni sistem yang mampu mengumpulkan, menyimpan, menganalisis, menginterpretasikan, dan memvisualisasikan data spasial. Data spasial sendiri merepresentasikan fitur geografis yang berkaitan dengan lokasi nyata di dunia.
Namun, peta bukanlah representasi mutlak dari realitas. Menurut Aireen, setiap peta adalah bentuk distorsi karena selalu ada kompromi dan keputusan subjektif peneliti dalam memilih cara merepresentasikan data.
Di sinilah peran ArcGIS hadir. Platform berbasis cloud ini dikembangkan oleh StoryMaps Team dari Environmental Systems Research Institute (Esri). ArcGIS StoryMaps memungkinkan peneliti menggabungkan teks, foto, video, dan peta interaktif untuk membangun narasi yang informatif sekaligus inspiratif.
œJika Anda hanya membuka peta ketika tersesat, maka Anda kehilangan banyak pengalaman menarik, kutip Aireen dari Ken Jennings dalam bukunya Maphead.
Studi Kasus: Memori Kolektif di Tengger
Sebagai contoh penerapan, Aireen mengangkat penelitian tentang memoryscapes di Tengger. Studi ini menyoroti memori kolektif masyarakat dalam menghadapi trauma akibat proyek pembangunan. Mengacu pada teori Till (2012) dan Anguelovski (2013), Aireen menjelaskan bahwa memori kolektif dapat sekaligus menjadi luka maupun sarana penyembuhan sosial.
Ia juga menyinggung konsep generative memorialisation yang dikemukakan Sheehan (2019). Menurutnya, kenangan bukanlah sesuatu yang statis, melainkan terus berkembang. Dengan demikian, memori dapat direka ulang untuk mendorong pemulihan budaya serta memperkuat solidaritas masyarakat.
Penutup
Melalui Workshop Narrative Cartography ini, mahasiswa dan peserta diajak untuk melihat bagaimana peta dan cerita dapat bersinergi. Tidak hanya sebagai alat visualisasi, tetapi juga sebagai medium untuk menyuarakan pengalaman manusia, membangun kesadaran sosial, serta menawarkan cara pandang baru dalam penelitian humaniora.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya FIB UNAIR dalam memperluas wawasan akademik dan metodologi penelitian, terutama bagi mahasiswa Program Magister Kajian Sastra dan Budaya, agar lebih adaptif dalam menghadapi perkembangan ilmu dan teknologi. Kegiatan ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.




