51动漫

51动漫 Official Website

Prof. Agus Suwignyo: Metodologi Provenance bersifat Interdisipliner

FIB NEWS – , 51动漫 (FIB UNAIR) menyelenggarakan Seminar Internasional bertajuk Studi Kritis tentang Provenance, Sejarah, dan Warisan Budaya. Acara ini dilaksanakan pada 23 Juni 2025 di Ruang Majapahit, Tower ASEEC Kampus B UNAIR. Seminar tersebut terselenggara atas kerja sama FIB UNAIR dengan Universitas Hasanuddin, Universitas Andalas, PPSI, dan PPPK. Kegiatan ini menghadirkan pembicara dari berbagai universitas terkemuka di dalam dan luar negeri.

Salah satu pemateri, Prof. Agus Suwignyo, membuka paparannya dengan pendekatan yang menarik. Ia memulai penjelasan melalui dua film populer, The Sisterhood of the Traveling Pants dan Sahara. Kedua film itu menggambarkan bagaimana suatu objek fisik攕eperti celana jeans atau koin kuno攄apat menjadi pemicu perjalanan panjang, petualangan, serta kisah yang kompleks. Dari contoh ini, Prof. Agus menekankan pentingnya studi provenance, yaitu kajian mengenai asal-usul, perjalanan, dan makna sebuah objek dalam konteks sejarah maupun budaya.

Dalam pemaparan lebih lanjut, Prof. Agus menjelaskan perbedaan mendasar antara provenance studies dengan kajian sejarah konvensional. Ia menekankan bahwa provenance studies selalu dimulai dari objek fisik tertentu, sementara studi sejarah dapat mencakup gagasan, peristiwa, atau tokoh. Selain itu, metodologi provenance bersifat interdisipliner. Tidak hanya menggunakan metode sejarah, kajian ini juga memanfaatkan pendekatan arkeologi, antropologi, kajian memori, hingga kajian arsip.

Menurut Prof. Agus, ada empat fase perkembangan penting dalam sejarah provenance studies. Tahap pertama berkaitan dengan kajian manuskrip kuno, seperti proses verifikasi kitab suci pada Konsili Nisea abad ke-4. Fase kedua muncul dalam dunia seni rupa, terutama untuk memastikan keaslian karya seni yang sering dipalsukan atau dicuri. Fase ketiga berkembang dalam rekonstruksi arkeologis, misalnya saat restorasi bangunan bersejarah seperti Katedral Notre-Dame di Paris yang memerlukan riset mendalam mengenai bahan bangunan aslinya. Fase keempat berkaitan erat dengan proses dekolonisasi, di mana negara-negara bekas jajahan menuntut pengembalian benda budaya mereka.

Menanggapi pertanyaan mengenai masa depan provenance studies, Prof. Agus mengungkapkan bahwa era digital dan kecerdasan buatan membuat kajian ini semakin penting. Salah satu tantangan masa depan adalah verifikasi data provenance, yakni memastikan keaslian dan jalur distribusi data digital yang kini semakin kompleks. Selain itu, kemunculan karya seni yang dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan juga memicu perdebatan baru mengenai otentisitas.

Dalam sesi diskusi, Prof. Agus juga menyinggung wacana pembukaan program studi khusus provenance. Namun, ia mengingatkan perlunya kajian yang matang, karena beberapa universitas di Eropa sempat menutup program serupa akibat minimnya peminat dan tumpang tindih dengan disiplin lain. Sebagai alternatif, provenance studies dapat dikembangkan sebagai peminatan khusus dalam program studi Sejarah atau Arkeologi.

Seminar internasional ini tidak hanya memperkaya wawasan akademik, tetapi juga membuka ruang refleksi mendalam mengenai pentingnya memahami asal-usul benda budaya. Dengan semakin maraknya isu pengembalian artefak kolonial dan kemajuan teknologi informasi, kajian provenance diprediksi menjadi bidang yang semakin relevan dalam upaya pelestarian sejarah dan warisan budaya Indonesia.

Seminar ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.

AKSES CEPAT