51动漫

51动漫 Official Website

Sejarawan UNAIR Kritisi Kurangnya Kesadaran Sejarah

FIB NEWS51动漫 (FIB UNAIR) bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin, Universitas Andalas, PPSI, dan PPPK, menyelenggarakan Seminar Internasional bertajuk Studi Kritis tentang Provenance, Sejarah, dan Warisan Budaya. Kegiatan akademik ini berlangsung pada 23 Juni 2025 di Ruang Majapahit, Tower ASEEC Kampus B UNAIR. Seminar tersebut menghadirkan pembicara dari berbagai universitas ternama di dalam dan luar negeri.

Salah satu pemateri, Dr. Johny Alfian Khusyairi, memaparkan pandangan kritisnya mengenai isu repatriasi artefak sejarah ke Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa Indonesia bukan satu-satunya negara yang menerima pengembalian benda budaya. Negara seperti Thailand, Kamboja, Benin, hingga Irak juga memperoleh repatriasi artefak dari negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Repatriasi ini, menurut Dr. Johny, tidak terlepas dari persoalan politik pengakuan masa kolonial dan keterbatasan anggaran negara asal artefak.

Sejak 2022 hingga 2024, Indonesia menerima lebih dari 800 artefak, terutama dari Belanda. Sebelumnya, sekitar 1.500 artefak juga telah dikembalikan, salah satunya berasal dari Museum Clingenbosch yang tutup di Belanda. Namun, pengembalian tersebut membawa tantangan baru, khususnya terkait perawatan, penyimpanan, dan narasi sejarah yang mengiringi benda-benda bersejarah itu. Dr. Johny menekankan pentingnya membangun pemahaman kolektif masyarakat Indonesia terhadap warisan budaya, agar artefak tidak sekadar menjadi barang pameran tanpa makna.

Selain itu, ia menceritakan pengalamannya melihat miniatur Candi Borobudur yang tersimpan di sebuah kastil kecil di Prancis. Hal ini menunjukkan bahwa jejak budaya Indonesia tersebar di banyak tempat, tidak hanya di museum besar dunia. Dr. Johny juga mengkritisi kurangnya kesadaran sejarah di masyarakat Indonesia. Menurutnya, masih banyak situs bersejarah di tanah air yang tidak terawat dengan baik, berbeda dengan negara lain yang secara konsisten merawat monumen dan benda bersejarah.

Dalam sesi tersebut, Dr. Johny menegaskan bahwa keberhasilan repatriasi artefak bukan hanya bergantung pada kesiapan lembaga pemerintah, tetapi juga dukungan masyarakat untuk merawat dan mengapresiasi sejarah bangsanya. Ia berharap upaya pengembalian benda-benda budaya dapat disertai dengan penyusunan narasi sejarah yang komprehensif, agar warisan leluhur tidak kehilangan konteks maknanya.

Seminar internasional ini menjadi momentum penting bagi civitas akademika untuk mendiskusikan tantangan pengelolaan warisan budaya, sekaligus memperkuat peran Indonesia sebagai negara yang kaya akan sejarah dan kebudayaan. Seminar ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.

AKSES CEPAT