Fenomena quiet quitting攜akni ketika dosen atau karyawan hanya bekerja sebatas memenuhi tugas minimum tanpa keterlibatan emosional攕emakin menjadi perhatian serius di dunia akademik. Situasi ini dapat mengancam produktivitas institusi pendidikan tinggi jika tidak segera ditangani.
Menjawab tantangan ini, Dr. Fiona Niska Dinda Nadia, S.M., M.SM., Ketua Unit Pengembang Publikasi Ilmiah Sekolah Pascasarjana 51动漫 (SPS UNAIR), mempresentasikan solusi potensial dalam ajang Asia Academy of Management Journal Conference (AOM) 2025 yang diselenggarakan di Thailand pada 1821 Juni 2025.
Studi Kolaboratif UNAIR UNESA: Beban Kerja & Kepemimpinan
Studi kolaboratif antara 51动漫 dan Universitas Negeri Surabaya mengungkap bahwa beban kerja berlebih menjadi salah satu pemicu utama kelelahan emosional (emotional exhaustion) yang akhirnya mendorong munculnya perilaku quiet quitting. Namun demikian, studi tersebut juga menunjukkan bahwa kepemimpinan rendah hati (humble leadership) dapat menjadi kunci untuk memoderasi efek negatif tersebut.
Kepemimpinan yang mengedepankan kerendahan hati, keterbukaan terhadap kritik, serta apresiasi terhadap kontribusi individu terbukti mampu meredam dampak psikologis dari beban kerja tinggi. Model kepemimpinan ini bukan hanya membangun hubungan yang sehat antara pimpinan dan staf, tetapi juga mendorong keterlibatan kerja yang lebih bermakna.
淚ni menjadi alarm penting bagi Indonesia untuk memperkuat budaya kerja sehat demi mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin 8, yaitu pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, tegas Nuri Herachwati, salah satu peneliti utama studi tersebut.
Dominasi Data Barat, Pentingnya Perspektif Asia
Temuan ini menjadi sangat relevan karena selama ini mayoritas riset terkait fenomena quiet quitting berasal dari kawasan Amerika Serikat dan Eropa (sekitar 53%), sementara Asia hanya berkontribusi 19%. Studi ini menjadi salah satu dari sedikit kontribusi akademik yang mencoba mengangkat realitas di lingkungan kerja akademik Asia, khususnya Indonesia.
Kolaborasi Internasional: UNAIR, PIM, dan Tokyo Tech
Selain menjadi pembicara, Dr. Fiona juga memanfaatkan momen konferensi untuk memperluas jejaring kolaborasi internasional. Ia menjalin kerja sama awal dengan Panyapiwat Institute of Management (PIM), Thailand, dan perwakilan dari Tokyo Tech University, Jepang untuk menjajaki kemungkinan penelitian dan pertukaran akademik lebih lanjut.
Menuju Transformasi Budaya Akademik 2045
Partisipasi dosen SPS UNAIR dalam forum ilmiah berskala internasional ini menunjukkan komitmen nyata institusi terhadap pembaruan budaya kerja akademik. Dalam konteks menyongsong Visi Indonesia Emas 2045, peran akademisi sebagai pemimpin perubahan sangat krusial攂ukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga empatik, rendah hati, dan adaptif terhadap dinamika zaman.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




