FIB NEWS – Program Studi Magister Ilmu Linguistik, (FIB) 51动漫 (UNAIR) menggelar Seminar Nasional bertajuk 淭radisi Lokal untuk Meningkatkan dan Menjaga Karakter Bangsa di Era Digital. Acara yang berlangsung di Majapahit Hall, ASEEC Tower ini menghadirkan Prof. Dr. Suhandano, M.A., dari Universitas Gadjah Mada sebagai salah satu narasumber. Kegiatan tersebut sukses terselenggarakan pada Selasa (23/9/2025).
Ketua Program Studi (PRODI) Magister Ilmu Linguistik, Prof. Dr. Dra. Ni Wayan Sartini, M.Hum., turut hadir memberi sambutan. Prof Wayan menyoroti pentingnya budaya untuk tetap eksis dan berdampingan dengan derasnya arus teknologi.
淜ita hidup di zaman globalisasi yang mana dunia berada dalam genggaman, informasi berkembang begitu cepat. Teknologi ini memberikan dampak seperti pisau bermata dua pada budaya kita, yakni bisa positif dan negatif, ujarnya.
Prof Wayan menambahkan bahwa seminar nasional ini adalah kesempatan untuk bertukar ide dan bisa menjadi kajian-kajian selanjutnya yang dapat berdampak untuk masyarakat Indonesia.
Etnosains dan Pengetahuan Lokal
Dalam paparannya, Prof Suhandano menjelaskan pengetahuan lokal adalah sebuah pengetahuan tentang berbagai hal seperti lingkungan, tumbuhan, iklim yang ada dalam suatu komunitas atau masyarakat berdasarkan adaptasi pada lingkungan dan menjadi bagian dari tradisi komunitas tersebut. Akademisi dapat melakukan kajian etnosains untuk mempelajari lebih lanjut mengenai pengetahuan lokal yang ada di masyarakat.
淪ebelum masyarakat menerima ilmu sains botani dari barat, mereka sudah punya pengetahuan mengenai tumbuhan sendiri karena interaksi dengan lingkungan yang ada di sekitar mereka. Ini dapat dipelajari melalui etnosains, jelasnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa pengetahuan lokal dapat ditelaah melalui kacamata bahasa khususnya dengan ilmu linguistik. Salah satu cabang ilmu linguistik, yakni linguistik antropologis dapat mencari arti dan makna tersembunyi dalam suatu bahasa.
Penafsiran dalam Pengetahuan Lokal
Prof. Suhandano juga menguraikan bahwa pengetahuan lokal terkadang memerlukan penafsiran lebih lanjut untuk memahami makna yang terkandung di dalamnya. Ia mencontohkan pohon beringin yang sering menjadi hal angker dan mistis oleh masyarakat. Dari sudut pandang ilmiah, sulit membuktikan bahwa sebuah pohon benar-benar berhantu. Oleh karena itu, perlu adanya penafsiran yang lebih mendalam untuk mengungkap alasan di balik kepercayaan tersebut.
淧ohon beringin bermanfaat untuk menjaga ketersediaan air telaga. Jika hanya menghimbau jangan ditebang, tidak akan mempan. Masyarakat tradisional lebih percaya hal yang berbau mistis, label angker pada pohon itu sejatinya untuk melindungi agar terjaga, tuturnya.
Masyarakat dapat menjaga keragaman hayati dan lingkungan dengan menggunakan istilah serta pendekatan budaya yang mereka yakini.
Terakhir, Prof. Suhandano menekankan pentingnya etnosains di era digital. Menurutnya, berbagai persoalan dalam kehidupan bermasyarakat dapat teratasi dengan memadukan ilmu sains dan etnosains.
Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.
Penulis: Pudja Safana Dwi Putri
Editor: Nadia Azahrah Putri




