51动漫

51动漫 Official Website

Seminar Nasional: Penelusuran Awal Bookstagrammer Indonesia

FIB News – , 51动漫 (FIB UNAIR), sukses menggelar Seminar Nasional bertajuk Sastra dan Budaya di Era Digital pada 17 September 2024. Acara yang diselenggarakan di Ruang Majapahit, ASEEC Tower ini menghadirkan beberapa narasumber, salah satunya adalah Dr. Ramayda Akmal, yang membahas topik menarik seputar sastra digital dan fenomena bookstagrammer di Indonesia.

Dalam paparannya yang bertajuk Ruang dan Agen Baru Sastra Digital: Penelusuran Awal terhadap Bookstagrammer Indonesia, Dr. Ramayda mengungkap berbagai aspek terkait sastra digital serta pengaruhnya terhadap budaya sastra modern. Salah satu hal yang disorot adalah perkembangan teknologi komunikasi digital yang tidak hanya mempermudah penyebaran ide dan karya kreatif, tetapi juga merombak relasi antara masyarakat dengan karya sastra.

Teknologi ini memberikan ruang bagi penulis dan pembaca untuk terlibat dalam proses produksi dan konsumsi karya sastra, serta membuka peluang bagi munculnya agen-agen baru dalam dunia sastra. Salah satunya adalah bookstagrammer, kelompok yang menggunakan platform Instagram untuk membahas buku dan karya sastra. Di Indonesia, keberadaan bookstagrammer telah menjadi fenomena yang populer, namun kurang mendapat perhatian dari kalangan akademisi.

Menurut Dr. Ramayda, bookstagram dapat menjadi ruang demokratisasi sastra yang memungkinkan semua orang, termasuk mereka yang ada di pinggir, seperti pengulas sastra perempuan, untuk berkontribusi dan bersuara. Melalui konten yang diunggah, bookstagrammer menciptakan kritik sastra yang bersifat personal, interaktif, dan provokatif. Mereka sering menggunakan kata kunci, jargon, serta kutipan untuk menarik perhatian audiens, berbeda dengan ulasan sastra yang biasa ditemukan di media tradisional.

Fenomena bookstagrammer di Indonesia, menurut Dr. Ramayda, bisa dilihat sebagai bagian dari sastra digital, yang berada di persimpangan antara sastra dan budaya digital. Pengaruh mereka tidak bisa diabaikan, karena mampu meningkatkan pengakuan terhadap sebuah karya sastra di kalangan publik. Selain itu, fenomena ini juga bisa dikaji lebih lanjut melalui berbagai perspektif teori, seperti teori budaya populer, feminisme, dan teori kritis.

Seminar ini memberikan wawasan baru kepada para peserta mengenai bagaimana sastra dan budaya berkembang seiring dengan kemajuan teknologi digital. Kehadiran agen-agen baru seperti bookstagrammer menunjukkan bahwa sastra tidak hanya beradaptasi dengan era digital, tetapi juga berkembang menjadi lebih inklusif dan partisipatif.

Kegiatan seminar nasional ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.

AKSES CEPAT