51动漫

51动漫 Official Website

Sungai dalam Historiografi Indonesia

Surabaya, 6 Juni 2024 – 51动漫 (UNAIR) baru saja mengadakan seminar nasional dengan tema “Sungai, Rempah, dan Jejak Peradaban Indonesia” pada Kamis, 6 Juni 2024. Acara ini berlangsung di Ruang Siti Parwati, FIB UNAIR, dan dimulai pukul 08.00 WIB.

Sungai dalam Historiografi Indonesia

Sungai memiliki peran penting dalam historiografi Indonesia, meskipun sering kali hanya disebutkan secara sepintas dalam narasi sejarah. Dalam seminar ini, Prof. Dr. Nawiyanto membahas perkembangan studi historiografi sungai yang telah maju di dunia Barat, mengutip karya-karya seperti Evenden (2018) dan Schonach (2017). Sungai bukan hanya entitas fisik, tetapi juga dipengaruhi oleh perubahan biofisik, sosial, ekonomi, politik, dan budaya.

Tiga Tema Utama Historiografi Sungai

  1. Bentuk Fisik dan Perilaku Sungai: Karakteristik fisik dan perilaku sungai yang tidak konstan dan dipengaruhi oleh proses fisik serta sosial yang kompleks.
  2. Transformasi Hubungan Manusia dan Sungai: Bagaimana interaksi manusia dengan sungai berubah seiring waktu, mencakup teknologi, pengetahuan, dan proses politik yang memengaruhi tindakan manusia terhadap sungai.
  3. Tema Budaya: Meliputi gagasan, konsep, nilai, dan institusi yang terkait dengan sungai.

Sungai sebagai Fakta Ilustratif

Sungai telah menjadi bagian dari narasi historiografi Indonesia, namun tidak menonjol. Misalnya, sungai sering disebut dalam konteks lokasi peristiwa perang seperti pertempuran di Bengawan Tambakberas antara pasukan Ranggalawe dan Majapahit pada tahun 1295, atau pertempuran di Sungai Cimanuk pada awal abad ke-19.

Sungai dalam Narasi Peradaban

Dalam karya sejarah, sungai sering kali menjadi latar belakang penting dalam narasi pembangunan peradaban. Sungai Brantas dan Bengawan Solo, misalnya, disebut sebagai jalur transportasi utama di Jawa pada abad ke-14 hingga 16, membantu dalam hubungan perdagangan antara pedalaman dan pesisir.

Ekspansi Narasi Sungai

Historiografi ekonomi yang fokus pada sektor pertanian-perkebunan mulai memberikan lebih banyak ruang pada narasi sungai. Sungai dianggap penting dalam proyek irigasi kolonial yang meningkatkan produktivitas pertanian dan perkebunan, seperti yang dijelaskan oleh Van der Eng (1996) dan Nawiyanto (2018).

Sungai sebagai Fokus Historiografi

Kajian lebih baru mulai menempatkan sungai sebagai pusat utama perhatian dalam historiografi. Sungai dipandang sebagai pusat peradaban, sumber bencana, dan elemen lingkungan yang terdegradasi. Penelitian menunjukkan bagaimana sungai seperti Brantas dan Musi berperan penting dalam perkembangan peradaban lokal dan nasional.

Sungai sebagai Sumber Bencana dan Degradasi Lingkungan

Kasus banjir di berbagai kota seperti Jakarta dan Surabaya menunjukkan dampak besar dari perubahan lingkungan dan pengelolaan sungai yang kurang baik. Sungai yang dulu menjadi pusat peradaban kini menghadapi masalah pencemaran dan degradasi lingkungan yang serius, seperti yang diuraikan dalam penelitian Nawiyanto (2020).

Upaya Penyelamatan Sungai

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi pencemaran dan kerusakan sungai, mulai dari pembangunan instalasi pengolahan limbah hingga regulasi penambangan pasir yang berlebihan. Namun, tantangan masih banyak, termasuk masalah ketidaktaatan dan dukungan dari pemodal dan oknum aparat.

Penutup

Seminar nasional ini menyoroti pentingnya sungai dalam historiografi Indonesia dan mengajak para akademisi serta praktisi untuk lebih memperhatikan peran sungai dalam sejarah dan peradaban kita. Dengan kajian yang mendalam, diharapkan dapat ditemukan solusi yang lebih baik untuk mengatasi masalah pencemaran dan degradasi sungai demi keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

AKSES CEPAT