FIB NEWS , (FIB) 51 (UNAIR) menggelar Seminar Nasional bertema Tradisi Lokal untuk Meningkatkan dan Menjaga Karakter Bangsa di Era Digital. Acara ini berlangsung di Ruang Majapahit Tower ASEEC pada 23 September 2025 dan menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang.
Salah satu pemateri utama adalah Prof. Dr. Ni Wayan Sartini, dosen FIB UNAIR, yang membawakan materi berjudul Tumpek Uduh: Tradisi Lokal Bali untuk Menjaga Harmoni dan Karakter Bangsa di Era Digital. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa Bali memiliki kekayaan tradisi yang tidak hanya sekadar warisan, tetapi juga menjadi pedoman hidup masyarakat hingga saat ini.
Makna dan Filosofi Tumpek Uduh
Tumpek Uduh, yang juga dikenal dengan sebutan Tumpek Pengatag atau Tumpek Wariga, dilaksanakan setiap 210 hari sekali pada Saniscara Kliwon Wuku Wariga. Upacara ini merupakan bentuk persembahan khusus untuk tumbuh-tumbuhan dengan tujuan menjaga kesuburan, kelestarian, serta keharmonisan antara manusia dan alam.
Dalam ritualnya, masyarakat Hindu di Bali menghaturkan sesajen pada pohon atau tanaman, lengkap dengan kain suci, benang, dan doa khusus agar pohon dapat tumbuh subur serta berbuah lebat. Upacara ini dipersembahkan kepada Sang Hyang Sangkara, dewa kesuburan dan tumbuhan, yang sekaligus mencerminkan filosofi Tri Hita Karana: hubungan harmonis manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan.
Menurut Prof. Wayan, filosofi Tumpek Uduh tidak hanya menumbuhkan rasa syukur atas hasil bumi, tetapi juga mengajarkan kesadaran ekologis. Tradisi ini mengingatkan manusia untuk tidak sekadar mengeksploitasi alam, melainkan turut merawat dan melestarikannya.
Relevansi di Era Digital
Lebih jauh, Prof. Wayan menekankan bahwa nilai-nilai Tumpek Uduh tetap relevan di era digital. Istilah nged yang berarti berbuah lebat, menjadi metafora agar manusia juga mampu berbuah dalam kehidupan modern melalui karya, kreativitas, dan kontribusi positif.
Tradisi ini bahkan dapat diadaptasi menjadi gerakan lingkungan berbasis digital, seperti kampanye media sosial bertema #TumpekUduhChallenge, pembuatan konten edukatif mengenai konservasi, hingga pengembangan aplikasi kalender Bali untuk mengingatkan generasi muda tentang hari-hari suci adat. Dengan demikian, tradisi lokal tidak hanya lestari, tetapi juga berperan dalam pendidikan karakter dan mendukung agenda global seperti Sustainable Development Goals (SDGs).
Pesan untuk Generasi Muda
Dalam refleksinya, Prof. Sartini menyampaikan bahwa sebagaimana pohon yang memberi tanpa pamrih, manusia pun seharusnya mampu nged atau menghasilkan buah berupa kebaikan, karya, dan kontribusi nyata. Nilai-nilai Tumpek Uduh, katanya, penting untuk ditanamkan pada generasi muda agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang peduli terhadap lingkungan sekaligus bijak memanfaatkan ruang digital.
Perayaan Tumpek Uduh bukan hanya simbol penghormatan pada tumbuhan, melainkan juga pengingat bagi kita semua untuk menghormati alam sebagaimana menghormati orang tua. Dari alam kita belajar arti memberi, merawat, dan berbuah kebaikan bagi sesama, tuturnya.
Melalui seminar ini, diharapkan masyarakat, khususnya generasi muda, semakin menyadari bahwa tradisi lokal seperti Tumpek Uduh memiliki peran penting dalam menjaga harmoni kehidupan, melestarikan lingkungan, dan membentuk karakter bangsa yang kuat di tengah arus globalisasi digital.
Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.




