Potret Wakil Dekan 3 FIB UNAIR Dewi Meyrasyawati, SS, MA, M Hum, Ph D (Scholar Unair)
FIB NEWS – (FIB) 51动漫 (UNAIR) resmi melantik Dewi Meyrasyawati, SS, MA, M Hum, Ph D sebagai Wakil Dekan 3 (Wadek 3). Bidang yang diampu meliputi penelitian, pengabdian kepada masyarakat, inovasi, serta kerja sama. Dalam wawancara bersama FIB News, Beliau menegaskan pentingnya membangun atmosfer akademik sekaligus memperkuat branding fakultas.
Ibu Dewi menuturkan perjalanan akademiknya sejak S1 di Sastra Inggris UNAIR, lalu melanjutkan S2 Applied Linguistics konsentrasi Teaching English for Speakers of Other Languages (TESOL) di Queensland University, Brisbane. Ia kemudian menempuh S2 kedua di Magister Kajian Sastra dan Budaya (MKSB) UNAIR dengan konsentrasi Kajian Budaya, sebelum akhirnya meraih gelar doktoral di Social and Cultural Anthropology, Vrije Universiteit Amsterdam.
Tantangan Publikasi dan Prioritas Bidang 3
Sebagai Wadek 3, Ibu Dewi melihat tantangan utama adalah budaya menulis dan publikasi di kalangan akademisi. “Menulis mungkin sudah biasa, namun publikasi belum membudaya. UNAIR terkenal, tapi belum terkenal banget pada FIB-nya. Jadi kalau bisa juga lebih mengedepankan Digitalisasi terhadap publikasi,” jelasnya.
Beliau menegaskan bahwa produk penelitian harus bisa dipublikasikan sekaligus dimanfaatkan masyarakat. “Apa yang sudah kita teliti, apa yang sudah kita tulis itu kalau bisa disosialisasikan ke masyarakat melalui program pengabdian, dan hasilnya divisualisasikan dan dishare melalui berbagai media sosial, sehingga dapat diduplikasi penerapannya oleh masyarakat secara luas,” ujarnya.
Selain publikasi, Ibu Dewi juga menekankan digitalisasi sebagai salah satu hal mendesak. “Yang paling urgent itu merevitalisasi webnya FIB. Itu yang utama. Kalau nggak digital, berbagai informasi strategis tidak akan nyampe, “ tegasnya.
Karena itu, beliau menekankan perlunya jejaring dan digitalisasi sebagai salah satu hal mendesak. “Kalau tidak dilakukan networking, berhenti di institusi. Akhirnya kita perlu ada kerja sama, baik di dalam negeri maupun di luar negeri,” tambahnya.
Pesan untuk Mahasiswa
Dari sisi pendidikan, Ibu Dewi memberi pesan khusus kepada mahasiswa FIB. “Pahami diri sendiri karena jika sudah tahu tujuan di masa depan, proses belajar akan lebih terarah. Dengan begitu, ketika semangat menurun, mereka akan terdorong kembali untuk bangkit demi rencana masa depan yang telah dibuat,” ungkapnya.
Pada akhir wawancara, Ibu Dewi menegaskan prinsip dan motivasi yang Beliau pegang dalam menjalani peran sehari-hari. “Moto saya ada 3I, yang pertama ibadah, kita memulai hari dengan sholat subuh, lalu yang kedua adalah ikhtiar, kemudian Allah berikan waktu untuk sholat dalam lima waktu, sebagai balancing antara waktu beribadah, ikhtiar, dan beristirahat. Jadi 3I itu Ibadah, Ikhtiar, dan Istirahat,” pungkasnya.
Langkah penguatan branding, digitalisasi, serta kolaborasi lintas institusi yang di dorong oleh Dewi menjadi kontribusi nyata FIB terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya nomor 4, yaitu Quality Education.
Penulis: Tsabita Nuha Zahidah
Editor: Fania Tiara Berliana M




