51动漫

51动漫 Official Website

Dari Klinik ke SDGs: Pengalaman Koas dalam Penanganan Kasus Fraktur dan Panleukopenia pada Kucing

Kami, Tandem 4, memulai kegiatan koasistensi di Divisi Klinik pada tanggal 29 Juli 2025. Program ini berlangsung selama sebelas minggu, terdiri dari dua minggu perkuliahan, delapan minggu praktik di Rumah Sakit Hewan Pendidikan 51动漫, dan satu minggu ujian. Selama kegiatan, saya memperoleh banyak ilmu serta pengalaman berharga yang menambah wawasan dan keterampilan klinis juga mendapat pengalaman mengenai obat – obatan karena menjadi manager obat. Di antara berbagai pengalaman tersebut, terdapat satu peristiwa yang sangat berkesan bagi saya dan akan saya ceritakan pada narasi berikut.

Pada hari Minggu, 31 Agustus 2025, di Rumah Sakit Hewan Pendidikan 51动漫 Surabaya, diterima pasien seekor kucing jantan bernama Jeno, berumur 4 tahun dengan berat badan 4 kg. Pemilik melaporkan bahwa hewan jatuh dari ketinggian 卤7 meter dan sejak saat itu mengalami kelumpuhan pada kedua kaki belakang. Riwayat vaksinasi belum pernah dilakukan, namun kucing telah rutin diberikan obat cacing dan obat ektoparasit.

Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan suhu tubuh, frekuensi pulsus, serta respirasi dalam batas normal. Urinasi berjalan normal, tetapi defekasi tidak terjadi selama satu minggu terakhir. Pemeriksaan mukosa, capillary refill time(CRT), dan turgor masih dalam batas normal. Untuk menunjang diagnosis, dilakukan pemeriksaan radiografi (X-ray), dan dari hasil interpretasi diperoleh adanya fraktur pelvis dexter et sinister. Berdasarkan hasil tersebut, kucing didiagnosis mengalami fraktur sacroiliaca dan dijadwalkan untuk dilakukan tindakan operasi pada hari Selasa, 2 September 2025, pukul 10.00 WIB.

Prosedur operasi dilaksanakan dengan melakukan insisi, pemasangan sekrup, serta penutupan luka menggunakan jahitan matras silang. Pasca operasi, dilakukan perawatan dengan pemberian obat antiinflamasi dosis menurun secara bertahap, injeksi penguat otot, serta terapi tambahan berupa kapsul resep. Pada awal masa pemulihan, kondisi pasien stabil, ditunjukkan dengan nafsu makan dan minum yang baik serta defekasi yang lancar. Namun, pada hari ketiga pasca operasi, suhu tubuh meningkat hingga 40掳C. Kondisi ini segera dilaporkan kepada dokter penanggung jawab, kemudian pasien dipindahkan ke ruang perawatan lain dan diberikan terapi antipiretik.

Setelah perpindahan ruang rawat, di mana pasien ditempatkan bersama anjing dan kucing lain, tampak adanya perubahan perilaku berupa tidak mau makan, minum, serta gangguan istirahat yang diduga akibat stres lingkungan. Berdasarkan saran dokter penanggung jawab, dilakukan pemasangan infus serta upaya peningkatan kenyamanan pasien. Selama masa perawatan, dilakukan pendampingan berupa pemberian pakan secara bertahap, interaksi, aktivitas berjemur, dan stimulasi bermain untuk mendukung pemulihan.

Pada hari Selasa, 9 September 2025, saat dilakukan pemeriksaan rutin pagi hari, kondisi mukosa tampak pucat, CRT > 3 detik dan turgor kulit menurun. Pasien segera dipindahkan ke ruang poli untuk mendapatkan perawatan intensif berupa terapi oksigen dan pemantauan berkelanjutan. Selain itu, diusulkan pemeriksaan hematologi mengingat riwayat vaksinasi yang belum pernah dilakukan serta adanya respon hipersalivasi pasca pemberian obat. Dokter penanggung jawab menyetujui dengan persetujuan pemilik.

Hasil pemeriksaan darah baru diperoleh pada dini hari Rabu, 10 September 2025, sekitar pukul 03.00 WIB, dengan hasil interpretasi mengarah pada susp. virus panleukopenia. Pukul 06.00 WIB, pasien dilaporkan dalam kondisi kritis. Meskipun upaya penanganan intensif telah dilakukan, pada pagi hari yang sama pasien dinyatakan tidak tertolong. Kejadian tersebut menjadi pengalaman bermakna selama pelaksanaan praktik di Rumah Sakit Hewan Pendidikan 51动漫, sekaligus memberikan pelajaran bahwa kondisi klinis dapat berubah secara cepat dan memerlukan kewaspadaan serta penanganan yang tepat.

Pengalaman ini mencerminkan kontribusi terhadap SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui upaya peningkatan kesehatan hewan yang juga berhubungan dengan kesehatan masyarakat, SDG 4 (Quality Education) karena program koas membekali mahasiswa dengan pengalaman klinis nyata berbasis kasus, serta SDG 15 (Life on Land) dengan penekanan pada pentingnya kesejahteraan hewan peliharaan sebagai bagian dari ekosistem kehidupan darat.

Penulis: Vira Tazkiyah Firdaus

AKSES CEPAT