Fakultas Kedokteran Hewan 51动漫 (FKH UNAIR) terus menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan lingkungan kampus yang sehat, aman, dan berwawasan kesejahteraan hewan. Melalui kolaborasi dengan Rumah Sakit Hewan Pendidikan (RSHP) 51动漫, FKH UNAIR menyelenggarakan kegiatan kastrasi dan sterilisasi kucing liar di kawasan kampus sebagai upaya pengendalian populasi sekaligus pencegahan penyakit zoonosis.
Kegiatan kastrasi massal ini dilaksanakan di lingkungan Kampus C 51动漫 dan menjadi bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis ke-54 FKH UNAIR. Program ini menyasar kucing liar yang hidup dan berkembang biak di area kampus, yang selama ini berpotensi menimbulkan permasalahan kesehatan hewan, kesehatan masyarakat, serta kenyamanan civitas academica. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari, mulai 3 hingga 5 Januari 2026, bertempat di Rumah Sakit Hewan 51动漫.

Dekan Fakultas Kedokteran Hewan 51动漫 Prof. Dr, Lilik Maslachah, drh., M.Kes menyampaikan bahwa pengendalian populasi kucing liar melalui pendekatan medis merupakan langkah yang paling efektif, berkelanjutan, dan beretika. Kastrasi dan sterilisasi terbukti mampu menekan laju reproduksi, mengurangi perilaku agresif, serta menurunkan risiko penularan penyakit, baik antarhewan maupun dari hewan ke manusia.
淜ucing liar adalah bagian dari ekosistem kampus yang perlu dikelola dengan bijak. Melalui kastrasi, kami tidak hanya mengendalikan populasi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan hewan dan melindungi kesehatan lingkungan kampus, jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini melibatkan dosen, dokter hewan, paramedis veteriner, mahasiswa FKH UNAIR, serta tim medis dari RSHP UNAIR. Seluruh prosedur dilakukan sesuai standar kedokteran hewan, mulai dari pemeriksaan kesehatan awal, tindakan anestesi, pembedahan kastrasi atau sterilisasi, hingga perawatan pascatindakan. Kucing yang telah menjalani prosedur juga dipantau kondisinya sebelum dilepas kembali ke habitat semula.
Wakil Direktur RSHP 51动漫 Dr. Nusdianto Triakoso, drh., M.Si menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai bagian dari edukasi kepada masyarakat mengenai pengendalian populasi hewan secara bertanggung jawab. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang memandang kucing liar sebagai masalah semata, tanpa memahami solusi jangka panjang yang tepat.
淓dukasi menjadi kunci. Kastrasi bukan tindakan kejam, justru sebaliknya, ini adalah bentuk kepedulian terhadap kesejahteraan hewan dan kesehatan publik. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi contoh bagi lingkungan lain di luar kampus, ujarnya.
Selain aspek kesejahteraan hewan, kegiatan ini juga memiliki peran strategis dalam pencegahan zoonosis. Kucing liar berpotensi menjadi reservoir berbagai penyakit, seperti toksoplasmosis, rabies, dan infeksi parasit lainnya. Dengan pengendalian populasi yang terencana, risiko penyebaran penyakit dapat ditekan secara signifikan.
Bagi mahasiswa FKH UNAIR, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran lapangan yang penting. Mahasiswa terlibat langsung dalam proses penanganan hewan, di bawah supervisi dokter hewan berpengalaman, sehingga dapat mengasah keterampilan klinis, meningkatkan kepekaan terhadap isu kesejahteraan hewan, serta memahami peran dokter hewan dalam konteks kesehatan masyarakat veteriner.
淜egiatan ini sangat relevan dengan kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa kedokteran hewan. Mereka belajar tidak hanya tentang teknik medis, tetapi juga tentang tanggung jawab sosial profesi, ungkap salah satu dosen pembimbing kegiatan.
FKH UNAIR menegaskan bahwa program pengendalian populasi kucing liar ini tidak berhenti pada satu kegiatan saja. Ke depan, FKH UNAIR dan RSH UNAIR berkomitmen untuk melaksanakan program serupa secara berkala, disertai dengan kegiatan edukasi kepada civitas academica dan masyarakat sekitar kampus mengenai pentingnya sterilisasi hewan dan penerapan konsep One Health.
Melalui kegiatan kastrasi massal ini, FKH UNAIR berharap dapat menciptakan lingkungan kampus yang lebih harmonis antara manusia dan hewan, sekaligus memperkuat peran institusi pendidikan tinggi dalam menjawab tantangan kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat secara nyata dan berkelanjutan.
Penulis: Arindita Niatazya Novianti, drh., M.Si




