51动漫

51动漫 Official Website

Dari Tukang Las ke Doktor PSDM UNAIR: Formula Kesejahteraan dan Kinerja di Industri Konstruksi

Di tengah bising mesin dan percikan api las di proyek-proyek konstruksi, wacana peningkatan kualitas sumber daya manusia kerap berhenti pada tataran normatif. Namun, bagi Heru Subiyantoro, dunia kontraktor bukan sekadar urusan beton dan baja, melainkan tentang manusia攂agaimana mereka bekerja, dihargai, dan diberdayakan secara adil.

Berangkat dari pengalaman empirik di industri jasa konstruksi, Heru berhasil merumuskan formula kesejahteraan dan kinerja tenaga kerja lapangan yang mengantarkannya meraih gelar Doktor ke-117 Program Studi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Sekolah Pascasarjana 51动漫 (UNAIR).

Ujian Doktor dan Pencapaian Akademik

Heru resmi dinyatakan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan dalam Sidang Ujian Doktor Terbuka yang digelar di Sekolah Pascasarjana UNAIR, Jumat (2/1/2026). Sidang tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. H. Jusuf Irianto, Drs., M.Com., Wakil Direktur I Sekolah Pascasarjana UNAIR.

Disertasi yang dipertahankan berjudul 淧engaruh Compensation Terhadap Job Performance: Efek Mediasi Job Creativity dan Job Engagement Serta Efek Moderator Labor Skill Status. Penelitian ini dibimbing oleh Dr. Karnaji, S.Sos., M.Si. sebagai Promotor dan Prof. Dr. Fendy Suhariadi, M.T., Psikolog sebagai Co-Promotor.

Paradoks Kreativitas di Dunia Kontraktor

Penelitian Heru melibatkan 223 tenaga kerja konstruksi bersertifikat yang berada di bawah naungan Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (GAPENSI). Temuan utamanya menegaskan bahwa kompensasi yang adil dan sesuai tetap menjadi faktor dominan dalam mendorong kinerja (job performance).

淪emakin adil dan sesuai kompensasi yang diterima, semakin tinggi pula kinerja yang dihasilkan untuk mencapai tujuan perusahaan, ungkap Heru dalam sidangnya.

Temuan ini sejalan dengan Teori Dua Faktor Herzberg, di mana kompensasi sebagai faktor ekstrinsik menjadi fondasi utama kepuasan kerja. Namun, riset ini juga mengungkap paradoks menarik: job creativity dan job engagement belum berfungsi efektif sebagai mediator antara kompensasi dan kinerja di sektor konstruksi.

Hal ini menunjukkan bahwa stimulus finansial semata tidak otomatis melahirkan kreativitas atau keterikatan emosional jika tidak disertai dengan pengelolaan lingkungan kerja yang tepat.

Status Keahlian sebagai Pengungkit Kinerja

Kontribusi penting lain dari disertasi ini adalah temuan mengenai Labor Skill Status. Status keahlian terbukti memperkuat secara signifikan pengaruh kompensasi terhadap kinerja tenaga kerja.

Bagi pekerja konstruksi bersertifikat攜ang secara simbolik kerap disebut sebagai tukang las atau pekerja teknis lapangan攑engakuan atas keahlian yang disertai apresiasi finansial mampu meningkatkan produktivitas secara drastis. Keahlian yang diakui menjadikan pekerja tidak sekadar pelaksana, melainkan aset strategis perusahaan.

Rekomendasi Strategis bagi Industri Konstruksi

Sebagai praktisi sekaligus akademisi, Dr. Heru Subiyantoro, S.T., M.MT., menegaskan bahwa perusahaan konstruksi tidak boleh berhenti pada pemberian upah semata. Ia merekomendasikan beberapa langkah strategis, antara lain:

  • evaluasi berkala terhadap kesenjangan kompetensi tenaga kerja,

  • pemberian otonomi dalam metode kerja,

  • penciptaan komunikasi yang terbuka antara manajemen dan pekerja, serta

  • fasilitasi sertifikasi keahlian bagi tenaga kerja yang belum memiliki pengakuan formal.

Perjalanan Heru dari dunia proyek hingga meraih gelar doktor di UNAIR menjadi bukti bahwa pengembangan SDM nasional harus dimulai dari akar rumput攄ari tangan-tangan terampil di lapangan yang kesejahteraannya perlu dikawal melalui kebijakan berbasis data, empati, dan keadilan.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =

AKSES CEPAT