51动漫

51动漫 Official Website

Hari-Hari Bersama Pasien di Rumah Sakit Hewan UNAIR

Setiap hari di Rumah Sakit Hewan 51动漫 (UNAIR) penuh dengan cerita dan tantangan. Aku bertemu banyak pasien dengan kondisi dan kepribadian yang berbeda-beda,
dari yang penurut hingga yang beringas, dari yang hanya butuh pemantauan hingga yang harus menjalani perawatan intensif.

Browny, anjing Maltipoo betina berbulu cokelat, adalah salah satu pasien yang paling dekat denganku. Awalnya, dia sangat penakut sampai gemetar tiap ada orang datang. Karena itu, dia ditempatkan di ruangan tersendiri seperti kennel agar merasa lebih aman. Aku sering menghabiskan waktu bersamanya di dalam ruangan, mengurung diri berdua dengannya, membiarkan dia perlahan mempercayaiku. Seiring waktu, dia mulai membuka diri, dan sekarang, kalau sudah kenal, Browny berubah menjadi anjing yang sangat manja. Dia selalu antusias setiap kali melihatku dan memasang muka sedih saat aku pergi. Aku juga sudah hafal jadwal makannya: tiga kali sehari攑agi jam 8, sore jam 4, dan malam jam 9.

Makanannya cukup sehat, terdiri dari ubi ungu atau labu, ayam rebus suir, dan wortel, ditambah susu setiap pagi. Berbeda dengan Browny, ada Renji, kucing jantan berbobot 5 kg yang datang untuk kastrasi. Renji memang galak, tapi tidak terlalu ekstrem. Kalau sedang kesal, dia suka menabok siapa saja yang berani mendekatinya. Tapi uniknya, ada saat-saat di mana dia bisa sangat manja, datang sendiri seolah-olah meminta dielus. Saat kastrasi, dia tetap mempertahankan sifat galaknya, tapi untungnya prosedur berjalan lancar. Setelah itu, dia kembali ke
kebiasaannya攎enabok kalau tidak mood dan bermanja-manja kalau ingin diperhatikan. Mui adalah pasien lain yang datang dalam kondisi cukup serius. Dia mengalami FLUTD dan
tidak bisa buang air kecil. Saat pertama kali datang, dia hanya merejan kesakitan. Kami segera memberikan terapi cairan dan obat-obatan untuk membantu melancarkan saluran
kemihnya. Setelah beberapa hari perawatan, akhirnya Mui bisa pipis kembali dengan normal. Poppy adalah pasien yang lebih sulit lagi. Kucing jantan berbobot 6,5 kg ini jauh lebih galak
daripada Renji. Dia tidak segan mencakar dan menggeram kalau ada yang berusaha menyentuhnya. Saat pertama datang, dia sangat sulit diinfus攌aki depan dan belakangdicoba semua, hingga akhirnya berhasil di kaki kanan belakang. Bahkan saat disimpan di kandang, setiap kali ada orang lewat, dia langsung menggeram. Tapi aku tidak menyerah. Aku mencoba mendekatinya dengan cara berdiam diri berdua saja dengannya. Awalnya dia tetap waspada, tapi keesokan harinya, dia mulai mau dipegang. Tidak lama setelah itu, dia bahkan bisa kupangku攎eskipun sambil mengomel.

Terakhir, ada Ucil, kucing jantan yang belum disteril dan datang dalam kondisi belum stabil. Dia mengalami gastroenteritis dengan gejala demam, muntah, dan diare. Saat pertama kali datang, tubuhnya lemas dan tidak mau makan. Aku dan tim langsung memberikan cairan infus serta obat-obatan untuk menstabilkan kondisinya. Perlahan-lahan, kondisinya mulai membaik, dan dia kembali menunjukkan tanda-tanda keaktifan. Setiap pasien memiliki tantangan dan cerita tersendiri. Tapi satu hal yang pasti攎elihat mereka pulih dan bisa kembali ke rumah dengan kondisi lebih baik selalu menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku. Bekerja di Rumah Sakit Hewan UNAIR bukan hanya soal memberikan perawatan medis, tapi juga membangun kepercayaan dengan pasien berbulu ini, memahami mereka, dan memastikan mereka merasa aman serta dicintai.

kegiatan ko-asistensi di RSHP ini mencerminkan beberapa tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam aspek kesejahteraan hewan, kesehatan, dan keseimbangan lingkungan, yaitu SDG no 3, SDG no 12 dan SDG no 15.

(Syahraini Adhiya Lathifa)

AKSES CEPAT