51动漫

51动漫 Official Website

Waspada Batu di Saluran Kemih! Kenali Urolithiasis pada Anjing dan Cara Mengatasinya

Urolithiasis adalah istilah medis untuk adanya batu (urolith) di saluran kemih termasuk ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. Batu ini terbentuk akibat pengendapan mineral dalam urin yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan, mulai dari nyeri saat buang air kecil hingga penyumbatan saluran kemih yang berpotensi fatal. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko anjing mengalami urolithiasis adalah:

  1. Pola makan tinggi mineral.
  2. Infeksi saluran kemih oleh bakteri yang mengubah pH urin, meningkatkan risiko batu struvite.
  3. Anjing betina rentan batu struvit karena saluran kemih yang pendek dan lebar, memudahkan infeksi yang mengubah pH urin.
  4. Faktor genetik, seperti terbentuknya:
    Batu sistin pada Dachshund, English Bulldog, dan Newfoundland, karena mutasi genetik yang menyebabkan sistinuria (kelebihan ekskresi sistin dalam urin).
    Batu urat pada Dalmatian, karena memiliki gangguan metabolisme asam urat yang menyebabkan ekskresi urat lebih tinggi dalam urin.
    Batu kalsium oksalat pada Miniature Schnauzer, Shih Tzu, Lhasa Apso, dan Yorkshire Terrier, karena memiliki kecenderungan genetik terhadap hiperkalsiuria (kelebihan kalsium dalam urin).
  5. Kurang konsumsi air minum menyebabkan urin pekat dan membentuk batu.
  6. Gangguan metabolisme meningkatkan ekskresi mineral, memperbesar risiko pembentukan batu urat.

Gejala klinis urolithiasis meliputi kesulitan atau nyeri saat buang air kecil (stranguria), urin berdarah atau berwarna gelap (hematuria), serta sering buang air kecil dalam jumlah sedikit (pollakiuria). Anjing juga cenderung menjilat area genital secara berlebihan, tampak lesu, tidaknafsu makan, dan terlihat tidak nyaman. Dalam beberapa kasus, gejala ini juga disertai dengan
muntah dan diare akibat stres atau infeksi sekunder. Diagnosa urolithiasis melibatkan anamnesa, pemeriksaan fisik dengan palpasi area perut untuk mendeteksi distensi kandung kemih atau ketidaknyamanan, analisis urin untuk mengetahui pH urin dan tanda-tanda infeksi, x-ray atau USG untuk mendeteksi keberadaan batu, serta tes darah untuk mengevaluasi fungsi ginjal dan melihat kemungkinan adanya infeksi sistemik.

Setelah terdiagnosa, perawatan urolithiasis dapat dilakukan dengan memberikan diet khusus bermineral rendah dan obat-obatan untuk melarutkan batu atau mengobati infeksi saluran
kemih. Pembedahan (sistotomi) diperlukan jika batu terlalu besar, menyebabkan sumbatan saluran kemih, atau tidak dapat dihancurkan dengan terapi medis Tindakan preventif pada urolithiasis meliputi pemberian makanan yang sesuai dengan diet rendah mineral, asupan air yang cukup, serta pemeriksaan kesehatan rutin. Sterilisasi juga dapat mengurangi risiko urolithiasis pada anjing betina (Rath et al., 2024).

 

Kasus Urolithiasis
Pasien anjing betina ras Poodle Mix berusia 5 tahun dengan berat 5,5 kg yang datang dengan keluhan kencing berdarah berfrekuensi tinggi dan volume kecil, diare selama tiga hari, dan memiliki riwayat pemberian obat pemecah batu urin sebelumnya(Gambar 1A dan B). Hasil X-ray posisi lateral dan ventrodorsal melihatkan adanya opasitas radio-opaque pada kandung kemih yang menandakan adanya material padat dengan kepadatan yanglebih tinggi dibandingkan urin atau jaringan lunak sekitar, konsisten dengan formasi urolith pada kandung kemih (Gambar 1C). Selanjutnya, Bubble didiagnosa dengan sistik kalkuli dan dijadwalkan untuk menjalani sistotomi di RSHP Unair pada tanggal 02 Desember 2024.

Pada prosedur sistotomi, batu yang ditemukan di kandung kemih dikeluarkan, kemudian dilakukan flushing dengan campuran Vicillin dan aquadest untuk memastikan saluran kemih bersih dari sisa-sisa batu dan infeksi. Perawatan pascaoperasi untuk anjing tersebut mencakup pemberian injeksi Dexadryl sebagai antiinflamasi dan anti alergi, serta pemberian makanan dengan kandungan protein dan mineral rendah untuk mengurangi risiko pembentukan batu baru. Selain itu, anjing tersebut diberikan cefadroxil, Heptasan, Transamin, dan Neurobion peroral untuk mencegah infeksi sekunder, mendukung fungsi hati dan regenerasi sel, menghentikan perdarahan pascaoperasi, dan membantu pemulihan jaringan saraf. Perawatan luka dilakukan
dengan membersihkan luka jahitan setiap hari selama 10 hari pascaoperasi menggunakan NaCl fisiologis, povidone iodine, serta pengolesan salep antibiotik pada luka jahitan, yang kemudian
ditutup dengan kasa steril, plaster Hypafix, dan gurita. Selain itu, exercise minimal diberikan untuk mencegah luka jahitan terbuka. Pada hari ke-10 pascaoperasi, jahitan dibuka dan menunjukkan penyembuhan luka yang sempurna. Anjing tersebut juga sudah dapat buang air kecil dengan frekuensi dan warna yang normal, nafsu makan meningkat, dan diare telah sembuh.

 

Penanganan urolithiasis pada anjing memiliki keterkaitan dengan beberapa tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain:

  1. SDG 3: Good Health and Well-being
    Penanganan urolithiasis pada anjing berkontribusi terhadap kesejahteraan hewan, yang secara tidak langsung berhubungan dengan kesehatan manusia. Hewan peliharaan yang sehat mengurangi risiko zoonosis dan meningkatkan kesejahteraan emosional pemiliknya. Selain itu, pengobatan yang tepat untuk urolithiasis mencegah komplikasi serius dan meningkatkan kualitas hidup hewan.
  2. SDG 6: Clean Water and Sanitation
    Pencegahan urolithiasis melibatkan pemberian air yang cukup dan berkualitas baik untuk menjaga hidrasi hewan. Akses terhadap air bersih tidak hanya penting bagi kesehatan manusia tetapi juga bagi kesehatan hewan peliharaan untuk mencegah penyakit yang berkaitan dengan dehidrasi dan ketidakseimbangan mineral dalam tubuh.
  3. SDG 9: Industry, Innovation, and Infrastructure
    Perkembangan teknologi dalam diagnosis dan pengobatan urolithiasis, seperti penggunaan pencitraan radiografi dan terapi diet khusus, berkontribusi pada inovasi dalam bidang kedokteran hewan. Selain itu, pengembangan alat medis yang lebih efisien untuk diagnosis dan pengobatan dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan hewan.
  4. SDG 12: Responsible Consumption and Production
    Produksi pakan hewan dengan kandungan mineral seimbang serta obat-obatan yang lebih ramah lingkungan menjadi bagian dari konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Dengan meningkatkan kesadaran tentang pola makan yang tepat bagi anjing, pemilik dapat membantu mengurangi risiko urolithiasis dan meminimalkan limbah medis akibat penggunaan obat-obatan yang tidak perlu.
  5. SDG 15: Life on Land
    Kesehatan hewan peliharaan berkontribusi pada keseimbangan ekosistem secara keseluruhan. Penanganan dan pencegahan penyakit seperti urolithiasis membantu menjaga kesejahteraan hewan domestik yang memiliki peran dalam hubungan manusia-hewan. Hewan yang sehat dapat menjalani hidup dengan lebih baik tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan sekitarnya.

 

Urolithiasis merupakan kondisi yang sering ditemukan pada anjing dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius jika tidak ditangani dengan baik. Diagnosis yang tepat dan penanganan cepat, sangat penting dalam meningkatkan kualitas hidup anjing. Dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan seperti diet yang sesuai dan hidrasi yang cukup, risiko
terbentuknya batu dalam saluran kemih dapat diminimalkan. Jika anjing menunjukkan gejala gangguan saluran kemih, segera konsultasikan dengan dokter hewan untuk diagnosis dan
pengobatan yang tepat !

 

Penulis: Talenta Miracle Tobing

AKSES CEPAT