51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Kegiatan di Divisi Klinik dan RSHP

Kegiatan klinik yang saya jalani sejak tanggal 29 Juli 2025 menjadi salah satu fase pembelajaran paling berkesan dalam perjalanan studi saya. Tahap awal dimulai dengan pembekalan dasar terkait anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dipandu oleh Prof. Wiwik. Materi ini tampak sederhana, namun justru sangat penting karena menjadi fondasi dalam menghadapi pasien di Rumah Sakit Hewan Pendidikan (RSHP). Saya menyadari bahwa kemampuan dasar inilah yang akan menentukan bagaimana seorang calon dokter hewan dapat melakukan diagnosis dengan tepat.

ÌýÌýÌý Memasuki minggu pertama, kami mulai mendalami materi seputar topik bedah dan interna. Minggu kedua, kegiatan semakin menantang dengan topik terapi medis, khususnya terapi cairan. Pada kesempatan ini, saya untuk pertama kalinya mencoba prosedur klinis nyata, seperti memasang infus, IV catheter, hingga melakukan pengambilan darah. Momen tersebut terasa mendebarkan, tetapi sekaligus memberikan kebanggaan tersendiri. Selain itu, saya mendapat pengalaman berharga mempelajari penggunaan USG dan X-ray, yang menambah pemahaman tentang bagaimana teknologi berperan dalam membantu diagnosis serta perawatan pasien.

ÌýÌýÌý Tantangan semakin terasa di minggu ketiga ketika kami mulai memasuki tahap observasi di RSHP. Pada awalnya, saya merasa cukup berat menjalani proses adaptasi. Pikiran-pikiran tentang apakah saya mampu menangani pasien, apakah saya bisa mengikuti ritme klinik, dan bagaimana berinteraksi dengan lingkungan baru sempat membuat saya ragu. Namun, keberadaan partner tandem sangat membantu. Ia dengan sabar menjelaskan berbagai tugas dan tanggung jawab sehingga saya lebih cepat memahami alur kerja di RSHP. Di sela kegiatan RSHP, kami tetap menjalani kuliah dan tramed. Salah satu yang paling berkesan adalah topik oftalmologi bersama drh. Lina serta praktik keterampilan jahit bersama Prof. Bambang. Kedua kegiatan ini bukan hanya menambah keterampilan, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri saya.

ÌýÌý Minggu keempat hingga kedelapan menjadi fase perubahan. Perlahan, saya mulai bisa beradaptasi dengan ritme klinik. Rasa takut yang dulu sering menghantui berangsur hilang, berganti dengan keberanian untuk berbicara, berinteraksi, bahkan membuka percakapan dengan pasien maupun dokter. Bimbingan dari para dokter di RSHP sangat berarti. Mereka tidak hanya membimbing secara teknis, tetapi juga menekankan pentingnya sikap profesional, komunikasi, serta empati dalam menghadapi pasien dan pemilik hewan.

ÌýÌý Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika menangani pasien kucing bernama Sunny yang mengalami gangguan ginjal dan gingivitis. Dari kasus ini, saya belajar tentang pentingnya ketelatenan dalam memberikan terapi, mulai dari pemberian obat hingga perawatan harian. Walau pada akhirnya kucing tersebut meninggal, pengalaman ini memberikan banyak pelajaran berharga. Selain itu, pada minggu ketujuh saya mengikuti demo bedah pertama kalinya. Suasana awalnya penuh ketegangan, namun berkat kerja sama tim, prosedur berjalan lancar dan pasien kucing yang kami tangani pulih. Meski ujian praktik bedah belum sepenuhnya memuaskan karena keterbatasan persiapan, saya tetap menganggapnya sebagai pengalaman penting. Dari situ saya belajar bahwa tidak semua proses berjalan sempurna, namun keberanian untuk mencoba dan menyelesaikannya adalah kunci utama.

ÌýÌýÌý Menjelang akhir kegiatan, saya semakin menyadari betapa pentingnya dukungan dari berbagai pihak. Dokter pembimbing yang sabar, rekan satu poli yang selalu saling menyemangati, hingga adik-adik SMK yang banyak membantu, semuanya memberi kontribusi besar dalam perjalanan ini. Saya juga sedang menangani pasien anjing bernama Maru yang terdiagnosis suspek bronkitis. Dengan ketelatenan dan kesabaran, kondisinya berangsur membaik dan segera diperbolehkan pulang.

ÌýÌý Pada akhirnya, saya sangat bersyukur dapat melalui fase ini dengan segala suka dan dukanya. Kegiatan klinik ini tidak hanya membekali saya dengan keterampilan praktis, tetapi juga membentuk karakter, rasa percaya diri, serta kemampuan untuk lebih sabar dan menghargai proses. Semua pengalaman ini menjadi pijakan penting untuk terus melangkah dan berkembang menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi tantangan di dunia kedokteran hewan.

Berdasarkan kegiatan-kegiatan yang didapatkan juga mendukung SDGs (Sustainable Development Goals), terutama yang relevan dengan bidang kesehatan hewan dan pendidikan, bisa dipertegas pada bagian refleksi. Misalnya:

  • SDG 3: Good Health and Well-being → melalui peningkatan kesehatan hewan, pencegahan penyakit zoonosis, serta terapi yang mendukung kesejahteraan hewan dan pemiliknya.
  • SDG 4: Quality Education → pengalaman klinik berkontribusi pada pembelajaran praktis, transfer pengetahuan, serta peningkatan keterampilan mahasiswa.
  • SDG 15: Life on Land → perawatan dan perlindungan kesehatan hewan mendukung ekosistem yang lebih sehat.

Penulis: Mia Amira AlfatÌý

AKSES CEPAT