Ultrasonografi (USG) adalah teknik pencitraan medis yang menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk menghasilkan gambar dari organ (sonogram) dan jaringan tubuh. Dalam bidang kedokteran hewan, USG sering digunakan untuk memeriksa kondisi organ internal hewan, mendeteksi kelainan, dan memantau kebuntingan. Keterampilan medis dalam penggunaan alat ultrasonografi dan kemampuan interpretasi pencitraan hasil USG sangat penting guna menunjang penegakkan diagnosis pasien.
Prinsip Kerja USG dalam Diagnostik Hewan
Prinsip kerja dari USG adalah menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk menampilkan citra kondisi organ. Semakin tinggi frekuensi yang digunakan, maka resolusi citra semakin tinggi namun penetrasi (jangkauan organ) dalam tubuh lebih rendah. Sebaliknya, semakin rendah frekuensi yang digunakan, penetrasi lebih tinggi namun resolusi citra organ lebih rendah. Frekuensi yang digunakan untuk tujuan diagnostik berkisar antara 2-10 MHz.
Gelombang ini dipancarkan oleh transduser/probe yang berfungsi sebagai pengirim dan penerima gelombang suara. Ketika gelombang suara ini melewati jaringan tubuh hewan, sebagian dari gelombang akan dipantulkan kembali ke transduser, menghasilkan sinyal yang dapat diolah menjadi gambar. Ada berbagai bentuk transduser yang digunakan antara lain linear, convex, doppler, dan phased array.
Gambar yang dihasilkan (sonogram) berasal dari interaksi antara gelombang ultrasonik dan jaringan tubuh. Jaringan dengan kepadatan berbeda akan memantulkan gelombang suara secara berbeda, menghasilkan variasi dalam echogenicity (kemampuan memantulkan gelombang suara). Misalnya, jaringan yang padat seperti tulang akan terlihat lebih terang (hyperechoic) contohnya pada kasus urolithiasis, sementara jaringan lunak atau cairan akan tampak lebih gelap (hypoechoic atau anechoic) contohnya pada organ vesica urinaria, uterus, dan hepar.
Tahapan Pemeriksaan USG
- Lakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik pada pasien.
- Tentukan area yang akan diperiksa menggunakan USG, lalu cukur bulu pada area tersebut agar gelombang suara dari transduser dapat menembus jaringan dengan optimal.
- Posisikan pasien untuk pemeriksaan, misalnya posisi dorsal recumbency untuk pemeriksaan kebuntingan pada kucing.
- Persiapkan dan atur alat USG, lalu beri gel ultrasonik pada bagian transduser yang akan bersentuhan dengan kulit pasien untuk mengoptimalkan transmisi gelombang suara.
- Atur panjang gelombang, tampilan layar, dan arah gerak probe sesuai kebutuhan pemeriksaan. Beberapa gerakan dasar penggunaan probe antara lain: Sliding, Compressing, Tilting, Rocking, Rotating.
Penerapan USG dalam kedokteran hewan memiliki kaitan erat dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), antara lain:
- SDG 3: Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan – USG membantu dalam deteksi dini penyakit pada hewan, yang secara tidak langsung mendukung kesehatan manusia melalui konsep One Health.
- SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab – Dengan meningkatkan efisiensi diagnosis dan perawatan hewan, penggunaan sumber daya medis menjadi lebih optimal dan meminimalkan pemborosan.
- SDG 15: Kehidupan di Darat – USG dapat digunakan dalam penelitian dan konservasi satwa liar, membantu pemantauan kesehatan spesies yang terancam punah.
Dengan adanya teknologi USG dalam kedokteran hewan, kualitas layanan medis bagi hewan dapat meningkat, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap kesejahteraan hewan, manusia, dan lingkungan.
Penulis: Dinda Ayu Maharani




