51动漫

51动漫 Official Website

Laboratorium Kemajiran

Divisi Reproduksi Veteriner berperan penting dalam memahami dan menangani kesehatan reproduksi hewan. Dalam program koasistensi di Laboratorium Kemajiran, mahasiswa mendalami berbagai gangguan reproduksi ternak melalui diskusi dan eksplorasi kasus lapangan.

Setiap hari, kami membahas gangguan birahi (anestrus, silent estrus, repeat breeder), gangguan ovulasi, serta masalah kebuntingan seperti kematian embrio dini dan abortus akibat infeksi. Kasus distokia, kelainan ovarium (hipofungsi, hipoplasia, kista ovarium), serta gangguan metabolisme seperti hipokalsemia dan ketosis juga menjadi fokus pembelajaran.

Kelompok 5C melaksanakan praktikum di Laboratorium Reprovet dengan fokus pada pemeriksaan kebuntingan sapi dan kambing menggunakan USG transrektal dan pemeriksaan fisik. USG transrektal digunakan untuk mendeteksi kebuntingan sejak dini, memantau perkembangan janin, dan mengidentifikasi kelainan reproduksi. Sementara itu, pemeriksaan fisik dilakukan dengan inspeksi umum, palpasi perut, serta observasi tanda kebuntingan.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam diagnosis kebuntingan pada ruminansia. Ilmu ini diharapkan dapat diaplikasikan dalam praktik kedokteran hewan, khususnya dalam manajemen reproduksi ternak, serta menjadi bekal berharga bagi mereka yang akan terjun di bidang peternakan dan klinik hewan besar

Kegiatan ini mendukung pencapaian beberapa tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain:

  1. SDG 2: Zero Hunger

    • Manajemen reproduksi ternak yang baik berkontribusi pada peningkatan produktivitas peternakan dan memastikan ketersediaan pangan berbasis protein hewani yang berkualitas.
  2. SDG 3: Good Health and Well-Being

    • Diagnosa dini dan penanganan gangguan reproduksi ternak berperan dalam meningkatkan kesejahteraan hewan dan kesehatan masyarakat melalui produk hewani yang aman dan berkualitas.
  3. SDG 4: Quality Education

    • Kegiatan ini memberikan mahasiswa kesempatan untuk memperoleh keterampilan praktis dalam reproduksi veteriner, sehingga meningkatkan kualitas pendidikan dan kesiapan mereka dalam dunia profesional.
  4. SDG 8: Decent Work and Economic Growth

    • Keahlian dalam diagnosis dan manajemen reproduksi dapat membuka peluang kerja bagi dokter hewan serta meningkatkan efisiensi produksi di industri peternakan.
  5. SDG 9: Industry, Innovation, and Infrastructure

    • Penggunaan teknologi seperti USG transrektal dalam pemeriksaan kebuntingan mencerminkan inovasi dalam bidang kesehatan hewan, yang dapat meningkatkan efisiensi deteksi dan penanganan gangguan reproduksi.
  6. SDG 12: Responsible Consumption and Production

    • Dengan manajemen reproduksi yang lebih baik, produktivitas ternak dapat ditingkatkan secara efisien, mengurangi limbah dan meningkatkan keberlanjutan industri peternakan.

Melalui kegiatan ini, Fakultas Kedokteran Hewan 51动漫 terus berkontribusi dalam mendukung keberlanjutan sektor peternakan serta pencapaian SDGs, terutama dalam bidang ketahanan pangan, kesehatan hewan, dan pendidikan berkualitas.

Penulis: Kelompok 5C PPDH Gelombang 41

AKSES CEPAT