Pada awal liburan semester kali ini, kami mengikuti kegiatan magang yang diadakan oleh Kelompok Minat Profesi Veteriner Ternak Besar (KMPV TB). Kegiatan ini sangat bermanfaat karena sebagai calon dokter hewan, kami perlu mengetahui hal apa saja yang mungkin dapat terjadi di lapangan, sehingga dengan kegiatan magang ini kami dapat mempelajarinya lebih awal. Selain itu, magang ini kami lakukan untuk menambah pengalaman baru, mengaplikasikan teori yang kami dapatkan di perkuliahan, serta menambah skill yang nantinya akan dibutuhkan.
Kami melaksanakan magang pada tanggal 02 hingga 15 Juli 2025 di Dorper Prime Ranch Blitar, sebuah peternakan yang khusus membudidayakan domba. Selama dua minggu tersebut, kami dibimbing langsung oleh tim Anak Buah Kandang dan berkesempatan berdiskusi dengan drh. Catur mengenai berbagai kasus klinis yang terjadi di lapangan.
Kegiatan harian kami dimulai dengan membantu tim kandang dalam pembuatan susu formula untuk anak domba serta pemeriksaan kesehatan rutin. Kami belajar mengobservasi tanda-tanda vital domba, seperti suhu tubuh, frekuensi pernapasan, dan kondisi feses, untuk mendeteksi masalah kesehatan sedini mungkin.
Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika kami diajak langsung proses nekropsi domba. Kami belajar bagaimana cara nekropsi domba yang mati serta kita bisa belajar langsung mengenai faktor-faktor yang menyebabkan domba tersebut mati. Kami juga ikut menyaksikan bagaimana anak buah kandang menangani domba yang kesulitan melahirkan karena posisi janinnya tidak normal. Saat itu, kami mengamati bagaimana mereka dengan hati-hati memperbaiki posisi janin domba menggunakan tangan dan alat sederhana. Mereka menjelaskan kepada kami tanda-tanda domba yang akan melahirkan, bagaimana mengenali malposisi, dan penanganan pertama yang bisa dilakukan.
Tidak jarang kami menghadapi situasi darurat, seperti domba yang tiba-tiba kejang. Saat pertama kali melihat domba kejang, kami sempat panik dan bingung harus berbuat apa. Anak buah kandang dengan sigap langsung mengambil tindakan, mereka segera membilas tubuh domba dengan air sambil memastikan jalan nafasnya tetap terbuka.
Setelah kejadian itu, kami berdiskusi dengan drh. Catur tentang penanganan kasus kejang pada domba. Beliau menjelaskan secara detail penyebab-penyebab domba bisa kejang, mulai dari heat stress karena cuaca terlalu panas, keracunan pakan, sampai defisiensi mineral seperti kalsium atau magnesium. Yang menarik, drh. Catur menekankan bahwa semakin dingin air yang digunakan untuk membilas, semakin efektif menurunkan suhu tubuh domba yang kejang. 淜alau ada es batu, lebih bagus lagi, katanya sambil tertawa. Yang tak kalah penting, domba yang kejang harus segera dipisahkan dari kandang utama untuk mengurangi
stres dan mencegah domba lain ikut panik.
Kasus lain yang sering muncul adalah prolaps vagina, uteri, atau rektum, terutama pada domba yang baru melahirkan. Saat pertama kali melihat kondisi ini, kami sempat kaget melihat jaringan yang keluar dari tubuh domba. Tim kandang kemudian mengajarkan kami langkah-langkah penanganan dengan sabar. Pertama-tama, jaringan yang prolaps dibersihkan dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran yang menempel, lalu diberikan Betadine sebagai antiseptik. Setelah bersih, kami belajar bagaimana mendorong jaringan tersebut kembali ke posisi semula dengan hati-hati menggunakan tangan yang sudah memakai sarung tangan steril. Proses ini harus dilakukan perlahan karena domba biasanya merasa kesakitan dan stres. Untuk mencegah prolaps terulang, tim kandang biasanya memasang retainer. Pengalaman ini mengajarkan kami betapa pentingnya penanganan yang tepat dan cepat untuk menyelamatkan domba dari komplikasi yang lebih serius.
Foto: Penanganan Prolaps Uteri
Kegiatan magang ini memberikan kesempatan kepada kami untuk belajar lebih lanjut langsung di lapangan secara profesional. Kami juga belajar mengenai disiplin, bertanggung jawab, sabar, dan menghargai waktu.




