Kegiatan Belajar bersama Komunitas (BBK) selama empat hari ini dilaksanakan di Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan. Pada hari pertama, saya terjun di Desa Selotinatah, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan. Desa ini memiliki kontur jalan yang cukup curam dan berbatu makadam sehingga perjalanan menuju lokasi harus dilakukan dengan sangat hati-hati, terlebih ketika membawa peralatan medis dan obat-obatan.
Kegiatan diawali dengan vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sekitar 40“50 ekor sapi. Selain vaksinasi, tim juga melakukan pemeriksaan kesehatan hewan berkeliling desa. Dari pemeriksaan tersebut ditemukan beberapa kasus, seperti bulu rontok yang mengarah ke cacing hati sehingga diberikan obat cacing dan vitamin, pedet yang mengalami bloat sehingga langsung dilakukan tindakan trocar, serta beberapa diagnosis lain seperti anemia, diare, dan infestasi caplak Rhipicephalus sp. Penanganan dilakukan dengan injeksi vitamin, anti diare, penambah darah, serta anjuran untuk membersihkan kandang agar tidak semakin banyak caplak. Pada pedet yang lemah juga dilakukan reposisi tempat berbaring agar tidak terjadi atrofi otot.
Hari kedua, tim menemukan kasus PMK berat pada sapi yang sudah ambruk karena luka pada kuku. Penanganannya dilakukan dengan cara merendam kaki sapi dalam larutan obat hangat dan mengoles dengan sikat, serta pemberian injeksi antibiotik, vitamin, dan anti radang. Selain itu, terdapat beberapa sapi dengan gejala PMK ringan yang juga diobati. Ditemukan pula kasus LSD pada pedet, yang kemudian ditangani dengan injeksi vitamin dan anti radang serta anjuran kebersihan kandang.
Hari ketiga, kegiatan dilanjutkan dengan KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) di Desa Pendem mengenai sosialisasi PMK. Lalu pada hari keempat, tim melakukan KIE di Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, dengan topik pemberian obat cacing dan vitamin C. Di lokasi ini juga ditemukan kasus mastitis pada kambing yang ditangani dengan injeksi antibiotik, vitamin, dan anti radang.
Selama kegiatan ini, kami didampingi oleh drh. Sabto dan paramedik Pak Sugiyarto. Pengalaman ini memberikan banyak pelajaran tentang penanganan penyakit hewan secara langsung, pentingnya edukasi masyarakat, serta kerja sama tim di lapangan.
Kegiatan BBK ini selaras dengan beberapa Sustainable Development Goals (SDGs). Pertama, upaya vaksinasi PMK, pengobatan berbagai penyakit ternak, serta tindakan cepat pada kasus bloat dan mastitis mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, karena kesehatan hewan yang baik berdampak langsung pada kesehatan masyarakat melalui rantai pangan yang aman. Kedua, edukasi masyarakat mengenai pencegahan penyakit dan kebersihan kandang berkaitan dengan SDG 2: Tanpa Kelaparan, sebab keberlanjutan produksi ternak yang sehat akan menunjang ketersediaan pangan bergizi.
Selain itu, KIE yang dilakukan di Desa Pendem dan Gonggang menunjukkan kontribusi pada SDG 4: Pendidikan Berkualitas, dengan memberikan pemahaman langsung kepada masyarakat tentang pentingnya kesehatan hewan dan manajemen kandang. Kegiatan ini juga sejalan dengan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, karena melibatkan kolaborasi antara mahasiswa, dokter hewan, paramedis, dan masyarakat desa.
Dengan demikian, pengalaman BBK bukan hanya memberi manfaat praktis dalam hal keterampilan lapangan, tetapi juga merupakan wujud nyata kontribusi mahasiswa 51¶¯Âþ dalam mendukung pencapaian SDGs melalui bidang kesehatan hewan dan pemberdayaan masyarakat pedesaan.
oleh: Alvian Robby Wibisono




