Hernia diafragmatika terjadi saat organ-organ abdomen masuk ke dalam rongga thoraks karena otot diafragma yang robek. Otot diafragma yang seharusnya membatasi antara rongga abdomen dan thoraks dapat robek akibat terjadinya trauma atau kelainan kongenital. Pada kasus yang terjadi di Rumah Sakit Hewan Pendidikan, seekor kucing sebelumnya dilaporkan mengalami kecelakaan dan setelah dilakukan pemeriksaan ditegakkan diagnosis hernia diafragmatika. Untuk penanganan kasus hernia diafragmatika seharusnya dilakukan koreksi dengan prosedur pembedahan. Namun, karena pemilik tidak berkenan dilakukan operasi, maka disarankan untuk menjalani terapi paliatif.
Terapi paliatif pada kucing dengan hernia diafragmatika dilakukan untuk menjaga kualitas hidup pasien ketika tindakan operasi tidak dapat dilakukan. Perawatan diberikan secara rutin setiap hari dengan cara memberikan oksigen pada pagi dan sore untuk membantu pernapasan, vitamin suportif untuk mempertahankan kondisi tubuh, serta bantuan dalam proses makan agar kebutuhan nutrisi tetap tercukupi. Pemberian oksigen berfungsi mengurangi gejala sesak napas akibat berkurangnya kapasitas paru-paru, sedangkan vitamin suportif membantu mendukung metabolisme serta menjaga daya tahan tubuh agar tidak semakin menurun. Bantuan makan diberikan karena pada kondisi ini kucing sering kali mengalami penurunan nafsu makan yang dapat memperburuk keadaan umum.
Tindakan perawatan ini dilakukan secara berkesinambungan dengan pemantauan terhadap respons pasien. Selama perawatan, kondisi kucing diperhatikan dengan cermat untuk melihat adanya perubahan baik pada pola napas, tingkat aktivitas, maupun respons terhadap asupan makanan. Perbaikan kondisi yang tampak biasanya berupa pernapasan yang lebih teratur, tubuh yang lebih bertenaga, dan berkurangnya tanda-tanda stres. Meski terapi ini tidak mengatasi penyebab utama penyakit, namun keberlanjutan perawatan memberikan manfaat nyata terhadap kenyamanan pasien.
Dengan adanya terapi paliatif, pasien tetap mendapatkan perawatan yang berfokus pada pengurangan gejala dan peningkatan kualitas hidup. Pendekatan ini menjadi alternatif terbaik ketika terapi definitif berupa pembedahan tidak dapat dilakukan, sehingga pasien masih memperoleh penanganan yang layak. Terapi paliatif juga memberikan dukungan emosional bagi pemilik karena hewan peliharaannya tetap dirawat dengan baik. Oleh karena itu, terapi paliatif memiliki peran penting dalam menjaga kesejahteraan pasien dengan hernia diafragmatika.
Meskipun terapi paliatif tidak menyelesaikan penyebab utama penyakit, langkah ini memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan pasien serta memberikan ketenangan emosional bagi pemilik. Dengan demikian, tindakan yang dilakukan mendukung prinsip SDGs, yaitu:
- SDG 3 (Good Health and Well-Being): meningkatkan kualitas hidup melalui pelayanan kesehatan hewan yang berfokus pada kesejahteraan.
- SDG 15 (Life on Land): menjaga keberlangsungan hidup dan kesejahteraan hewan sebagai bagian dari ekosistem daratan.
Dengan adanya pendekatan ini, Rumah Sakit Hewan Pendidikan menunjukkan komitmen dalam mengedepankan pelayanan kesehatan hewan yang berkelanjutan, etis, dan berorientasi pada kesejahteraan.
Penulis: I Gede Wahyudi Suputra




