51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Dari Poli hingga Ruang Operasi: Catatan Perjalanan Koas Pendidikan Profesi Dokter Hewan

Pendidikan profesi dokter hewan, atau yang lebih sering disebut masa koasistensi, adalah fase yang penuh warna, tantangan, dan pembelajaran nyata. Inilah saat ketika teori yang selama ini dipelajari di bangku kuliah diuji langsung pada situasi klinis. Saya ingin berbagi pengalaman pribadi mengenai berbagai kegiatan saya selama koas, mulai dari menerima pasien di poli, mengurus kucing dan anjing yang datang dengan beragam keluhan, menjaga Instalasi Gawat Darurat (IGD), ikut serta dalam operasi sebagai asisten, hingga menjadi penanggung jawab (PJ) opname.

Salah satu kegiatan utama saya adalah bertugas di poli, tempat konsultasi dan pemeriksaan pasien, baik pasien rawat jalan dan rawat inap atau opname. Setiap kali jadwal koas menempatkan saya di poli, biasanya dari pagi hingga sore hari, ruangan poli selalu penuh dengan pemilik yang membawa kucing atau anjing mereka. Menurut saya, poli merupakan garda terdepan pelayanan rumah sakit hewan. Di sinilah saya belajar komunikasi dengan pemilik hewan, mengasah kemampuan anamnesa, hingga melakukan pemeriksaan fisik dasar. Biasanya ketika bertugas di poli dimulai dengan menyambut pemilik hewan, mendengarkan keluhan, mencatat identitas pasien, kemudian melakukan pemeriksaan.

Ketika pasien dinyatakan harus menjalani rawat inap atau opname dan butuh perawatan intensif, merawat pasien bukan hanya soal memberi obat, tetapi juga memperhatikan kenyamanan mereka. Tugas perawatan biasanya berlangsung sepanjang hari sesuai shift, terutama ketika saya mendapat giliran jaga. Pasien akan dirawat di ruang perawatan yang disesuaikan dengan kondisi pasien dan kandang khusus pasien rawat inap. Saya ingat jelas saat merawat seekor kucing Ragdoll bernama Jolly yang di opname karena didiagnosa terkena Paraparesis. Awalnya, kucing Jolly datang dengan keluhan tidak bisa menggerakkan kedua kaki belakang dan tidak bisa berjalan, karena sebelumnya tersangkut di pagar. Setiap hari selain memberikan obat oral dan injeksi, saya membantu Jolly dengan fisioterapi dan menjemurnya setiap pagi. Jolly juga menjalani tindakan laserpuncture seminggu dua kali. Walaupun tubuhnya lemah, tatapan matanya seolah menyimpan harapan dan semangat. Saya pun ketika merawat Jolly bersemangat dan optimis Jolly dapat menggerakkan kedua kaki belakangnya kembali. Setelah 6x laserpuncture, setiap hari dilakukan fisioterapi dan pemberian pengobatan rutin, akhirnya Jolly bisa berdiri dan berjalan menggunakan kedua kaki belakangnya juga walaupun masih tertatih-tatih. Dari situ saya belajar, kesabaran dan ketelatenan adalah kunci merawat hewan kecil yang cenderung sensitif.

Selain merawat pasien opname dan menerima poli, saya juga menjalani jadwal jaga IGD. IGD adalah tempat menerima pasien darurat yang membutuhkan penanganan segera. Biasanya giliran jaga malam, sekitar pukul 20.00“08.00. Salah satu malam, seekor kucing dibawa pemiliknya dengan kondisi lemas, napas tersengal, mulut terbuka, dan keluar busa dari mulut. Saat dilakukan anamnesa, ternyata kucing tersebut tidak sengaja menjilat racun tikus. Saya bersama tim langsung memasang oksigen, memantau suhu, denyut nadi, dan laju pernapasan kucing. Ketika akan diinduksi reflek muntahnya, kucing tersebut meninggal. Di situ saya menyadari pentingnya ketenangan. Panik hanya akan membuat keadaan lebih buruk. Jadwal jaga IGD mengajarkan saya bagaimana menghadapi situasi penuh tekanan dengan kepala dingin.

Mahasiswa koasistensi juga diwajibkan untuk mengikuti operasi, baik sebagai asisten pertama maupun kedua. Operasi biasanya dilakukan di ruang bedah dengan protocol steril yang ketat. Melalui operasi, saya belajar Teknik aseptis, handling alat serta kerjasama dalam tim bedah. Pengalaman pertama saya adalah menjadi asisten pada operasi ovariohisterektomi (sterilisasi kucing betina). Tugas saya adalah memegang retraktor dan memastikan area operasi tetap jelas terlihat. Walaupun terlihat sederhana, butuh konsentrasi tinggi agar tangan tidak goyah.

Selama menjalani koasistensi di Divisi Klinik dan RSHP, saya banyak mendapatkan pembelajaran yang berharga. Refleksi dan pembelajaran yang saya dapatkan, yakni semakin terasahnya rasa empati karena hewan tidak bisa mengungkapkan rasa sakit dengan kata-kata, sehingga diperlukan kepekaan ekstra. Selain itu, saya belajar cara berkomunikasi yang baik dengan pemilik. Pemilik hewan adalah bagian penting dalam proses penyembuhan. Mendengarkan keluhan pemilik merupakan langkah pertama menuju diagnosis yang benar. Lalu, saya belajar untuk bekerjasama dalam tim. Dari IGD hingga ruang operasi, semua membutuhkan kolaborasi.

Koasistensi profesi dokter hewan bukan sekedar fase pendidikan, melainkan perjalanan yang membentuk identitas profesional. Setiap pengalaman adalah puzzle kecil yang membentuk gambaran yang besar: menjadi dokter heawn yang kompeten, berempati, dan bertanggung jawab. Dengan segala suka duka, saya kini semakin yakin bahwa jalan ini adalah panggilan. Setiap tatapan hewan yang membaik, setiap senyum pemilik yang merasa lega, adalah hadiah yang tak ternilai dari proses panjang pendidikan profesi dokter hewan.

Kegiatan koasistensi profesi dokter hewan mendukung peran SDGs (Sustainable Development Goals) terutama SDG 3 (Good Health and Well-Being), SDG 4 (Quality Education), dan SDG 15 (Life on Land):

SDG 3 “ Good Health and Well-Being: Melalui pelayanan kesehatan hewan, baik preventif maupun kuratif, koasistensi berkontribusi pada peningkatan kualitas kesehatan dan kesejahteraan hewan.

SDG 4 “ Quality Education: Koasistensi menjadi wujud nyata pendidikan berbasis praktik klinis, membekali mahasiswa dengan keterampilan dan pengalaman profesional.

SDG 15 “ Life on Land: Dengan merawat hewan peliharaan, pendidikan profesi dokter hewan turut menjaga kesejahteraan makhluk hidup di daratan serta memperkuat hubungan manusia-hewan dalam ekosistem.

Penulis: Kinaya Priyanka Purbonegoro

AKSES CEPAT