51

51 Official Website

Tim FKH UNAIR di Bawah Payung ACDH Dorong Ketahanan Pangan Lewat Pemberdayaan Peternak di Pulau Gili Iyang

Sumenep, 1 November 2025 Tim Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) 51 (UNAIR) di bawah koordinasi Airlangga Community Development Hub (ACDH) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Melalui program bertajuk Pemberdayaan Peternakan Rakyat Menuju Ketahanan Pangan Berkelanjutan, tim FKH UNAIR hadir di Desa Banraas, Kecamatan Dungkek, Pulau Gili Iyang, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Kegiatan yang diikuti sekitar 20 peserta dari Gapoktan Maju Tak Gentar dan Karang Taruna Desa Banraas ini berfokus pada peningkatan kapasitas peternak rakyat di wilayah kepulauan agar mampu mengelola usaha ternak secara mandiri dan berkelanjutan.

Sekretaris Desa Banraas, Haji Kahor, menyambut baik inisiatif UNAIR tersebut.

Kami sangat berterima kasih atas kehadiran tim dari FKH UNAIR. Warga kami mendapat banyak ilmu baru untuk mengelola ternak dengan lebih baik, ujarnya.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat FKH UNAIR, Dr. Emy Koestanti Sabdoningrum, drh., M.Kes, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan UNAIR dalam memberdayakan masyarakat melalui pendidikan dan pendampingan peternakan rakyat.

Kami ingin membantu masyarakat memahami cara beternak yang sehat, efisien, dan ramah lingkungan. Harapannya, kegiatan ini bisa menjadi awal menuju desa tangguh pangan, ungkapnya.

Dua narasumber utama hadir dalam pelatihan ini, yakni Prof. Dr. Sunaryo Hadi Warsito, drh., M.P, dengan materi Manajemen Kambing dan Domba, serta Dr. Emy Koestanti Sabdoningrum dengan topik Peningkatan Gizi Masyarakat melalui Konsumsi Telur Omega-3 untuk Mendukung Ketahanan Pangan.

Peserta terlihat antusias mengikuti diskusi interaktif seputar manajemen kandang, pemberian pakan, dan pemeliharaan kesehatan ternak. Kegiatan juga menyoroti pentingnya menyesuaikan pola pemeliharaan dengan kondisi pesisir Desa Banraas yang panas dan kering. Kondisi tersebut justru membuka peluang besar bagi pemanfaatan rumput kering (hay) sebagai pakan alternatif ternak. Musim penghujan hijauan melimpah bisa disimpan dengan pengolahan silase. Sehingga selain hay, pemanfaatan silase bisa digunakan saat kemarau.

Namun, masyarakat Banraas menghadapi tantangan tersendiri: jarak yang jauh dari Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) membuat akses terhadap dokter hewan sangat terbatas. Akibatnya, banyak warga yang masih mengandalkan penanganan tradisional ketika ternaknya sakit.

Menanggapi hal tersebut, Prof. Sunaryo Hadi memberikan sejumlah solusi praktis. Ia menjelaskan bahwa kematian ayam yang sering terjadi di wilayah pesisir umumnya dipicu oleh penyakit tetelo (Newcastle Disease/ND), penyakit menular akibat virus yang mudah merebak ketika daya tahan tubuh ayam menurun, terutama saat cuaca ekstrem atau perubahan musim di daerah pantai.

Idealnya, ayam di vaksin tetelo sebelum musim angin laut tiba untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Selain itu, ternak juga perlu rutin diberikan obat cacing untuk menjaga kesehatan secara umum, paparnya.

Prof. Sunaryo juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan kandang melalui penyemprotan rutin menggunakan larutan desinfektan atau iodine yang dilarutkan dalam air.

Kandang sebaiknya disemprot secara berkala untuk menekan pertumbuhan bakteri dan virus. Kebersihan kandang adalah kunci utama mencegah penyakit, ujarnya.

Menurutnya, langkah sederhana seperti penyemprotan, menjaga ventilasi, serta memastikan lantai kandang tetap kering sudah dapat meningkatkan kesehatan dan produktivitas ternak secara signifikan.

Kegiatan ini dikoordinasikan oleh Dr. Yulianna Puspitasari, drh., M.V.Sc., Ph.D, selaku Wakil Dekan III FKH UNAIR sekaligus Penanggung Jawab Tim, dengan dukungan Dr. Zulfi Nur Amrina Rosyada, S.Pt., M.Si dan Arindita Niatazya Novianti, drh., M.Si sebagai pelaksana. Turut serta pula mahasiswa Magister Agribisnis Veteriner FKH UNAIR, Febrina Eka Rahayu, S.Pt. dan Sangidil Kudri, S.Pt., yang membantu pelaksanaan dan pendampingan peserta selama kegiatan berlangsung.

Usai pelatihan, peserta mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru seputar pengelolaan ternak yang sehat dan higienis.

Kami jadi tahu pentingnya kebersihan kandang dan cara memberi pakan yang benar. Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut, ujar salah satu anggota Karang Taruna.

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan ramah tamah. Menurut Dr. Yulianna, kegiatan ini menjadi bukti nyata sinergi antara akademisi dan masyarakat dalam memperkuat ketahanan pangan di wilayah kepulauan.

Melalui koordinasi ACDH, kami di FKH UNAIR berkomitmen untuk terus hadir dan berbagi ilmu agar peternak lokal semakin mandiri dan sejahtera, tuturnya.

Program ini menegaskan peran FKH 51 sebagai pelaksana aktif di bidang kesehatan hewan dan agribisnis peternakan dalam kerangka besar Airlangga Community Development Hub (ACDH) untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang tangguh, sehat, dan berkelanjutan.

 

Penulis: Dr. Zulfi Nur Amrina Rosyada, S.Pt., M.Si.

AKSES CEPAT