Talasemia merupakan penyakit turunan yang memebrikan efek pada tulang belakang. Talasemia dapat berupa akut maupun kronik, tergantung dari jenisnya yaitu major atau minor. Berdasarkan Menteri Kesehatan (2016), 2500 bayi baru lahir di Indonesia telah menderita talasemia. Berdasarkan data Indonesian Thalassemia Foundation, penderita talasemia di Indonesia meningkat dari 4986 orang pada tahun 2012 menjadi 9028 orang pada tahun 2018. Dengan meningkatnya prevalensi talasemia, Departemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat 51动漫 mengadakan kuliah tamu dengan mengundang Ts. Dr. Wan Ismahanisa Ismail dari Universiti Teknologi MARA, Kampus Bertam, Malaysia dengan tujuan dapat meningkatkan ilmu mahasiswa, dosen, dan tenaga pendidik terkait dengan talasemia, khususnya pada pencegahan talasemia. Kuliah tamu ini dilaksanakan pada Rabu, 30 November 2022 yang bertajuk 淧revention of Thalassemia dan dilaksanakan secara daring.

Talasemia dapat dicegah dengan melakukan screening pada carrier atau pembawa gen talasmia, konseling genetic dan diagnosis prenatal. Ketiga upaya ini dilakukan untuk pencegahan kelahiran dengan talasemia. Cara untuk mengetahui individu yang merupakan carrier atau pembawa talasemia di suatu populasi adalah dengan extended family carrier screening, yaitu melakukan screening pada keluarga atau sesepuh pada suatu keluarga yang salah satu anggotanya sudah terdeteksi membawa gen talasemia. Selain itu, perlu dilakukan screening sebelum pernikahan sebagaimana layaknya screening HIV untuk mencegah pernikahan antara kedua mempelai yang memiliki gen talasemia.

Konseling genetic juga merupakan salah satu upaya pencegahan kelahiran bayi dengan talasemia. Upaya ini dilakukan supaya anggota keluarga memahami dan beradaptasi dengan konsekuensi medis, keluarga dan psikologis dari penyakit genetic khususnya talasemia. Pada dasarnya upaya pencegahan talasemia dapat dilakukan dengan mengidentifikasi carrier atau pembawa gen talasemia, menghindari pernikahan bagi carrier talasemia dan menawarkan diagnosis prenatal kepada pasangan. Diagnosis prenatal dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain chorion villus biopsy, PCR and genetic or DNA analysis.

Dengan adanya kuliah tamu ini, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan mahasiswa dan peserta yang hadir terkait upaya pencegahan talasemia serta turut menyebarkan wawasan atau informasi terkait informasi tersebut. Selain itu, materi kuliah tamu ini turut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs, terlebih poin ketiga tentang kesehatan dan kesejahteraan untuk seluruh insan di dunia. Pengetahuan yang diberikan terkait pencegahan kelahiran talasemia dapat meningkatkan kesadaran tentang penyakit ini.
Penulis : Shinta Arta Mulia, S.KM., M.KKK.




