SURABAYA揂DM WEB | Hari Kartini yang diadakan setiap tanggal 21 April menjadi momentum untuk mengenang perjuangan Kartini dalam menyuarakan hak perempuan di era kolonial. Kartini digambarkan sebagai perempuan keturunan bangsawan yang melihat adanya perbedaan perolehan hak antara kaum bangsawan dan nonbangsawan. Kartini juga dapat digambarkan sebagai nilai perjuangan seorang golongan bangsawan untuk golongan nonbangsawan dalam memperoleh pendidikan. Dalam FISIP Statement kali ini, Dr. Siti Aminah, MA., dosen , memberikan pandangannya mengenai peringatan hari Kartini.
Dalam masa kolonial, bentuk perlawanan untuk melawan penjajahan dalam semua aspek kehidupan bukan hal mudah. Pintu masuk yang pertama diperjuangkan oleh Kartini adalah pendidikan. Pendidikan memiliki arti penting sebagai cara untuk membebaskan diri dari kolonialisme. 淗ari Kartini jangan hanya dibaca sebagai formalitas belaka. Hari Kartini itu ikon perjuangan aktor Kartini yang berjuang melawan penjajahan melalui pendidikan, ujar Aminah saat diwawancara pada Jumat (5/5/2023).
Aminah juga mengungkapkan bahwa perjuangan Kartini akan terus berlanjut selama masih ada penindasan. 淪ekarang penjajahan sudah berubah wujud sehingga bentuk emansipasi pun mengalami perubahan. Intinya, perjuangan itu adalah sebuah proses. Emansipasi pun juga terus berproses tanpa akhir yang disesuaikan dengan perkembangan dan kondisi zaman, terang Aminah.
Dalam wawancara, Aminah menyatakan bahwa sudah meneguhkan kesetaraan hak perempuan seperti yang diperjuangkan kaum feminis dunia FISIP UNAIR turut berperan dalam memberantas diskriminasi, ketimpangan, ketidaksetaraan dan bahkan kekerasan terhadap perempuan serta mereka yang berjuang untuk memenuhi hak-hak dasar, seperti hak atas pendidikan dan penghapusan perkawinan anak usia dini, memampukan perempuan, membangun lingkungan sosial budaya ramah perempuan di masyarakat, dan lain-lainnya.
Namun, Aminah tidak menyangkal masih adanya pandangan dari masyarakat yang menempatkan perempuan untuk diremehkan dan ditindas dengan berbagai cara. Perempuan cenderung mengalami lebih banyak eksploitasi dan pelecehan. 淧ada kenyataannya, perempuan masih harus menghadapi berbagai jenis penindasan berdasarkan ras, kelas sosial, dan seksualitas mereka, yang bersinggungan dengan seksisme. Ini yang tak henti-hentinya diperjuangkan oleh feminis FISIP UNAIR, papar Aminah yang menjadi dosen Ilmu Politik sejak 1989.
Pada dasarnya, pemikiran Barat telah menempatkan perempuan dalam bingkai feminin sebagai hasil dari polaritas gender. Dalam tradisi Barat pula, prinsip maskulin melampaui semua yang imanen, tidak sadar, tidak logis, sensual, tidak dikenal, gila, atau histeris. Oleh karena itu, penjajahan Hindia Belanda di negeri ini pun tidak hanya berada dalam formasi sosial, tetapi juga ideologis.
Di akhir wawancara, Aminah menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam kondisi masa kini dan masa depan untuk terus memperjuangkan emansipasi sebagai gerakan moral dan budaya. 淢enyingkirkan dominasi dalam relasi sosial politik adalah perjuangan semua pihak. Emansipasi sebagai instrumen untuk menyudahi dominasi akan terus ada selama masih adanya penindasan, khususnya kepada kaum perempuan, tutup Aminah.
Artikel ini merefleksikan nilai SDGs ke-4 Quality Education dan ke-5 Gender Equality (AS).




