SURABAYAADM WEB | Pada Sabtu (11/3/2023), Eka Suci Rohmadani, mahasiswi angkatan 2021, berhasil menyabet juara 2 dalam lomba esai yang diselenggarakan oleh Universitas Atma Jaya Jakarta dengan tema How should we respond to sexual harassment. Eka, sapaan akrabnya, menuturkan kalau ia memiliki ketertarikan di bidang kepenulisan ilmiah sejak mahasiswa baru. Eka sendiri tergabung ke dalam organisasi UKM Penalaran sebagai wadahnya untuk berkembang.
Alasan saya memilih untuk mengikuti lomba esai karena saya ingin melatih kemampuan menulis saya, mengambil kesempatan adanya lomba gratis, dan menyalurkan bakat minat saya, ujar Eka dalam sebuah wawancara yang digelar pada Jumat (5/5/2023). Pada awalnya, Eka tidak mengharap untuk menjadi juara. Menurut Eka, memperoleh juara adalah sebuah bonus di mana insentifnya bisa ditabung atau dibelikan barang yang ia inginkan.
Perjalanan Eka untuk menjadi juara memerlukan waktu sekitar dua bulan. Eka harus mengikuti berbagai tahapan, mulai dari registrasi, pembuatan karya, pengumpulan karya, penilaian juri, hingga pengumuman. Lomba yang saya ikuti tidak ada sesi presentasi sehingga seluruh penilaian hanya berdasarkan esai yang telah dikumpulkan, imbuh Eka.
Eka menulis esai berjudul ELISEXE (Eliminate Sexual Violence): Aplikasi Gelang dalam Digitalisasi Eliminasi Kekerasan Seksual terhadap Perempuan di Lingkungan Pesantren. Menurut Eka, judul yang ia pilih selaras dengan poin poin ke-5 Gender Equality.
Dalam wawancara, Eka menjelaskan kalau pengambilan judul tersebut diilhami oleh kasus kekerasan seksual yang sudah sewajibnya memperoleh perhatian khusus dari berbagai pihak. Pelaku kekerasan seksual cenderung berasal dari lingkungan terdekat korban, seperti rumah, sekolah (lembaga pendidikan), dan lembaga sosial korban. Anak-anak sebagai kelompok yang paling rentan memperoleh kekerasan seksual karena dipersepsikan sebagai individu yang lemah, terang mahasiswa Administrasi Publik yang angkatan 2021 tersebut.
Namun faktanya, laporan dari Komnas Perempuan justru menunjukkan bahwa lingkungan pendidikan berbasis pesantren yang dikenal mempunyai citra agamis berada di urutan kedua dengan kasus kekerasan seksual terbanyak di Indonesia. Oleh karena itu, saya memiliki ide untuk membuat gelang di mana gelang tersebut berfungsi sebagai alat pemantau yang terhubung dengan aplikasi di ponsel. Aplikasi nantinya dipegang oleh pengawas pesantren dan orang tua siswa, sedangkan gelang akan dikenakan oleh para siswa, papar Eka.
Eka juga membagikan tipsnya kepada pembaca yang memiliki minat atau tertarik untuk mengikuti lomba esai. Tips yang penting adalah mencari info lomba dengan timeline pendaftaran panjang untuk memaksimalkan hasil, memahami tema dan subtema lomba dengan baik, memberikan ide atau solusi atas sebuah permasalahan, mengecek ulang karya sebelum dikumpulkan, dan jangan lupa berdoa, tutup Eka.
Artikel ini merefleksikan nilai SDGs ke-4 Quality Education dan ke-5 Gender Equality (AS).




