51动漫

51动漫 Official Website

Airlangga Forum: Menimbang Tantangan Childfree di Tengah Harapan Bonus Demografi

Fenomena childfree, yakni keputusan individu untuk tidak memiliki keturunan, semakin menjadi sorotan global, termasuk di Indonesia. Pilihan personal ini memicu perdebatan, terlebih saat dikaitkan dengan target Indonesia Emas 2045, di mana populasi usia produktif diproyeksikan mencapai 60 persen. Menanggapi isu sensitif ini, Sekolah Pascasarjana 51动漫 (UNAIR) mengangkatnya dalam podcast Airlangga Forum bertajuk 淏onus Demografi vs Childfree pada Jumat (12/9/2025).

Pilihan Personal dengan Dampak Global

Keputusan childfree sejatinya bukan fenomena baru. Di negara-negara maju, tren ini telah berkembang sejak beberapa dekade lalu, dipengaruhi faktor ekonomi, kebebasan personal, hingga pengalaman hidup. Kini, tren tersebut tak hanya melekat pada Generasi Z, tetapi juga generasi sebelumnya.

Prof. Dr. Phil. Toetik Koesbardiarti, Guru Besar Antropologi FISIP UNAIR, menilai childfree dapat dipahami sebagai salah satu hasil dari kesadaran baru masyarakat.

淛ika dulu Keluarga Berencana mendorong dua anak cukup, kini muncul kesadaran individu yang bahkan memilih untuk tidak memiliki anak sama sekali, jelas Prof. Toetik.

Menurutnya, akses pendidikan tinggi, orientasi karier, penundaan pernikahan, hingga faktor kesehatan juga menjadi alasan yang memperkecil peluang individu untuk memiliki keturunan.

Ancaman Piramida Terbalik

Dari perspektif demografi, Prof. Toetik mengingatkan risiko perubahan struktur penduduk Indonesia menuju bentuk piramida terbalik, di mana jumlah lansia lebih besar daripada generasi muda. Jika tren childfree terus meningkat tanpa strategi intervensi, maka keberlanjutan populasi dan sistem sosial akan menghadapi tantangan serius.

Senada dengan itu, Dr. Arif Rahman Hakim, SE., M.SE., dosen Magister Sains Hukum dan Pembangunan SPS UNAIR, menekankan pentingnya kebijakan adaptif.

淢eski belum ada regulasi spesifik soal childfree, negara perlu menyiapkan kebijakan yang memungkinkan mereka tetap berkontribusi. Salah satunya melalui program active aging bagi lansia, ujarnya.

Perspektif Sosiologi dan Demografi

Dari sisi sosiologi, Shafyra Amalia Fitriany, S.Sos., M.HP., alumni SPS UNAIR, menilai childfree bukan hanya keputusan pribadi, melainkan juga keputusan kolektif yang dipengaruhi lingkungan sosial dan budaya.

Sementara itu, Dr. Mhd. Zamal Nasution, S.Si., M.Sc., Ph.D., ahli demografi, menegaskan istilah yang lebih tepat digunakan dalam studi kependudukan adalah childless.

淛umlah penduduk akan terus menurun bila semakin banyak individu menunda pernikahan, memilih tidak menikah, atau menikah tetapi tidak memiliki anak, paparnya.

Ia menambahkan, fenomena ini juga memengaruhi angka harapan hidup lansia dan struktur demografi secara keseluruhan.

Mencari Titik Temu

Fenomena childfree dan tantangan bonus demografi sejatinya bukanlah dua kutub yang saling bertentangan. Keduanya merupakan dua sisi dari koin yang sama yang memerlukan pendekatan komprehensif agar pembangunan bangsa tetap berkelanjutan.

Dengan memahami fenomena ini secara multidisipliner, baik masyarakat maupun pemerintah diharapkan dapat merumuskan kebijakan yang seimbang. Childfree tidak semata pilihan personal, tetapi bagian dari dinamika sosial yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan menuju Indonesia yang sejahtera di masa depan.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =

AKSES CEPAT