Di tengah dinamika global yang tak menentu, ketersediaan energi menjadi isu krusial yang menentukan keberlangsungan suatu bangsa. Fakultas Hukum 51动漫 (FH Unair), melalui Asian Law Students’ Association (ALSA), mengambil peran strategis dengan menyelenggarakan Seminar Nasional Hukum Energi bertajuk “Peran Hukum dalam Menjaga Keamanan Energi Nasional di Era Transisional Global”.
Acara yang digelar di Gedung A.G. Pringgodigdo Unair, Jumat (12/9/2025), ini menghadirkan pembicara kunci, Prof. Dr. Suparto Wijoyo, S.H., M.Hum., Guru Besar Hukum Lingkungan sekaligus Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana Unair.
Unair Menuju Kampus Hijau dan Ekonomi Sirkular
Dalam paparannya, Prof. Suparto Wijoyo menegaskan komitmen Unair untuk menjadi Green Campus. “Kami tidak hanya sebatas wacana, tapi sudah ada bukti nyata,” ujarnya. Salah satu langkah nyata adalah penggunaan panel surya (solar cell) di sejumlah gedung kampus. Inisiatif ini tidak hanya mendorong efisiensi energi, tetapi juga simbolisasi pergeseran dari ketergantungan energi fosil menuju energi terbarukan.
Lebih jauh, ia menyoroti penerapan ekonomi sirkular (circular economy) di Unair, khususnya dalam pengelolaan limbah botol plastik. Alih-alih dibuang, botol-botol ini dikumpulkan dan didaur ulang, menciptakan siklus pemanfaatan yang berkelanjutan.
Prof. Suparto juga mengutip pertanyaan menarik dari Ali Nasir, S.H., LL.M., Vice President Legal, Commercial and Planning Harbour Energy:
“Apakah karena berkurangnya energi fosil menjadi alasan utama kita beralih ke energi terbarukan?”
Pertanyaan ini, menurut Prof. Suparto, mengajak semua pihak untuk melihat persoalan energi dari perspektif yang lebih mendalam, bukan sekadar respons terhadap kelangkaan.
Hukum Tak Boleh Terjebak dalam Dikotomi
Guru Besar Hukum Lingkungan Unair ini mengingatkan, hukum tidak boleh terjebak dalam dikotomi yang keliru. Energi fosil bukanlah kutukan, dan energi terbarukan pun tidak otomatis menjadi rahmat. “Semua kembali pada sikap manusia. Jika kita tidak pandai bersyukur, energi terbarukan pun tidak akan membawa keberkahan,” tegasnya.
Slogan “Khairunnas Anfauhumlinnas” atau “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain” menjadi penutup pidatonya. Ia mengaitkan semangat ini dengan kegiatan mahasiswa FH Unair, yang dianggap sebagai wujud nyata ‘Transitional Leadership’攌epemimpinan yang mampu beradaptasi dan menjadikan perubahan sebagai peluang memberi dampak positif.
Unair dalam Peta Global SDGs
Sebagai informasi, 51动漫 berhasil meraih pengakuan internasional dengan menempati peringkat ke-9 dunia dalam THE Impact Rankings 2025 untuk kategori dukungan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs). Pencapaian ini menegaskan keseriusan Unair dalam mengimplementasikan prinsip keberlanjutan, tidak hanya dalam kurikulum akademik, tetapi juga praktik sehari-hari.
Kegiatan ini memperlihatkan bahwa pergeseran energi tidak hanya soal teknis, melainkan juga membutuhkan pemahaman hukum yang kuat dan kepemimpinan visioner untuk menghadapi tantangan era transisi global.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




