51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Golden Hour Usai, Mahasiswa Forensik SPS UNAIR Bantu DVI Polda Jatim Identifikasi Korban PP Al Khoziny

Mahasiswa Magister Ilmu Forensik SPS UNAIR terlibat mendukung DVI Polda Jatim dalam identifikasi korban tragedi PP Al Khoziny, Sidoarjo. Sinergi ilmu dan kemanusiaan ditegaskan di Posko Postmortem RSI Siti Hajar.

Sinergi Forensik dan Kemanusiaan

Sidoarjo “ Tragedi di Pondok Pesantren (PP) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, memasuki fase krusial setelah berakhirnya Golden Hour pada Kamis (2/10/2025). Operasi pencarian resmi beralih dari rescue (penyelamatan) menjadi recovery (evakuasi jenazah). Fokus kini diarahkan pada identifikasi akurat para korban melalui pendekatan ilmiah dan prosedur forensik.

Dalam misi kemanusiaan ini, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jatim mendapat dukungan kader-kader muda dari Magister Ilmu Forensik Sekolah Pascasarjana 51¶¯Âþ (UNAIR). Mereka bertugas di Posko Postmortem RSI Siti Hajar, Sidoarjo, hingga Minggu (5/10/2025), memastikan setiap jenazah teridentifikasi dengan prosedur ilmiah dan menjunjung tinggi martabat korban.

Mahasiswa UNAIR Hadir di Garis Depan

Salah satu mahasiswa yang bertugas adalah Salva Sabrina Cahyani, mahasiswa Semester 2 Magister Ilmu Forensik UNAIR. Sejak Rabu (1/10/2025), ia bersama rekan-rekannya turun langsung membantu proses identifikasi. Setiap harinya, 5“10 mahasiswa dikerahkan secara bergantian.

Berikut daftar mahasiswa yang terlibat dalam Posko DVI Polda Jatim:

  • 1 Oktober 2025 (Tim Awal): Syafira Nurfajri, Junior Dwi, Sitti Nadia, Anggi, Sheila, Salva Sabrina Cahyani, Kurotul Aini, Riantrtiana.

  • 2 Oktober 2025 (Tim Lanjutan): Salva Sabrina, Dharma, Rafika Nur Hafidah, Rheina Faticha Asyamsa Hidayat, Tsabita Zulfihandari, Maria Agustina Fitriayu Refi, serta angkatan 2025: Rahmania Novita Ayu Safitri S., Zihan Mila Fadhillah, Shinta Trixie Marcelina, dan Mega Utami.

Menurut Salva, tantangan terbesar adalah mengelola barang bukti sekunder seperti properti korban. Bukti ini kerap menjadi penentu dalam proses identifikasi.

œKita harus tetap profesional dan objektif tanpa mengurangi empati terhadap korban. Setiap langkah harus sesuai prosedur ilmiah, jelas Salva.

Profesionalitas di Tengah Duka

Momen paling menguji datang ketika berhadapan dengan keluarga korban di Posko Ante-Mortem. Di sana, tim mahasiswa melihat langsung kecemasan keluarga yang menunggu kepastian identitas orang terkasih.

œMomen berat adalah melihat keluarga korban menunggu dengan lesu dan cemas. Di titik itu, profesionalitas menjadi kode etik agar tidak sembarangan membagi informasi sensitif, kenang Salva.

Ilmu yang mereka peroleh di bangku kuliah terbukti aplikatif. Mulai dari ilmu pembuktian, analisis bukti, hingga prosedur DVI, seluruhnya digunakan. Sinergi dengan DVI Polda Jatim dan PPDS Forensik UNAIR berjalan secara baik dan sistematis.

Forensik sebagai Ilmu Pengabdian

Pengalaman di Posko DVI RSI Siti Hajar memberi pelajaran penting: ilmu forensik tidak hanya tentang jasad, tetapi juga tentang keluarga yang ditinggalkan. Selain identifikasi, tim mahasiswa juga berperan dalam posko psikologi untuk membantu keluarga korban mengatasi trauma.

œIlmu forensik akan terus berkembang sebagai sarana pengabdian, kemanusiaan, hingga penegakan keadilan, tutup Salva.

Keterlibatan mahasiswa Magister Ilmu Forensik SPS UNAIR dalam tragedi PP Al Khoziny menjadi bukti nyata bagaimana akademisi hadir di garda terdepan kemanusiaan, sekaligus mempertegas peran UNAIR sebagai Kampus Berdampak.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =

AKSES CEPAT