Masalah sampah kini menjadi ancaman nyata di Indonesia, tak hanya di perkotaan, tetapi juga di kawasan wisata alam seperti pantai dan gunung. Ironisnya, mayoritas sampah yang mencemari lingkungan berasal dari rumah tangga, termasuk sisa makanan yang kerap dianggap sepele.
Pada Rabu, 23 Juli 2025, Magister Sains Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana 51动漫 (UNAIR) menggelar Livetalk Series bertema 淚ndonesia Dililit Masalah Sampah: Dari Pantai hingga Puncak Gunung, Saatnya Berbenah. Dalam diskusi ini, tiga narasumber membahas isu sampah dari sudut pandang regulasi, kebijakan, hingga inisiatif komunitas.
Perlu Paradigma Baru: Sampah Sebagai Sumber Daya
Sugasri S.H., mahasiswa S2 Hukum dan Pembangunan UNAIR sekaligus perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan 100% sampah terkelola pada 2029. Untuk mencapai itu, pendekatan lama seperti kumpul-angkut-buang perlu diganti dengan ekonomi sirkular.
淪ampah bukan lagi beban, melainkan sumber daya. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hanya untuk residu, bukan tempat menimbun semuanya, ujarnya tegas.
Studi Kasus Surabaya: Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat
Putri Perwira, S.Hub.Int. dari Pemerintah Kota Surabaya, memaparkan model pengelolaan sampah terintegrasi di kotanya. Surabaya telah memiliki regulasi kuat dan mengembangkan partisipasi warga melalui program Kader Surabaya Hebat (KSH).
Beberapa inovasi juga telah dijalankan, seperti:
-
Pembayaran tiket bus dengan botol plastik
-
Penerapan teknologi gasification power plant di TPA Benowo
淭arget kami, 30% pengurangan sampah berasal dari masyarakat, jelas Putri.
Fakta Mengejutkan: 13,77 Juta Ton Sampah Tak Terkelola
Ficky D. Fauzia, S.E. memaparkan bahwa sepanjang tahun 2024, masyarakat Indonesia menghasilkan 34 juta ton sampah. Dari jumlah tersebut, sekitar 13,77 juta ton tidak terkelola setara dengan iring-iringan 1,7 juta truk sampah, atau dua kali jarak Jakarta ke London.
Yang paling mengkhawatirkan, 45% sampah merupakan sisa makanan, dan mayoritas berasal dari rumah tangga.
淪ampah makanan bukan hanya masalah estetika. Ia menimbulkan bau, mencemari lingkungan, dan mempersulit pengelolaan, ujarnya.
Bank Sampah: Harapan dan Hambatan
Sebagai contoh praktik baik, Ficky mengangkat Bank Sampah Tebuireng di Jombang, yang aktif melakukan edukasi, memilah sampah dari rumah ke rumah, serta mengolah sisa makanan menjadi pakan ternak.
Namun, bank sampah juga menghadapi tantangan besar, terutama keterbatasan modal. Ide kreatif seperti mengubah plastik menjadi paving block sulit direalisasikan karena kurangnya dana.
Ficky menegaskan ada empat elemen penting untuk keberlanjutan bank sampah:
-
Pembinaan yang berkelanjutan
-
SDM dan peralatan yang memadai
-
Dukungan modal
-
Regulasi yang mendorong pemilahan dari sumber
淭anpa modal, bank sampah akan kesulitan bertahan, apalagi berkembang, tegasnya.
Kesimpulan: Saatnya Sinergi Nyata
Diskusi Livetalk ini menegaskan bahwa regulasi dan inovasi sudah ada, namun perubahan perilaku masyarakat serta dukungan nyata dari semua pihak menjadi kunci utama penyelesaian masalah sampah di Indonesia.
Mulai dari rumah tangga hingga pemangku kebijakan, semuanya perlu bersinergi untuk mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




