Waspada Cuaca Ekstrem: Jawa Timur Siaga Hadapi Musim Hujan
Peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai meningkatnya potensi cuaca ekstrem hingga Februari 2026 menempatkan Provinsi Jawa Timur dalam kondisi siaga. Kewaspadaan ini menjadi bahasan utama dalam Talkshow Jurnal 9 Siang TV9 pada Selasa (4/11), yang mengangkat tema kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat edukasi mitigasi di tengah ancaman hidrometeorologi.
Acara ini menghadirkan tiga pilar utama penanggulangan bencana:
-
Dhany Aribowo, S.T., Plt. Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Jatim,
-
Aditya Prana Iswara, S.T., M.Sc., Ph.D., Koordinator Program Studi Magister Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana UNAIR,
-
Syaiful Amin, Ketua LPBI揚WNU Jawa Timur.
BPBD Jatim: Banjir dan Angin Kencang Dominasi Kejadian Bencana
Dalam pemaparannya, Dhany Aribowo mengungkapkan data konkret yang menunjukkan tingginya frekuensi bencana di Jawa Timur.
淏erdasarkan data hingga Oktober, Jawa Timur mencatat total 271 kejadian bencana hidrometeorologi. Banjir menempati peringkat pertama dengan 120 kejadian, disusul angin kencang sebanyak 106 kejadian, jelas Dhany.
BPBD terus memperkuat koordinasi antarwilayah melalui Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) di 38 kabupaten/kota. Tidak hanya fokus pada tanggap darurat, BPBD kini mengedepankan investasi jangka panjang melalui perbaikan infrastruktur dan peningkatan kapasitas wilayah.
淧erbaikan aset seperti jembatan dan drainase dilakukan agar saat bencana datang kembali, infrastruktur tersebut sudah tangguh, tambahnya.
UNAIR: Pendidikan Mitigasi dan Kepemimpinan Kolaboratif
Dari perspektif akademik, Aditya Prana Iswara menegaskan bahwa meningkatnya bencana hidrometeorologi adalah akumulasi aktivitas manusia dalam jangka panjang, terutama terkait tata kelola lahan.
淧erubahan iklim tidak lagi sekadar isu global. Banyak aktivitas manusia, seperti alih fungsi lahan di kawasan pegunungan menjadi vila, memperparah kerentanan terhadap bencana, ujarnya.
Sebagai wujud nyata semangat School of Collaborative Leadership, Program Studi Magister Manajemen Bencana (MMB) UNAIR melakukan redesain kurikulum untuk mencetak sumber daya manusia yang adaptif dan komprehensif.
淜unci mitigasi adalah kontinuitas, bukan reaktif. Kurikulum kami kini bersifat edukatif dan holistik, dengan kolaborasi dari BPBD dan LPBI-NU, agar melahirkan SDM yang resilience (tangguh), tegas Aditya.
Langkah ini sekaligus memperkuat komitmen UNAIR sebagai Kampus Berdampak (Impactful University) yang memadukan riset akademik dengan solusi nyata bagi masyarakat.
LPBI揘U: Kesadaran Diri sebagai Benteng Pertama
Dari sisi masyarakat, Syaiful Amin dari LPBI揚WNU Jatim menekankan pentingnya kesadaran diri sebagai pondasi utama dalam kesiapsiagaan bencana.
淪ering kali kesadaran itu tumbuh setelah bencana terjadi. Tugas kami adalah menanamkan pemahaman bahwa bencana ada di sekitar kita dan kesiapan diri harus dimulai sejak dini, jelasnya.
LPBI揘U mengembangkan program Pesantren Tangguh Bencana, yang bertujuan menyiapkan komunitas pesantren agar memiliki kapasitas mitigasi dan pertolongan pertama secara mandiri.
淜orban bencana umumnya ditolong oleh diri sendiri dan tetangga terdekat, mencapai 93%. Maka masyarakat harus siap dan tangguh menghadapi potensi bencana, lanjut Syaiful.
Kolaborasi dan Teknologi untuk Masyarakat Siaga
Ketiga narasumber sepakat bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama keberhasilan mitigasi. Prinsip 笔濒补苍揇辞揅丑别肠办揂肠迟颈辞苍 harus diterapkan secara konsisten dengan dukungan data digital dan sistem informasi dini yang mudah diakses publik.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk tidak panik namun tetap waspada, selalu mengikuti pembaruan dari kanal resmi seperti BMKG dan BPBD, serta menghindari aktivitas luar ruangan saat cuaca ekstrem.
Penutup talkshow menegaskan pesan sederhana namun fundamental:
淢itigasi bencana dimulai dari langkah kecil攖idak membuang sampah sembarangan, menjaga lingkungan, dan saling peduli.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




