UNAIR Tekankan Pentingnya Evaluasi Program Inklusif
Di tengah meningkatnya semangat pemerintah daerah dalam mendorong inovasi dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), Program Studi Magister Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Sekolah Pascasarjana 51动漫 (UNAIR) menggelar Guest Lecture secara daring pada Senin malam (3/11).
Kegiatan ini membahas tema strategis: 淢onitoring dan Evaluasi Program Pemberdayaan Perempuan, dengan fokus pada efektivitas kebijakan inklusif di tingkat daerah.
Dari Regulasi ke Realita: Menakar Efektivitas Pemberdayaan
Isu pemberdayaan perempuan, anak, disabilitas, dan kelompok rentan (PEDKOR) bukan sekadar jargon kebijakan, tetapi mandat konstitusional yang kuat.
Sejumlah regulasi seperti Amandemen UUD 1945 Pasal 28 (A揓), UU Nomor 7 Tahun 1984 tentang Penghapusan Diskriminasi terhadap Wanita (ratifikasi CEDAW), serta UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, menegaskan arah pembangunan yang inklusif, adil, dan berkeadilan sosial.
Meski demikian, tantangan terbesar berada di ranah implementasi. Banyak program pemberdayaan yang berjalan setiap tahun, namun belum semuanya terukur dampaknya secara menyeluruh.
Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah program tersebut benar-benar melahirkan kemandirian, partisipasi, dan kendali kolektif kelompok rentan, atau hanya berakhir sebagai kegiatan seremonial?
Menjawab Tantangan Zaman: Kualitas SDM dan Kesenjangan Digital
Konteks saat ini memperlihatkan dua arus besar yang saling beririsan: Transformasi Digital dan Inovasi Daerah.
Program pemberdayaan perempuan kini tidak hanya difokuskan pada pelatihan teknis semata, tetapi juga penguatan literasi digital, vokasional, dan kewirausahaan.
Beragam inisiatif seperti kelas kecantikan, e-commerce, hingga kuliner kreatif menunjukkan peran aktif perempuan sebagai penggerak utama UMKM dan ekonomi keluarga.
Namun, tantangan baru muncul dalam bentuk kesenjangan akses dan partisipasi politik. Indikator keberhasilan pemberdayaan tidak lagi berhenti pada angka sertifikasi peserta, tetapi diukur dari sejauh mana kelompok rentan terlibat penuh dalam proses musyawarah pembangunan (musrenbang), serta lahirnya kebijakan atau peraturan desa yang berpihak pada mereka.
淧emberdayaan sejati adalah ketika perempuan dan kelompok rentan memiliki ruang untuk berpartisipasi dalam perencanaan, pengawasan, hingga evaluasi pembangunan, menjadi salah satu pesan reflektif dalam forum tersebut.
Menyongsong SDM Unggul dan Inklusif
Kegiatan Guest Lecture ini menjadi wadah penting bagi mahasiswa dan praktisi PSDM untuk memahami pendekatan monitoring dan evaluasi (Monev) yang lebih holistik dan berbasis dampak.
Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada output kegiatan, tetapi juga pada perubahan sosial dan peningkatan kapasitas manusia (human capital impact) yang berkelanjutan.
Sekolah Pascasarjana UNAIR melalui Program Studi PSDM menegaskan komitmennya untuk melahirkan perancang kebijakan dan penggerak pembangunan manusia yang mampu mengawal program pemberdayaan secara inovatif, partisipatif, dan berbasis bukti ilmiah.
Dengan memperkuat perspektif inklusif ini, UNAIR kembali meneguhkan jati dirinya sebagai kampus berdampak (Impactful University) yang mendorong pembangunan SDM unggul, berkeadilan gender, dan berwawasan keberlanjutan.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




