Di tengah derasnya arus digitalisasi dan ekspansi kota-kota besar, seni pertunjukan tradisional Indonesia menghadapi tantangan eksistensial. Seiring pertumbuhan infrastruktur fisik dan ekonomi, perhatian terhadap warisan budaya non-benda justru kian menipis. Panggung-panggung ludruk, ketoprak, hingga wayang mulai kehilangan penonton, terutama dari kalangan muda.
Dalam situasi ini, pendekatan kota kreatif hadir sebagai strategi agar seni tradisi tidak sekadar bertahan, tetapi juga berkembang di tengah perubahan zaman.
Kota Kreatif Sebagai Ekosistem Budaya
Fenomena ini ditangkap secara apik oleh Lolita Pramesti Nareswari, mahasiswa Sekolah Pascasarjana 51¶¯Âþ (UNAIR), yang menyoroti masa depan seni pertunjukan tradisional. Menurutnya, kota kreatif bukan sekadar label, melainkan ekosistem multidisipliner yang mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis budaya, kreativitas, dan inovasi.
Konsep kota kreatif yang dikembangkan UNESCO melalui Creative Cities Network menempatkan kreativitas dan industri budaya sebagai pilar pembangunan berkelanjutan. Di Indonesia, Pekalongan dan Bandung telah tergabung dalam jejaring tersebut. Namun, implementasi kota kreatif harus melampaui simbolisme, menuju ekosistem nyata yang menopang pelaku budaya lokal ” termasuk seniman seni pertunjukan tradisional.
Dengan demikian, kota kreatif berpotensi menjadi ruang hidup seni tradisi, bukan hanya sebagai panggung pertunjukan, melainkan juga ruang edukasi, kolaborasi, dan inovasi.
Teknologi, Jembatan Lintas Generasi
Tantangan terbesar seni pertunjukan tradisional adalah keterhubungan dengan teknologi digital. Banyak seniman tradisi belum optimal dalam memanfaatkan akses dan literasi digital. Mereka masih bertumpu pada pola pertunjukan konvensional, sementara audiens kini lebih banyak hadir secara daring.
Jika tidak segera dijembatani, perkembangan teknologi informasi berisiko mempercepat kepunahan seni tradisional (Waluyo & Rosmawati, 2021).
Namun, teknologi digital justru bisa menjadi jembatan lintas generasi. Pementasan virtual, dokumentasi digital, hingga kolaborasi lintas disiplin melalui media sosial membuka peluang distribusi pertunjukan yang lebih luas.
Contoh nyata terlihat pada fenomena TikTok. Tari Saman asal Aceh menjadi viral dengan ribuan pengguna menirukan gerakannya (Devi et al., 2025). Format video pendek membuat seni tradisi lebih mudah diterima generasi muda tanpa kehilangan nilai autentiknya. Dengan demikian, teknologi dapat menjadi sarana efektif untuk melestarikan sekaligus mempopulerkan seni tradisional.
Ruang Ekspresi dan Kolaborasi
Selain teknologi, kota kreatif juga harus menghadirkan ruang fisik yang berpihak pada budaya. Sayangnya, banyak ruang budaya di kota besar tergeser oleh fungsi komersial. Akibatnya, seni tradisi kehilangan panggungnya baik secara fisik maupun simbolik.
Karena itu, kota kreatif perlu menjamin keberadaan taman budaya, teater komunitas, dan panggung terbuka yang mudah diakses publik. Seni pertunjukan tradisional seharusnya menjadi bagian dari kebijakan tata ruang, bukan sekadar pelengkap festival seremonial.
Meski begitu, transformasi digital tetap mengandung risiko, seperti terkikisnya esensi seni demi viralitas. Risiko ini dapat diminimalisasi dengan pendampingan literasi digital, pelatihan kreatif, serta kemitraan antara seniman, pemerintah daerah, institusi pendidikan, dan industri kreatif (Dwihantoro et al., 2023).
Beberapa daerah sudah menunjukkan hasil positif. Di Solo, pertunjukan Wayang Orang Sriwedari kini rutin didokumentasikan dan dipublikasikan secara daring, sehingga dapat menjangkau audiens lebih luas.
Menyatukan Masa Lalu dan Masa Depan
Kota kreatif ideal adalah kota yang mengintegrasikan kebudayaan ke dalam tata ruang, regulasi, dan kebijakan pembangunan. Seni tradisi harus menjadi bagian dari rencana besar pembangunan kota, bukan hanya pengisi acara tahunan.
Jika kota kreatif adalah wajah masa depan, maka seni tradisi adalah akar masa lalu yang wajib dijaga agar tidak tercerabut dari identitas bangsa. Membangun kota kreatif yang berdaya saing global tanpa meninggalkan seni tradisional bukan hanya tantangan, melainkan peluang emas untuk menunjukkan pada dunia bahwa kemajuan dan pelestarian budaya bisa berjalan seiring.
Di tengah upaya Indonesia memperkuat ekosistem industri kreatif, seni pertunjukan tradisional tidak boleh tertinggal. Kota kreatif harus menjadi ruang pertemuan lintas generasi, lintas disiplin, dan lintas nilai, agar seni tradisi menemukan bentuk barunya dan tetap hidup di ruang kota masa depan.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




