Jawa Timur “ Angin kencang melanda wilayah Jawa Timur sejak Selasa (2/9) dan diprediksi masih akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda menyebut fenomena ini disebabkan oleh sistem tekanan rendah 1.009 mb di barat Pulau Sumatera. Tarikan massa udara dari timur ke pusat tekanan rendah tersebut memicu peningkatan kecepatan angin yang terasa signifikan di beberapa daerah.
Menurut BMKG, angin kencang berpotensi terjadi terutama pada siang hingga malam hari. Kondisi ini dapat berdampak pada aktivitas masyarakat, mulai dari risiko pohon tumbang, kerusakan ringan pada bangunan, hingga gangguan transportasi.
Tanggapan Pakar Kebencanaan UNAIR
Dr. Hijrah Saputra, S.T., M.Sc., pakar kebencanaan dari Sekolah Pascasarjana 51¶¯Âþ (UNAIR), menilai fenomena ini tidak boleh dianggap sekadar gangguan cuaca.
œAngin bukanlah musuh, melainkan pengingat, tegas Dr. Hijrah.
Ia menjelaskan, hembusan angin hingga 50 km/jam di Mojokerto dan Malang, serta 37“40 km/jam di Surabaya, merupakan bagian dari dinamika iklim global akibat perbedaan tekanan udara ekstrem antara Samudra Pasifik dan benua Australia, ditambah dampak pemanasan global.
Mitigasi yang Masih Terabaikan
Menurut Dr. Hijrah, mitigasi bencana angin kencang belum menjadi prioritas dalam kebijakan publik. Keberadaan baliho raksasa, pepohonan tua, dan infrastruktur rapuh justru menjadi ancaman nyata bagi masyarakat, khususnya di kawasan padat penduduk.
œKetahanan sosial bukanlah konsep abstrak, melainkan kemampuan nyata untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit kembali, jelasnya.
Ia mendorong pemerintah daerah untuk:
-
memperkuat sistem peringatan dini,
-
melakukan audit infrastruktur publik,
-
memperketat standar konstruksi baliho dan reklame,
-
serta memastikan pemeriksaan berkala pada pepohonan di ruang publik.
Pentingnya Kesadaran Kolektif
Selain kebijakan, Dr. Hijrah menekankan peran institusi pendidikan dalam membangun literasi iklim. Sekolah dan universitas diharapkan menjadi pusat edukasi dan riset yang mendorong kesadaran masyarakat terhadap mitigasi bencana.
Ia juga menegaskan pentingnya gotong royong dalam menghadapi ancaman kebencanaan. Solidaritas sosial, menurutnya, merupakan fondasi ketangguhan masyarakat.
œBudaya gotong royong harus dihidupkan kembali, bukan hanya saat bencana besar seperti gempa atau banjir, tetapi juga ketika menghadapi angin kencang yang sering dianggap sepele, tambahnya.
Kesimpulan
Pernyataan Dr. Hijrah Saputra menjadi pengingat bahwa fenomena angin kencang di Jawa Timur adalah alarm bagi masyarakat. Dengan kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan warga, mitigasi risiko dapat dilakukan lebih komprehensif. Angin kencang bukan sekadar ancaman, melainkan pelajaran tentang kewaspadaan, kebersamaan, dan pentingnya membangun masa depan yang tangguh.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




