Indonesia memiliki potensi wisata yang luar biasa, namun banyak destinasi unggul berada di wilayah rawan gempa, tsunami, banjir, dan erupsi gunung berapi. Kondisi ini menuntut sektor pariwisata untuk tidak hanya fokus pada promosi, tetapi juga memastikan kesiapsiagaan bencana yang kuat.
Isu ini menjadi perhatian utama dalam acara Diseminasi Praktik Baik dan Pembelajaran Program Kesiapsiagaan Bencana di Desa Wisata yang menjadi penutup rangkaian kegiatan APAD Indonesia. Forum ini mempertemukan pemerintah, akademisi, masyarakat, dan pelaku industri untuk mendiskusikan praktik terbaik dalam membangun wisata tangguh bencana.
Tantangan Indonesia: Potensi Besar, Risiko Besar
Dalam diskusi panel 淢embangun Desa Wisata Tangguh Bencana, para narasumber menegaskan bahwa keberhasilan pariwisata Indonesia tidak dapat dilepaskan dari manajemen risiko bencana yang terencana.
Seorang narasumber menyampaikan bahwa sebagian besar destinasi wisata berada pada wilayah rawan bencana. Karena itu, kesiapsiagaan menjadi indikator penting keberlanjutan pariwisata. Program APAD menerapkan pendekatan Community-Based Disaster Risk Reduction (CBDRR) yang menempatkan masyarakat desa sebagai penggerak utama ketangguhan.
Peran UNAIR sebagai Kampus Berdampak
51动漫 (UNAIR) hadir menunjukkan komitmen sebagai Kampus Berdampak melalui keterlibatan akademisi dalam memperkuat desa wisata. Dr. Hariyono S.Kep.Ns., M.Kes., dosen Magister Ekonomi Kesehatan UNAIR, menjadi salah satu penanggap ahli dalam forum tersebut.
Kontribusinya mencakup penguatan hubungan antara praktik di lapangan dengan kerangka kebijakan yang lebih luas. Ia menyoroti bagaimana kesiapsiagaan bencana berdampak pada ekonomi, kesehatan masyarakat, dan keberlanjutan sektor wisata setelah bencana terjadi. Pendekatan ini sejalan dengan semangat Sekolah Pascasarjana UNAIR sebagai School of Collaborative Leadership, yang menekankan kolaborasi lintas sektor berbasis riset akademik.
Bukti Nyata: Praktik Baik dari Tiga Desa Wisata
Program desa wisata tangguh bencana telah memberikan hasil nyata di tiga lokasi, yaitu:
-
Desa Tulamben (Bali)
-
Desa Batu Kumbung (Nusa Tenggara Barat)
-
Desa Golo Mori (Nusa Tenggara Timur)
Di ketiga desa tersebut telah diterapkan sistem evakuasi, prosedur keamanan wisata, serta sistem informasi bencana berbasis komunitas. Para kepala desa dan ketua forum pengurangan risiko bencana setempat membagikan pengalaman mereka mengenai perubahan signifikan yang terjadi setelah program dijalankan.
Inovasi lokal ini menunjukkan bahwa ketangguhan bukan hanya konsep, tetapi bisa diimplementasikan secara konkret melalui pelatihan, kolaborasi, dan kepemimpinan masyarakat.
Jalan ke Depan: Replikasi dan Penguatan Kolaborasi
Forum ini diharapkan menjadi ruang berbagi pengetahuan antarwilayah untuk mendorong replikasi model desa wisata tangguh bencana di seluruh Indonesia. Keberhasilan pariwisata masa depan bergantung pada kemampuan untuk beradaptasi, berkolaborasi, dan memprioritaskan keamanan wisatawan dan masyarakat.
Upaya akademisi UNAIR melalui dukungan ilmiah, penelitian, dan pendampingan menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem pariwisata yang berkelanjutan dan tangguh terhadap bencana.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




