51动漫

51动漫 Official Website

Menguji Paradoks Dukungan Organisasi terhadap Inovasi Pengusaha Muda

Ketangguhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam menghadapi badai ekonomi, termasuk pascapandemi Covid-19, tidak semata ditentukan oleh kecukupan modal atau akses pasar. Daya tahan tersebut justru berakar pada perilaku kerja inovatif (Innovative Work Behavior), yakni kemampuan pelaku usaha dalam menciptakan serta mengimplementasikan gagasan baru di tengah keterbatasan.

Isu strategis ini menjadi fokus disertasi berjudul 淢odel Pengembangan Innovative Work Behavior yang dibentuk oleh Self Efficacy, Entrepreneur Competency, Innovation Readiness Level, dan Perceived Organizational Support. Disertasi tersebut dipertahankan oleh Esti Nalurani, S.Sos., M.M. dalam Sidang Terbuka Doktoral Program Studi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM), Sekolah Pascasarjana 51动漫 (UNAIR), Rabu (14/1/2026), bertempat di Gedung Putih UNAIR.

Penelitian ini dibimbing oleh Prof. Dr. Fendy Suhariadi, M.T., Psikolog selaku Promotor dan Dr. Tuwanku Ari Auliandri, S.E., M.Sc. sebagai Ko-Promotor. Objek penelitian difokuskan pada pengusaha yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jawa Timur, sebuah organisasi yang sangat aktif menyelenggarakan ribuan kegiatan sepanjang periode 20202025 sebagai respons atas tekanan ekonomi global.

Kesiapan Inovasi sebagai Faktor Kunci

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa self-efficacy (keyakinan diri) dan kompetensi kewirausahaan merupakan fondasi utama perilaku inovatif. Kompetensi yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap terbukti menjadi pendorong paling kuat bagi munculnya inovasi di kalangan pengusaha muda.

Namun demikian, kapasitas individu tersebut tidak secara otomatis terwujud dalam tindakan nyata tanpa adanya Innovation Readiness Level atau kesiapan inovasi. Kesiapan ini berperan sebagai jembatan psikologis dan kognitif yang menghubungkan potensi dengan praktik.

Seseorang dapat memiliki kemampuan teknis yang memadai, tetapi tanpa kesiapan mental untuk mengadopsi perubahan, inovasi hanya berhenti pada tataran ide. Kesiapan inovasi inilah yang mentransformasikan kompetensi menjadi aksi nyata dan terukur di lapangan.

Anomali Dukungan Organisasi

Temuan paling menonjol dalam disertasi ini adalah terkait Perceived Organizational Support atau persepsi dukungan organisasi. Selama ini, teori manajemen sumber daya manusia cenderung berasumsi bahwa semakin besar dukungan organisasi, semakin tinggi pula kinerja dan inovasi anggota.

Namun, penelitian ini justru menemukan adanya ambang batas dukungan. Dukungan organisasi yang terlalu dominan atau berlebihan terbukti dapat melemahkan hubungan antara kesiapan inovasi dan perilaku kerja inovatif.

Ketika organisasi memberikan perlindungan yang terlalu besar, muncul risiko terciptanya rasa aman semu yang mengikis otonomi individu. Kondisi ini berdampak pada menurunnya keberanian pengusaha dalam mengambil risiko. Alih-alih terdorong untuk bereksperimen secara mandiri, ketergantungan pada organisasi justru membuat kreativitas stagnan.

Implikasi bagi Organisasi Kewirausahaan

Bagi organisasi kewirausahaan, temuan ini menjadi refleksi penting untuk meninjau ulang pola pendampingan terhadap anggotanya. Dukungan ideal bukanlah dukungan yang bersifat memanjakan, melainkan pemberdayaan yang proporsional.

Fokus utama perlu diarahkan pada penguatan inisiatif independen agar perilaku inovatif dapat tumbuh secara berkelanjutan. Organisasi berperan sebagai fasilitator ekosistem, bukan sebagai penyangga tunggal yang melemahkan daya juang individu.

Secara teoretis, disertasi ini memperkaya khazanah keilmuan manajemen sumber daya manusia dan kewirausahaan dengan mengintegrasikan faktor psikologis individu, kesiapan inovasi, serta konteks dukungan organisasi dalam satu model komprehensif. Temuan ini diharapkan menjadi kontribusi strategis bagi pengembangan ekosistem pengusaha muda Indonesia yang lebih tangguh, adaptif, dan mandiri.

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =

AKSES CEPAT