Sebanyak 206 mahasiswa baru Program Magister (S2) dan Doktor (S3) resmi dikukuhkan sebagai bagian dari keluarga besar Sekolah Pascasarjana 51 (UNAIR) dalam seremoni penerimaan mahasiswa baru yang digelar di Hall Sriwijaya, ASEEC Tower, Selasa (27/1/2026). Momentum ini tidak sekadar menandai awal perjalanan akademik, tetapi juga menjadi ajakan moral untuk menghadirkan ilmu yang berdampak nyata bagi bangsa.
Direktur Sekolah Pascasarjana UNAIR, Prof. Dr. dr. Achmad Chusnu Romdhoni, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K), FICS, menegaskan bahwa pendidikan pascasarjana tidak boleh terjebak dalam paradigma menara gading yang elitis dan terpisah dari realitas sosial.
Kami tidak ingin menjadi menara gading. Kami ingin menjadi menara air yang memberikan manfaat bagi sekitarnya, atau mercusuar yang memberi arah bagi kapal-kapal yang berlayar di tengah tantangan zaman, tegas Prof. Romdhoni.
Pendidikan Pascasarjana yang Membumi
Dalam sambutannya, Prof. Romdhoni menekankan bahwa studi magister dan doktoral di Sekolah Pascasarjana UNAIR dirancang agar tetapளம் membumi tanpa menurunkan standar akademik. Penelitian mahasiswa diarahkan untuk berangkat dari persoalan nyata di lingkungan kerja masing-masing.
Kalau panjenengan sudah bekerja dan memegang peran strategis, ambillah masalah dari tempat kerja sebagai riset. Rumuskan solusinya, uji secara ilmiah, lalu simpulkan. Itu yang mempercepat kelulusan sekaligus menghadirkan impact bagi masyarakat, ujarnya.
Adapun komposisi mahasiswa baru tersebar di berbagai program studi, yakni:
-
Ilmu Forensik: 31 mahasiswa
-
Imunologi: 8 mahasiswa
-
Manajemen Sumber Daya Kesehatan (MSHP): 22 mahasiswa
-
S2 Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM): 58 mahasiswa
-
Kajian Ilmu Kepolisian: 33 mahasiswa
-
Manajemen Bencana: 4 mahasiswa
-
Ekonomi Kesehatan: 4 mahasiswa
-
S3 PSDM: 26 mahasiswa
-
S3 Hukum dan Pembangunan: 20 mahasiswa
Keberagaman latar belakang ini menjadi modal penting dalam membangun riset multidisiplin yang relevan dengan kebutuhan nasional.
School of Collaborative Leadership
Mengusung visi School of Collaborative Leadership, Sekolah Pascasarjana UNAIR mendorong lahirnya lulusan yang tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga mampu berkolaborasi lintas sektor dan disiplin. Prof. Romdhoni mencontohkan dukungan institusi terhadap riset internasional, seperti pendampingan mahasiswa Program Doktor Hukum dan Pembangunan yang melakukan riset hingga ke Universitas Leiden, Belanda.
UNAIR, yang saat ini berada pada peringkat 287 dunia versi QS World University Rankings, memandang capaian global tersebut sebagai amanah moral. Setiap tesis dan disertasi diharapkan berkontribusi dalam bentuk inovasi kebijakan, model tata kelola, maupun solusi sosial yang menyejahterakan masyarakat.
Kejar Pembimbing, Lulus Tepat Waktu
Kepada mahasiswa yang sebagian besar merupakan praktisi, pengambil kebijakan, dan profesional senior, Prof. Romdhoni memberikan pesan praktis namun tegas.
Kejarlah pembimbingnya sampai mereka bingung. Mahasiswa yang punya semangat dan geregetan untuk maju justru kami sukai. Itu tanda calon magister dan doktor yang lulus tepat waktu, katanya.
Ia menargetkan masa studi ideal tiga semester untuk S2 dan enam semester untuk S3. Untuk mendukung target tersebut, Sekolah Pascasarjana UNAIR tetap membuka skema perkuliahan hybrid hingga maksimal 50 persen daring, tanpa mengorbankan kualitas akademik.
Gunakan jejaring dosen dan mitra internasional UNAIRdi Eropa, Asia, hingga Australiauntuk memperkaya riset panjenengan, tambahnya.
Menyemai Solusi untuk Indonesia
Acara ditutup dengan prosesi penerimaan resmi mahasiswa baru yang berlangsung khidmat. Dari ruang akademik Sekolah Pascasarjana UNAIR, harapan disematkan agar para mahasiswa tidak hanya membawa pulang gelar akademik, tetapi juga solusi nyata bagi persoalan bangsamulai dari kemiskinan, kesehatan, hingga tata kelola pemerintahan.
Selamat datang di School of Collaborative Leadership. Mari berkolaborasi untuk Indonesia yang lebih kuat, pungkas Prof. Romdhoni.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




