Riuh perayaan Natal 2025 dan persiapan menyambut Tahun Baru 2026 mulai terasa di berbagai daerah. Bandara, terminal, hingga destinasi wisata dipadati masyarakat yang memanfaatkan momentum libur panjang. Namun, di balik euforia tersebut, tantangan kesehatan justru mengintai.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan potensi cuaca ekstrem di penghujung tahun. Perubahan suhu drastis, hujan intens, dan kelembapan tinggi berisiko menurunkan kondisi fisik, terutama ketika tubuh dipaksa tetap aktif selama masa liburan.
Situasi ini kerap diperparah oleh fenomena balas dendam kuliner. Pola makan yang tidak teratur, konsumsi gula dan lemak berlebih, serta kurangnya istirahat menjadi kombinasi yang membuka peluang turunnya sistem imun. Akibatnya, flu, batuk, dan kelelahan mudah menyerang.
Menjaga Benteng Pertahanan Tubuh
Pakar Gizi dan Imunologi dari Sekolah Pascasarjana 51动漫 (UNAIR), Dr. Waode Fifin Ervina Muslihi, S.Gz., M.Imun., menjelaskan bahwa sistem imun bekerja layaknya sebuah orkestra yang sangat sensitif terhadap asupan nutrisi.
淪aat liburan, tubuh sering mengalami kelelahan, sementara asupan makanan justru didominasi gula dan lemak jenuh yang memicu inflamasi. Padahal, sistem imun membutuhkan dukungan nutrisi yang tepat agar tetap optimal, terutama di tengah cuaca hujan yang lembap, jelasnya.
Ia menekankan pentingnya mikronutrisi sebagai 渁munisi utama pertahanan tubuh, di antaranya:
-
Vitamin C, berperan sebagai antioksidan untuk menangkal radikal bebas
-
Vitamin B kompleks, membantu menjaga metabolisme energi agar tubuh tidak mudah lelah
-
Vitamin D, yang secara ilmiah terbukti berperan penting dalam aktivasi sel T untuk melawan patogen
Selain itu, hidrasi yang cukup juga tidak boleh diabaikan.
淢inum air putih yang cukup membantu menjaga kelembapan selaput lendir saluran pernapasan, yang merupakan garis pertahanan pertama tubuh terhadap virus dan bakteri, tambah Dr. Fifin, yang aktif meneliti bidang imunologi di Program Studi Magister Imunologi UNAIR.
Pentingnya Literasi Imunologi di Era Perubahan Iklim
Wawasan tersebut menunjukkan bahwa menjaga imunitas bukan sekadar persoalan konsumsi suplemen, melainkan pemahaman menyeluruh tentang cara kerja tubuh. Di tengah dinamika ancaman penyakit dan dampak perubahan iklim global, kebutuhan akan ahli yang memahami irisan antara gizi dan imunologi menjadi semakin mendesak.
Kondisi ini menjelaskan mengapa Program Studi Magister Imunologi Sekolah Pascasarjana UNAIR semakin diminati oleh para profesional kesehatan. Sebagai satu-satunya program imunologi di Indonesia yang terakreditasi Unggul oleh LAM-PTKes, prodi ini menjadi pusat pengembangan solusi kesehatan berbasis sains yang aplikatif bagi masyarakat.
Pembelajaran di bidang imunologi tidak berhenti pada riset laboratorium, tetapi juga menyentuh praktik kehidupan sehari-hari, mulai dari pola makan, manajemen stres, hingga pengaruh lingkungan terhadap daya tahan tubuh. Integrasi ilmu tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan kesehatan bangsa.
Tips Liburan Sehat dan Aman
Menutup penjelasannya, Dr. Fifin mengingatkan agar masyarakat tetap waspada tanpa harus mengurangi kenikmatan libur panjang Natal dan Tahun Baru.
淟iburan tetap bisa dinikmati dengan nyaman jika diimbangi nutrisi yang tepat, istirahat cukup, dan pemahaman dasar tentang imunitas. Kesehatan adalah investasi jangka panjang, pungkasnya.
Bagi masyarakat yang tertarik mendalami lebih jauh sains di balik sistem pertahanan tubuh manusia, informasi lengkap mengenai Program Studi Magister Imunologi Sekolah Pascasarjana UNAIR dapat diakses melalui laman resmi pasca.unair.ac.id.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




