Sebagai individu yang tumbuh di tengah arus perubahan zaman, saya menyadari bahwa transformasi sebuah kota dari basis industri menuju kota kreatif yang berkelanjutan bukanlah proses sederhana. Di tengah tantangan era Society 5.0, Surabaya telah mengambil langkah progresif yang patut diapresiasi. Kota ini mulai mengintegrasikan teknologi digital dalam pembangunan, menyesuaikan diri dengan perubahan di mana kreativitas dan inovasi kini menjadi aset utama, menggantikan ketergantungan pada sumber daya alam. Hal ini menggugah Alvano Arif Rachman, Mahasiswa Peminatan Industri Kreatif, Prodi Magister Pengembangan Sumber Daya Manusia Sekolah Pascasarjana UNAIR, menuangkannya dalam tulisan ini.
Identitas Baru Kota Metropolitan
Sebagai kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia, Surabaya menampilkan identitas baru yang lebih dinamis dan berwawasan masa depan. Inovasi dalam mengembangkan konsep kota kreatif tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga dimensi sosial, budaya, dan lingkungan. Pendekatan yang digunakan menekankan potensi lokal, keberlanjutan, serta kekuatan budaya yang tumbuh di masyarakat.
SWK Reborn: Inovasi Digital UMKM
Salah satu program yang menonjol adalah SWK Reborn, lahir dari sinergi akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha melalui kerangka Creating Shared Value (CSV) dari 51动漫. Diprakarsai Gancar Candra Premananto dan Ahmad Rizki Sridadi, program ini merupakan inisiatif digitalisasi sektor UMKM yang memberikan pelatihan dan fasilitas bagi pelaku usaha lokal untuk bersaing di era digital.
Para pelaku UMKM didorong memanfaatkan teknologi informasi dan platform daring sebagai sarana pemasaran produk. Program ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah kota dalam memperkuat fondasi ekonomi kreatif melalui pemberdayaan UMKM.
Meskipun berdampak positif, beberapa aspek masih dapat dimaksimalkan, seperti sarana promosi, dukungan pemerintah, dan kolaborasi dengan komunitas kreatif. Dengan mengonsep SWK sebagai ruang kreatif, ide-ide seperti festival tematik berbasis budaya lokal, showcase produk UMKM, hingga workshop dan pertunjukan musik akustik dapat memperluas eksposur UMKM, khususnya kepada generasi muda.
Peran Kampus dan Tantangan di Depan Mata
Transformasi menuju kota kreatif sangat dipengaruhi kontribusi dunia pendidikan. Contohnya, Universitas Ciputra Surabaya melalui program Fashionology 2025 berhasil menggabungkan kreativitas dengan keberlanjutan. Program ini menghadirkan karya desain busana berbasis upcycling dan pemanfaatan limbah, wujud nyata ekonomi sirkular. Kolaborasi antara mahasiswa dan UMKM lokal, terutama melalui media batik, memperkuat identitas budaya sekaligus memberi nilai tambah pada produk lokal.
Namun, jalan menuju kota kreatif yang berkelanjutan masih penuh tantangan. Salah satu yang paling nyata adalah ketimpangan akses terhadap infrastruktur digital. Walaupun proyek Smart City sudah berjalan, masih ada wilayah yang belum menikmati akses teknologi secara merata. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi pemerataan manfaat ekonomi digital.
Literasi Digital dan Keberlanjutan Lingkungan
Solusi yang diperlukan bukan hanya investasi fisik, tetapi juga peningkatan literasi digital di seluruh lapisan masyarakat. Hal ini harus direncanakan dan diimplementasikan secara terukur agar ketertinggalan literasi digital tidak terlalu jauh dibanding kota lain, seperti Bandung atau Tallinn, Estonia, yang dikenal sebagai pelopor digital governance.
Aspek lingkungan pun tak kalah penting. Pengembangan industri kreatif harus disertai regulasi dan kesadaran akan dampak lingkungan. Inisiatif seperti Fashionology 2025 yang mengusung desain ramah lingkungan perlu mendapat dukungan lebih luas dan berkelanjutan.
Kunci Sukses: Kolaborasi Multisektor
Strategi jangka panjang Surabaya dalam membangun kota kreatif juga menunjukkan keseriusan melalui kerja sama global. Kolaborasi dengan universitas internasional seperti Tsinghua dan Shih Chien membuka ruang pertukaran teknologi serta praktik terbaik yang dapat diadaptasi ke konteks lokal. Pendekatan global-lokal ini menjadikan Surabaya lebih fleksibel dan adaptif dalam membentuk ekosistem kreatif yang kuat serta berdaya saing tinggi.
Akhirnya, kunci transformasi ini adalah kolaborasi. Pemerintah, sektor swasta, dunia pendidikan, dan masyarakat harus berjalan bersama dalam satu visi. Pemerintah memastikan kebijakan inklusif, dunia kampus mendorong inovasi berbasis teknologi dan budaya, sementara masyarakat berperan aktif sebagai pelaku perubahan. Jika semua elemen bersinergi harmonis, Surabaya dapat menjadi kota kreatif berkelanjutan yang unggul di tingkat nasional maupun di kancah Asia Tenggara.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




