51动漫

51动漫 Official Website

Potensi Akar Adventif Sambung Nyawa sebagai Obat Herbal Antiinflamasi

Sumber: Halodoc
Sumber: Halodoc

Inflamasi atau peradangan merupakan bentuk pertahanan tubuh yang mana sistem imun mengenali dan menyerang antigen yang membahayakan tubuh. Panas (calor), kemerahan (rubor), pembengkakan (tumor), rasa sakit (dolor), dan kehilangan fungsi (functio laesa) menjadi lima ciri- ciri utama peradangan. Sensasi panas dan kemerahan terjadi karena peningkatan aliran darah, sementara pembengkakan disebabkan oleh penumpukan cairan. Rasa sakit dipicu oleh pelepasan mediator kimia seperti prostaglandin. Pada awal luka, inflamasi akut terjadi segera dan bersifat nonspesifik. Pada kondisi pembersihan antigen yang tidak tuntas, inflamasi terus- menerus terjadi dan berubah menjadi kronis. Inflamasi kronis menjadi penyebab banyak penyakit degeneratif seperti tumor, kelainan neurologis dan kardiovaskuler

Saat ini, belum ada konsensus mengenai pengobatan terbaik untuk penyakit inflamasi. Sementara itu, antiinflamasi dapat dikelompokkan menjadi dua grup besar yakni antiinflamasi penarget persinyalan sitokin utama (interleukin 1, interleukin 6, dan tumor nekrosis factor alfa) dan antiinflamasi yang bekerja independen dari jalur- jalur persinyalan yang telah disebutkan. Obat- obatan tersebut dapat berupa antiinflamasi nonsteroid (NSAID), glukokortikoid, dan antibodi anti-sitokin. Namun, mekanisme di balik pengobatan ini masih kompleks dan sedang dalam penelitian. Terlebih antiinflamasi yang ada hanya memberikan efek singkat disertai banyak efek samping. Oleh sebab itu, penelitian terkait penemuan obat antiradang yang efektif dan rendah efek samping terus- menerus dilakukan.

Salah satu alternatif pengembangan antiinflamasi adalah memanfaatkan pengobatan berbasis bahan alam, khususnya tanaman herbal. Kandungan senyawa metabolit sekunder dipercaya memiliki bioaktivitas dengan efek samping yang lebih rendah. Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai antiinflamasi adalah Gynura procumbens, atau lebih dikenal sebagai sambung nyawa. Polifenol, khususnya flavonoid, memainkan peran penting dalam memunculkan efek antiradang. Daun G. procumbens dilaporkan dapat menyembuhkan peradangan topikal pada luka diabetes, sedangkan bunganya menghentikan pensinyalan inflamasi MAPK/NF-魏B akibat induksi lipopolisakarida. Penelitian antiinflamasi G. procumbens pada bab ini dikhususkan pada penyembuhan luka bakar derajat 2. Tipe luka ini merupakan kejadian patologis yang umum di masyarakat dan sewaktu-waktu dapat memburuk apabila tidak mendapatkan pengobatan yang tepat. Penghantaran ekstrak G. procumbens menggunakan sistem nanokapsul terbukti dapat meningkatkan efek antiperadangan pada luka bakar.

Studi in vivo dilakukan pada mencit Balb/c jantan yang dimodelkan menderita luka bakar derajat 2. Kadar interleukin 6 (IL6), prostaglandin 2 (PGE2), dan vascular endothelial growth factor (VEGF) baik secara sistemik maupun lokal diukur pada tahap inflamasi (4 hari pasca luka) dan tahap proliferasi (10 hari pasca luka). Pada hari keempat pasca luka, kelompok perlakuan Gr-nh menunjukkan efek antiinflamasi lokal paling baik dan berbeda signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol (C) dan kontrol positif (C+). Menariknya, kadar IL6 sistemik dilaporkan tinggi pada perlakuan Gr-nh dan ekstrak. Hal ini menunjukkan bahwa nanohidrogel yang berukuran sangat kecil, lebih kecil dari 6-7 nm, mampu menembus kulit melalui stratum corneum dan memasuki rute transdermal. Penghantaran melalui transdermal ini memungkinkan bahan aktif dilepaskan secara terkontrol, mempengaruhi respons imun lokal dan sirkulasi sistemik. Pengaruh pada sistemik ini tampaknya terkait dengan persinyalan IL6-trans, yang menginduksi keratinosit dan makrofag untuk mengekspresikan VEGF guna memicu angiogenesis. Secara singkat, IL6 menjembatani polarisasi makrofag pro-inflamasi menjadi makrofag anti-inflamasi. Jumlah makrofag anti-inflamasi ini meningkat pada fase akhir inflamasi. Selain itu, persinyalan IL6-trans mengatur migrasi fibroblas dan keratinosit serta mendorong produksi VEGF.

Penulis: Prof. Dr. Yosephine Sri Wulan Manuhara, Dra., M.Si.

Link:

AKSES CEPAT