51动漫

51动漫 Official Website

Potensi Curcumin dan Fibrin Glue Sebagai Terapi Adjuvan Dalam Pencegahan Rekurensi Pterigium Pasca Eksisi

Foto by Alomedikaa

Pterigium merupakan salah satu penyakit inflammasi dan degeneratif pada permukaan okular dengan insiden yang cukup tinggi di negara-negara tropis seiring dengan paparan sinar ultraviolet (UV) sebagai faktor resiko utama. Selain insidensi yang tinggi, pterigium juga memiliki angka kekambuhan yang cukup tinggi. Hal ini dipengaruhi beberapa faktor, seperti : usia pasien, teknik operasi yang digunakan, faktor genetik dan paparan UV berulang. Berbagai cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi angka rekurensi pterigium pasca pembedahan adalah dengan memodifikasi teknik eksisi pterigium dengan penggunaan graft konjungtivaatau yang umum digunakan di Indonesia adalah penggunaan tambahan mitomycin-C (MMC), namun penggunaan MMC bersifat toksik pada permukaan okuli dan meningkatkan resiko perforasi kornea.

Curcumin merupakan derivat polyphenol dari turmeric (Curcuma longa) yang memiliki kandungan farmakologis sebagai antioksidan, antiapoptosis dan antiproliferatif sedangkan Fibrin Glue (FG) adalah produk yang berasal dari derivat darah yang digunakan sebagai perekat biologis yang bekerja dengan cara mengimitasi tahap akhir dari kaskade koagulasi darah ketika larutan fibrinogen diaktivasi oleh thrombin. Curcumin dan Fibrin Glue memiliki efek antiinflammasi yang cukup tinggi dengan kemampuannya menekan beberapa sitokin proinflammasi yang terdapat pada pterigium seperti matrix metalloproteinase-3 (MMP-3), vascular endothelial growth factor (VEGF) dan Transforming Growth Factor- (TGF-尾) sebagai kunci proses inflamasi. Penekanan pada mediator ini dalam penelitian terdahulu akan menekan proses proliferasi jaringan pterigium dan menginduksi apoptosis pada jaringan pterigium sehingga diharapkan dapat menjadi alternatif terapi adjuvan yang potensial untuk mengurangi kekambuhan pterigium pasca eksisi di masa depan.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental in vitro dengan menggunakan kultur sel fibroblas pterigium manusia yang didapatkan dari jaringan pterigium pasien. Jaringan fibroblast pada pterigium manusia yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari kultur primer pterigium pasca dilakukan eksisi dengan teknik bare sclera kemudian dilakukan kultur primer secara in vitro pada media tumbuh, kemudian dibagi menjadi empat kelompok perlakuan : kelompok tanpa intervensi sebagai kontrol negatif, kelompok dengan intervensi curcumin (200 碌mol/L), kelompok dengan intervensi MMC (0,4 mg/mL) dan kelompok dengan intervensi FG. Pada keempat kelompok ini, dilakukan penilaian ekspresi MMP-3, TGF-尾 dan VEGF yang dinilai setelah 48 jam dan dianalisis menggunakan uji imunositokimia dan pengukuran intensitas menggunakan software ImageJ. Hasil antar kelompok dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA dan uji post hoc dengan SPSS.

Hasil analisis menunjukkan ekspresi MMP-3 tertinggi didapatkan pada kelompok tanpa perlakuan dan ekspresi paling rendah terdapat pada kelompok MMC 0,4 mg/mL. Ekspresi MMP-3 dengan intervensi curcumin menunjukkan adanya penurunan ekspresi MMP-3 yang cukup bermakna jika dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif. Kelompok dengan intervensi FG juga menunjukkan adanya  efek supresi MMP-3 cukup signifikan, namun tidak berbeda jauh dengan kelompok curcumin (p < 0.05). Ekspresi VEGF juga menunjukkan ekspresi yang paling rendah pada kelompok MMC, diikuti kelompok curcumin dan kelompok fibrin glue. Uji anova menunjukkan perbedaan ekspresi VEGF yang signifikan antara masing-masing kelompok (p<0,001).

Ekspresi TGF-尾 tertinggi terdapat pada kelompok kontrol negatif, angka tersebut secara signifikan menurun pada kelompok MMC diikuti oleh kelompok curcumin dan kelompok FG (p<0,001). Antara kelompok curcumin dengan kelompok FG, tidak didapatkan adanya perbedaan yang signifikan (p>0.05). Eksperimen ini menunjukkan bahwa MMC, curcumin dan FG secara signifikan mampu menurunkan ekspresi MMP-3, VEGF dan TGF-尾 jika dibandingkan dengan kelompok kontrol (P<0.05). Penurunan ekspresi mediator yang tertinggi didapatkan pada pemberian intervensi MMC, diikuti kelompok curcumin dan FG.

Mitomycin-C masih merupakan agen yang paling potensial untuk mengurangi kekambuhan pterigium melalui supresi dari sitokin-sitokin pro inflammasi, namun MMC bersifat toksik pada permukaan okuli. Curcumin dan fibrin glue juga memiliki potensi yang cukup baik untuk menekan mediator inflamasi pada jaringan pterigium sehingga keduanya berpotensi untuk menjadi terapi adjuvan yang lebih aman untuk mengurangi rekurensi pterigium di masa depan.

Penulis: Dr. Evelyn Komaratih, dr., Sp.M (K), Dr. Luki Indriaswati, dr, Sp.M (K), Ferdian Ramadhan, dr., Sp.M, M.Ked.Klin.

Link Jurnal:

AKSES CEPAT