51动漫

51动漫 Official Website

Potensi Daun Kelor Sebagai Anti-Vibrio dan Pengaruhnya pada Pertumbuhan Udang Vanamei

Foto by Trubus

Udang merupakan salah satu komoditas penting dalam industry akuakultur di Indonesia. Kebutuhan pasar domestic maupun ekspor yang tinggi dari komoditas ini menyebabkan adanya program intensifikasi udang yang terus digaungkan oleh pemerintah. Kegiatan intensifikasi budidaya udang secara positif memang dapat meningkatkan produksi budidaya udang, namun dari kegiatan tersebut juga tidak lepas dari adanya permasalahan berupa penyakit udang. Vibriosis merupakan salah satu penyakit yang sering menjangkiti budidaya udang yang disebabkan oleh bakteri Vibrio, beberapa contohnya adalah Vibrio harveyii dan Vibrio parahaemolyticus. Penggunaan antibiotic untuk mengatasi masalah vibriosis ini telah banyak dikaji dan disimpulkan terdapatnya efek negative yang muncul setelah penggunaan antibiotic. Oleh karena itu, perlu adanya kajian mengenai bahan alam yang dapat digunakan sebagai antibakteri namun juga mampu meningkatkan pertumbuhan udang.

Kelor dikenal sebagai tanaman obat yang memiliki berbagai macam manfaat ketika dikonsumsi. Selain kandungan nutrisinya yang bagus, daun kelor memiliki berbagai macam senyawa fitokimia yang dapat berperan sebagai antioksidan, antifungi, anti-inflamasi, antibakteri dan imunostimulant. Penggunaan daun kelor belum banyak dikaji dalam bidang akuakultur khususnya sebagai anti-vibrio serta efeknya setelah dikonsumsi oleh udang. Penelitian yang dilakukan oleh Kenconojati et al. (2023) menyebutkan bahwa ekstrak dari daun kelor memiliki potensi sebagai bahan penghambat pertumbuhan Vibrio, khususnya Vibrio harveyii dan Vibrio parahaemolyticus pada konsentrasi 12.5%. Hal ini diduga berkaitan dengan kandungan fitokimia dari ekstrak etanol daun kelor yang mengandung flavonoid, saponin, tannin, dan alkaloid yang memiliki bioaktivitas sebagai antibakteri.

Aktivitas vibriocidal ekstrak daun kelor terhadap Vibrio harveyii dan Vibrio parahaemolyticus tidak didukung dengan efek pertumbuhan udang yang baik setelah diberikan ekstrak daun kelor ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan dengan kandungan ekstrak daun kelor tidak berbeda secara signifikan dengan perlakuan tanpa pemberian ekstrak daun kelor. Menurut hasil penelitian, semakin tinggi pemberian dosis ekstrak justru memperlihatkan pertumbuhan yang semakin turun. Hal ini diduga berkaitan pula dengan kandungan fitokimia pada ekstrak daun kelor. Beberapa senyawa fitokimia seperti saponin, tannin, dan alkaloid diketahui dapat berperan sebagai factor antinutrisi yang dapat menghambat penyerapan nutrient pakan seperti protein, vitamin dan mineral. Oleh karena itu, keberadaan senyawa ini pada pakan perlu diperhatikan dosisnya sehingga pengaruh antinutrisi dapat ditekan.

Penulis: Hapsari Kenconojati, S.Si., M.Si.

Referensi: Kenconojati, H., Ulkhaq, M.F., Azhar, M.H., Rukmana, N.R. 2023. Vibriocidal activity of ethanol extract of Moringa leaves and its effect on the growth of Pacific White Shrimp. Jurnal Medik Veteriner. 6(1): 75-81.

AKSES CEPAT