Inisiatif utama pemerintah Indonesia, makanan bergizi gratis, dijadwalkan berlangsung dari 2024 hingga 2029. Tujuan dari program ini adalah untuk menurunkan angka stunting, mencegah gizi buruk, dan meningkatkan asupan gizi anak sekolah (Sarjito, 2024). Namun, tidak adanya produksi susu dan daging sapi asli menjadi kendala utama efektivitas program makanan sehat gratis. Indonesia memproduksi susu jauh lebih sedikit daripada yang dibutuhkan. Negara ini akan membutuhkan 8,7 juta ton susu pada tahun 2024, tetapi hanya 0,9 juta ton yang akan diproduksi (Marantha et al., 2024). Hal ini karena peternak skala kecil di Indonesia yang menggunakan praktik pertanian tradisional memegang sebagian besar sapi perah. Penerapan bioteknologi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan efisiensi reproduksi ternak (Gupta dan Savaliya, 2012).
Dalam ranah reproduksi, transfer embrio adalah teknik yang efektif untuk mendapatkan hewan berkualitas tinggi dalam jumlah yang cukup (Erdem et al., 2020). Namun, kaliber embrio yang dibuat menentukan seberapa baik teknik ini bekerja. Kemampuan donor betina untuk membuat embrio membatasi pembuatan embrio in vivo; oleh karena itu, perkembangan embrio in vitro adalah pilihan (Gualtieri et al., 2024). Proses fertilisasi in vitro, yang melibatkan penyatuan oosit dan spermatozoa di luar tubuh ibu, adalah fokus teknologi reproduksi modern. Langkah-langkah dalam proses ini meliputi pengumpulan oosit, pematangan oosit, pengumpulan spermatozoa, kapasitasi spermatozoa, dan penetrasi spermatozoa ke dalam oosit zona pellucida hingga perkembangan zigot (Anifandis et al., 2014).
Sejumlah penelitian juga telah dilakukan tentang penambahan faktor pertumbuhan, seperti faktor pertumbuhan seperti insulin 1 (IGF-1), ke media pematangan oosit dan kultur embrio (Arias et al., 2022; Gao-Ping et al., 2023; Kim et al., 2023). IGF-1 memiliki efek sinergis pada proses steroidogenesis, pematangan oosit, dan perkembangan embrio secara in vitro. Ketika ditambahkan ke kondisi kultur embrio, itu juga dapat meningkatkan pertumbuhan sel kumulus, pematangan nuklir oosit, dan laju pembelahan embrio, serta mempercepat proses meiotik dan mitosis (Fernandez-Gonzalez et al., 2021). IGF-1 dapat menyelamatkan embrio dari kematian pada berbagai spesies, termasuk sapi (Carrillo-Gonzalez et al., 2024). Proses reproduksi dan kesehatan sel granulosa juga secara signifikan didukung oleh hormon progesteron dan estrogen, yang sebagian besar diproduksi oleh ovarium (Skinner et al., 2008).
Hepatosit adalah sel stabil dengan kemampuan regenerasi yang cukup besar dan umur yang relatif panjang (Kholodenko dan Yarygin, 2017). Faktor Nekrosis Tumor-伪 mempengaruhi regenerasi hepatosit setelah hepatektomi parsial (Michalopoulos, 2010). Folikel ovarium yang tumbuh memunculkan cumulus oophorus, unit struktural dan fungsional yang menghasilkan hormon steroid, IGF-1, dan zat lainnya (Turathum et al., 2021). Ovarium menghasilkan hormon steroid estrogen, yang terlibat dalam pertumbuhan dan pemeliharaan struktur organ reproduksi wanita (Xu et al., 2022).
Tidak pernah ada penelitian yang berkonsentrasi pada kultur sel hepatosit dan kumulus yang mampu memproduksi IGF-1 dan hormon steroid (progesteron dan estrogen). Diharapkan kultur hepatosit dan jaringan oophorus cumulus, yang dapat diperoleh dari rumah potong hewan, pada akhirnya akan digunakan untuk mempromosikan fertilisasi in vitro pada sapi dengan memproduksi hormon steroid ovarium dan IGF-1 sebagai bahan pertumbuhan.
Untuk memenuhi permintaan dan membantu keberhasilan program gizi anak, diharapkan produksi susu dan daging sapi meningkat di dalam negeri dan menggunakan teknologi yang sesuai (Britt et al., 2018). Pencapaian tujuan tersebut mungkin bergantung pada inovasi bioteknologi dalam industri peternakan, khususnya dalam bentuk teknik reproduksi yang lebih efektif. Tujuan dari artikel ulasan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman dan menawarkan landasan teoretis untuk pemanfaatan jaringan hepatosit dan ovarium dari sapi potong hewan untuk membuat senyawa yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil konsepsi in vitro pada sapi.
Hati sapi, produk sampingan rumah jagal, dapat berfungsi sebagai sumber IGF-1, sedangkan ovarium menghasilkan estrogen dan progesteron. Suplementasi senyawa bioaktif ini yang diperoleh melalui kultur jaringan dapat meningkatkan keberhasilan IVF pada sapi. Strategi ini menawarkan potensi untuk menghasilkan jantan yang unggul secara genetik untuk produksi air mani beku, sehingga meningkatkan produktivitas sapi perah dan sapi produktif.
Penulis: Dr. Sri Mulyati, drh., M.Kes.





