Malaria merupakan penyakit infeksi parasit yang banyak ditemui di wilayah tropis dan subtropis. Insiden malaria meningkat semenjak terjadinya resistensi obat terhadap Plasmodium falciparum. Resistensi artemisinin sebagai obat antimalaria, pertama kali dilaporkan di negara Kamboja dan menyebabkan peningkatan terhadap kegagalan pengobatan malaria berbasis artemisinin.
Tanaman merupakan sumber bahan obat antimalaria. Salah satu tanaman subfamili Sapindaceae yang telah diuji untuk aktivitas antimalaria adalah Dodonae angustifolia dan Alectryon serratus. Studi sebelumnya telah melaporkan bahwa Alectryon serratus memiliki aktivitas antimalaria baik in vitro (pengujian terhadap kultur P. falciparum) maupun in vivo (pengujian terhadap hewan coba). Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui aktivitas antimalaria fraksi etil asetat dari daun Alectryon serratus dan mengidentifikasi metabolit sekundernya. Daun Alectryon serratus diperoleh dari Hutan Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur.
Pada penelitian ini, dilakukan pemisahan fraksi etil asetat dari daun Alectryon serratus dengan menggunakan kromatografi kolom. Kemudian hasil pemisahan tersebut (disebut sebagai subfraksi) diujikan secara in vitro terhadap Plasmodium falciparum galur 3D7 menggunakan lima konsentrasi (10, 1, 0,1, 0,01 dan 0,001 碌g/mL) dari setiap subfraksi diuji. Persentase penghambatan pertumbuhan dan nilai IC50 kemudian ditentukan dari hasil pengujian. Nilai IC50 (Inhibitory concentration 50%) merupakan nilai yang menunjukkan konsentrasi sampel uji yang dapat menghambat pertumbuhan P. falciparum sebesar 50% sehingga semakin rendah nilai IC50 maka semakin tinggi aktivitas antimalaria dari sampel uji tersebut. Pada pengujian ini digunakan obat standar klorokuin sebagai kontrol positif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat subfraksi, ETA.4, ETA.8, ETA.9 dan ETA.11, memiliki aktivitas antimalaria dalam kategori strong active dengan nilai IC50 berturut-turut sebesar 0,035; 0,187; 0,015 dan 0,017 碌g/mL. Subfraksi ETA.11 dipisahkan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) preparatif menghasilkan ETA.11.1 dan ETA.11.2. Subfraksi ETA.11.1 dan ETA.11.2 menunjukkan aktivitas antimalaria dengan nilai IC50 sebesar 0,011 dan 0,01 碌g/mL yang termasuk dalam kategori strong active. Hasil identifikasi dengan KLT dari subfraksi ETA.11.1 dan ETA.11.2 menunjukkan adanya kandungan senyawa golongan fenolik dan flavonoid yang terlihat dari adanya spot berwarna kuning. Senyawa fenolik dan flavonoid tersebut berpotensi memiliki aktivitas sebagai antimalaria.
Sebagai contoh dari genus Moraceae, Artocarpus chempeden atau dikenal dengan nama daerah cempedak, dilaporkan mengandung senyawa flavonoid artokarpon A yang mampu menghambat pertumbuhan Plasmodium falciparum galur 3D7. Flavonoid lainnya diisolasi dari ekstrak Erythrina fusca dan menunjukkan potensi aktivitas antimalaria terhadap P. falciparum yang resistan terhadap berbagai obat (galur K1). Berdasarkan hasil penelitian kali ini, dapat disimpulkan bahwa senyawa fenolik dan flavonoid yang berperan terhadap aktivitas antimalaria dari subfraksi daun Alectryon serratus.
Penulis: Prof. Dr. Aty Widyawaruyanti, M.Si., Apt.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Uswatun Khasanah, Alvan Febrian Shalas, Nabila Nadyaning Resti, Mia Nurdiana, Aty Widyawaruyanti. Bioassay-guided fractionation and in vitro antiplasmodial activity of ethyl acetate fractions from Alectryon serratus (Sapindaceae) leaf. Tropical Journal of Pharmaceutical Research, January 2022;21(1): 99-104.





