Burung puyuh merupakan burung liar dengan tubuh yang lebih kecil dibandingkan burung lainnya. Burung puyuh termasuk dalam genus Coturnix dan famili Phasianidae. Terdapat 45 spesies burung puyuh di seluruh dunia dan dua spesies yang umum dipelihara dan dikonsumsi di Indonesia, yaitu puyuh Jepang (Coturnix japonica) dan puyuh Bobwhites (Colinus virginianus). Nilai gizi burung puyuh hampir sama dengan ayam pedaging sehingga produksi burung puyuh terus meningkat untuk memenuhi kebutuhan protein hewani, selain cepat dipelihara, biaya pakan relatif rendah, dan menghasilkan produksi tinggi berupa daging dan telur. Karkas puyuh terdiri dari 76% daging dan 10% tulang, memiliki proporsi daging tertinggi dan proporsi tulang terendah dibandingkan dengan spesies unggas lainnya, sehingga puyuh lebih disukai oleh masyarakat.
Daging puyuh direkomendasikan bagi mereka yang harus menjalani diet rendah lemak karena mengandung lemak rendah (1,1-1,3g/100g), yang terakumulasi di antara jaringan dan kolesterol 6,8.
Puyuh termasuk dalam kelompok unggas yang rentan terhadap berbagai penyakit, salah satunya adalah kolibasilosis. Kolibasilosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Escherichia coli patogen, oleh karena itu pengobatan yang biasa diberikan adalah antibiotik. Populasi puyuh yang besar dan terus meningkat, jika antibiotik diberikan secara terus-menerus, akan berkontribusi pada resistensi antibiotik di sektor peternakan. Penggunaan antibiotik dalam peternakan merupakan kontributor serius terhadap masalah kesehatan, karena pemberian antibiotik yang tidak rasional dan dosis yang tidak tepat menyebabkan resistensi antibiotik. Resistensi antibiotik merupakan masalah kesehatan utama yang menyebabkan penurunan efektivitas pengobatan, di sisi lain Enterobacter seperti Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae memiliki enzim 尾-laktamase yang menyebabkan resistensi terhadap antibiotik 尾-laktam.
Pangan yang berasal dari hewan berpotensi menjadi faktor risiko penularan infeksi bakteri patogen ke manusia atau bersifat zoonosis. Keberadaan residu antibiotik dalam jaringan yang dapat dimakan dapat berdampak negatif bagi manusia, termasuk memicu reaksi alergi, kerusakan organ, perubahan keseimbangan mikroflora, dan munculnya strain bakteri yang resisten. Tujuan artikel tinjauan ini adalah untuk mengkaji secara komprehensif potensi puyuh sebagai reservoir bakteri penghasil ESBL dan mengkaji dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
Infeksi yang disebabkan oleh bakteri penghasil ESBL menimbulkan risiko yang jauh lebih besar bagi populasi rentan, termasuk individu dengan gangguan kekebalan tubuh, anak-anak, dan lansia. Kelompok-kelompok ini cenderung mengalami infeksi yang lebih parah, komplikasi yang lebih serius, dan respons yang kurang optimal terhadap terapi antibiotik. Pada pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS, pasien transplantasi, atau pasien yang menjalani kemoterapi, risiko infeksi ESBL meningkat karena kemampuan tubuh mereka untuk melawan patogen berkurang.
Secara keseluruhan, populasi rentan ini menghadapi beban klinis yang lebih besar akibat infeksi ESBL, sehingga membutuhkan pendekatan pencegahan dan pengobatan yang lebih agresif dan terkoordinasi. Implementasi program pengelolaan antibiotik, peningkatan surveilans infeksi, dan edukasi bagi tenaga kesehatan dan keluarga sangat penting untuk mengurangi dampak buruk infeksi ESBL pada kelompok ini. Penyebaran bakteri penghasil ESBL telah mencapai skala global, sehingga menimbulkan tantangan besar bagi sistem kesehatan baik di negara maju maupun berkembang. Penyebaran bakteri ESBL yang meluas tidak hanya melalui penularan dari manusia ke manusia di fasilitas pelayanan kesehatan atau komunitas, tetapi juga melalui jalur zoonosis, yaitu penularan antara hewan dan manusia. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa ternak dan satwa liar dapat menjadi reservoir bakteri ESBL, termasuk burung puyuh, yang merupakan sumber utama protein hewani di beberapa wilayah.
Burung puyuh sering kali dipelihara dalam jumlah besar dengan penggunaan antibiotik sebagai tindakan pencegahan atau terapi, yang dapat memicu seleksi bakteri penghasil ESBL pada populasi hewan tersebut. Sebuah penelitian oleh Salehi dan Ghanbarpour (2010) mengidentifikasi isolat Escherichia coli penghasil ESBL dari burung puyuh yang memiliki gen resistensi yang serupa dengan
isolat manusia, yang menunjukkan potensi penularan silang antara hewan dan manusia. Kontak langsung dengan burung puyuh atau konsumsi produk olahan yang terkontaminasi dapat menjadi jalur utama penularan bakteri ESBL ke manusia. Selain itu, lingkungan pertanian yang terkontaminasi limbah ternak juga menjadi sumber penyebaran bakteri resisten ke lingkungan dan akhirnya ke populasi manusia. Fenomena ini memperkuat konsep One Health yang menekankan hubungan erat antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam konteks resistensi antimikroba (AMR).
Penyebaran bakteri ESBL dari hewan ke manusia melalui jalur zoonosis berkontribusi signifikan terhadap peningkatan beban AMR secara global, sehingga mempersulit upaya pengendalian infeksi.
Selain itu, penyebaran gen resistensi ESBL melalui plasmid yang mudah ditransfer antar bakteri di berbagai habitat membuat resistensi ini menyebar dengan cepat dari populasi hewan ke manusia dan sebaliknya. Oleh karena itu, pemantauan dan pengendalian penggunaan antibiotik di sektor peternakan, termasuk puyuh, sangat penting untuk membatasi penyebaran bakteri ESBL dan memperlambat laju AMR global.
Puyuh sebagai ternak yang berpotensi menjadi reservoir bakteri penghasil ESBL harus mendapat perhatian dalam strategi pengendalian AMR. Intervensi multisektoral yang melibatkan sektor kesehatan manusia, veteriner, dan lingkungan diperlukan untuk mengurangi risiko zoonosis dan penyebaran resistensi antimikroba yang meluas. Dalam konteks peternakan puyuh, Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae adalah dua bakteri utama dari famili Enterobacteriaceae yang sering diisolasi dan diketahui menghasilkan ESBL. Kedua bakteri ini dikenal sebagai patogen oportunistik yang dapat menginfeksi manusia dan hewan, dan keberadaannya di lingkungan peternakan menjadi perhatian utama karena potensi penyebaran AMR lintas spesies.
Puyuh memiliki potensi yang signifikan sebagai reservoir bakteri penghasil ESBL, yang merupakan salah satu penyebab utama peningkatan AMR di sektor peternakan. Temuan dari berbagai literatur menunjukkan bahwa puyuh dapat membawa dan menyebarkan bakteri penghasil ESBL baik melalui kontak langsung dengan manusia maupun melalui kontaminasi lingkungan, sehingga menimbulkan risiko serius bagi kesehatan masyarakat. Mengingat terbatasnya jumlah penelitian yang secara khusus
meneliti dinamika penularan ESBL dalam sistem peternakan puyuh, diperlukan penelitian lebih lanjut. Penelitian ini harus mencakup surveilans mikrobiologi, penelusuran rantai penularan, dan evaluasi penggunaan antibiotik di peternakan puyuh. Selain itu, perlu dikembangkan alternatif pengelolaan peternakan yang lebih berkelanjutan, termasuk penerapan biosekuriti yang ketat dan penggunaan agen antimikroba non-antibiotik. Untuk mengatasi penyebaran AMR dari sektor peternakan ke populasi manusia, pendekatan One Health yang komprehensif perlu diterapkan. Hal ini termasuk memperkuat kebijakan penggunaan antibiotik di sektor veteriner, meningkatkan kesadaran masyarakat dan peternak, serta menerapkan intervensi berbasis bukti di tingkat peternakan. Tanpa upaya terpadu, keberadaan burung puyuh sebagai reservoir bakteri ESBL dapat menjadi ancaman nyata bagi efektivitas pengobatan infeksi dan keamanan kesehatan masyarakat di masa depan.
Penulis korespondensi: Prof. Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH
Informasi detail dari studi ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Ummi Rahayu, Wiwiek Tyasningsih, Freshinta J. Wibisono, Mustofa H. Effendi*, Dian A. Permatasari, John Y.H. Tang, Budiastuti Budiastuti, Aswin R. Khairullah, Riza Z. Ahmad, Saifur Rehman, Budiarto Budiarto, Bima P. Pratama, Dea A.A. Kurniasih, Ikechukwu B. Moses, Katty H.P. Riwu. The potential of quails as reservoirs for extended-spectrum 尾-lactamase (ESBL)-producing bacteria: A public health perspective. Journal of Advanced Veterinary Research. (2025) Volume 15, Issue 4, 508-513





